Terjebak Takdir Suamiku

Terjebak Takdir Suamiku
Pertahanan.


__ADS_3

"Aku akan tunangan dengan Mas Arkan."


Nadia berkata dengan mantap di ujung telepon.


Terdengar lawan bicara ditelepon berkata dengan suara terkejut. "Loh... benarkah?"


"Iya, Mba. Dua minggu lagi kami akan melaksanakan acara pertunangan."


Nadia memantapkan kembali nada bicaranya.


"Kamu sungguh-sungguh, Nad?" tanya lawan bicaranya ditelepon dengan nada sedikit tinggi. Dia berusaha meyakinkan dirinya kembali.


"Iya. Aku sungguh-sungguh, Mba...!"


"Jadi, bagaimana dengan Mas Am?"


"Kenapa dengan Mas Am?"


"Hubungan kalian?"


"Hubungan apa? Kami hanya sekedar teman. Tidak ada hubungan khusus selain sekedar teman," tukas Nadia. Dia tegas menanggapi pertanyaan dari lawan bicara.


Di ujung telepon, lawan bicara itu terdiam sesaat. Sepertinya dia memikirkan sesuatu.


Nadia menunggu.


"Cerita aku kemarin, apa tidak merubah hatimu kepada Si Arkan itu."


Sinis. Nada itu yang terdengar.


"Tidak, Mba. Belum tentu mereka seperti yang Mba Riana bayangkan. Jika mereka memang pacaran, tidak mungkin Mas Arkan mengenalkan aku dengan Daniel. Jika memang seperti yang Mba bayangkan, Mas Arkan pasti akan menyembunyikan Daniel dariku," jelas Nadia. Dia berusaha mengutarakan pendapatnya dengan tegas.


"Ya sudah kalau seperti itu. Itu keputusanmu."

__ADS_1


Suara lawan bicaranya sedikit mengecil. Tersirat nada kekecewaan dari suara itu.


"Okelah, Nad. Aku ada pekerjaan yang lain. Sudah ya...."


"Oke, Mba."


Nadia menjauhkan telepon dari telinga kanan dan menekan menu berwarna merah.


Setelah Isya, Riana menelepon Nadia. Perempuan yang bersahabat cukup lama dengannya membahas kembali cerita yang kemarin.


Saat ini, pikiran Nadia sudah kembali jernih. Dia berusaha memblokir pikirannya agar tidak terpengaruh dengan omongan Riana lagi. Dia hanya mendengarkan penjelasan Riana selama 15 menit. Tentu saja selama itu, Riana hanya menjelek-jelekkan Arkan.


Akhirnya, Nadia mengeluarkan kalimat yang membuat Riana terkejut. Acara pertunangan yang akan dilaksanakan dua minggu lagi membuat perempuan itu berhenti meracau dan menjelekkan calon tunangannya.


Nadia berpikir dengan jernih setelah berbicara dan berbagi cerita dengan Tisna. Kemarin mereka menceritakan tentang Arkan, hari ini juga mereka membahas hal itu kembali pada saat istirahat kerja. Nadia berusaha untuk memasukkan nasehat positif dari Tisna ke dalam otaknya dan mengunci di dalam pikirannya.


Malam hari, Riana menelepon Nadia. Sebenarnya... Nadia sudah malas untuk meladeni sahabatnya itu, tapi... akhirnya dia menanggapi juga. Dan berusaha untuk memblokir pikirannya ketika Riana berusaha untuk memasukkan hal-hal negatif tentang Arkan.


Nadia membuka chat room. Mengetikkan sesuatu.


"Mas, apa kabar Umi dan Fandi?"


Nadia menekan tombol kirim. Dia melihat layar handphone. Dilihatnya pesan bertanda tersampaikan tapi belum dibaca.


Gadis itu menekan beberapa menu, agar keluar dari aplikasi chat room. Dia berusaha bangkit dari tempat tidur. Tapi masih setengah berdiri terdengar suara pemberitahuan pesan masuk. Nadia menoleh. Membatalkan niat dari gerakan yang akan dilakukan. Dia kembali duduk dan mengambil handphone-nya.


Membuka.


"Baik. Ada apa sayang? Kok tumben tanya Umi dan Fandi?"


Nadia tersenyum ketika membaca pesan masuk itu. Dia mengetik balasan dari pesan yang masuk.


"Aku rindu dengan mereka, Mas."

__ADS_1


Mengirim.


Klentung....


"Rindu dengan Umi dan Fandi atau rindu denganku?"


"Aku rindu dengan kalian bertiga."


"Ya sudah. Hari minggu... aku akan jemput kamu dan kita ke rumahku."


"Oke, Mas. Mas Arkan sudah mau tidur?"


"Aku masih di rumah sakit, Nad. Masih ada pekerjaan yang harus dilakukan."


"Ouh, aku pikir sudah pulang dari tadi sore. Banyak yang dikerjakan, Mas?"


"Ya. Harus selesai laporan besok. Dua perawatkupun harus ikut lembur juga supaya cepat kelar."


"Okelah, Mas. Aku tak ingin mengganggu."


"Ya, kamu memang penganggu."


"Loh... Kok gitu?"


"Ya. Kamu sedang mengganggu hatiku saat ini."


"Hahahaha... sudah, Mas. Selamat lembur. Semangat ya."


"Oke. 👍🏻."


Lagi-lagi Nadia tersenyum membaca pesan terakhir. Dia meletakkan handphone di tempat tidur. Berjalan menuju pintu kamar. Dia ingin menemui Ibunya yang mungkin berada di ruang televisi.


***

__ADS_1


__ADS_2