
Arkan keluar dari kamar. Dia mensejajarkan diri dengan Ibunya. Dia tersenyum. Ibunya juga dalam kondisi hati yang senang sepertinya. Senyum selalu terpasang di bibir. Arkan merangkul pundak Ibunya yang lebih pendek dari dirinya. Mereka keluar dari kamar, menuju ruang makan. Tapi mereka harus melewati bagian depan ruang tamu terlebih dahulu untuk ke ruangan yang ingin mereka tuju.
Ibu Arkan yang memakai baju gamis panjang tapi tak sampai menyeret ke lantai, berjalan perlahan.
"Ada Nadia, Mi. Dia sudah di ruang makan. Kita makan bareng sama Nadia ya?" tawar Arkan dengan lembut.
"Nadia...? Siapa...?"
Wanita tua yang sedang berjalan perlahan memicingkan sedikit matanya. Berusaha mengingat nama yang disebutkan Arkan.
"Calon tunangan Arkan, Mi," jelas Arkan pelan.
"Ouh... namanya Nadia. Umi lupa."
Wanita itu tertawa kecil.
Ketika mereka muncul di balik dinding dan akan memasuki ruang makan, Nadia menoleh ke belakang karena dia mendengar pergerakan dari langkah kaki yang punya rumah.
Nadia langsung bangkit dari duduknya, berjalan beberapa langkah dan menyalami wanita tua itu.
"Umi, apa kabar?" tanya Nadia sopan. Dia mencium tangan calon mertuanya.
"Alhamdulillah, baik... kamu sudah lama di sini? Umi tadi sholat zhuhur di kamar, jadi ndak tau kalau kamu ada di sini," jelasnya. Langkahnya terhenti karena Nadia menyalaminya.
"Baru saja, Mi. Mungkin lima belas menit."
Nadia sedikit menunduk ketika mengatakan kalimat itu.
"Ayo... kita makan bareng?" tawar Arkan sembari menggiring Ibunya ke meja makan. Mereka harus melangkah sekitar enam langkah untuk mencapai meja makan yang sedikit mewah penampilannya.
Ibu Arkan berjalan, mengikuti giringan Arkan. Lelaki itu menggiring Ibunya menuju kursi makan yang berada di sebelah Nadia duduk sebelumnya.
Nadia mengikuti mereka dari belakang. Ketika calon mertuanya duduk di samping bangku yang akan didudukinya, Nadia sedikit canggung untuk duduk.
Arkan melihat ke arah Nadia sambil menggeser kursi yang akan diduduki Ibunya. Arkan mengangguk dan alis matanya bergerak sedikit menurun memberi kode. Kode itu seolah-olah tanda perintah kepada Nadia untuk tetap duduk di samping Ibunya dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja jika duduk di samping di kursi itu.
Nadia menangkap kode Arkan dengan baik. Nadiapun berusaha menghilangkan kecanggungan dan duduk perlahan.
Setelah membimbing Ibunya di kursi meja makan dan telah mantap posisi wanita itu untuk duduk, Arkan memutari meja makan dan duduk di samping Fandi yang sedang asyik menikmati makan siang.
"Lah... Fandi udah di sini," nyata wanita tua itu dibarengi dengan senyuman.
Fandi hanya menatap wanita itu dan sedikit tersenyum. Dia kembali melanjutkan kegiatannya.
"Ayo, Nak, dimakan. Makan bareng kita ya?" tawar wanita itu.
__ADS_1
Arkan segera mengambil piring yang tertumpuk di sebelah kanan dan langsung menyendok beberapa nasi dan memindahkannya ke piring.
"Segini cukup, Mi?" tanya Arkan.
"Kebanyakan... kurangi sedikit."
Arkan melakukan sesuai perintah.
"Ada sop kesukaan Umi nih, dibuat sama Bi Minah. Mau kan?" tanya Arkan. Dia masih memegang piring tapi sudah berisi nasi. Wajahnya menatap ke wanita tua itu. Menunggu.
Wanita tua itu mengangguk.
Arkan melaksanakan gerakan selanjutnya. Mengambil dan mengisi piring untuk Ibunya dengan makanan kesukaan wanita itu.
"Ayam sambalnya ndak pedas kok, Mi. Umi bisa makan. Mau ya?" tanya Arkan. Dia tahu selera Ibunya, karena itulah dia menyatakan kondisi dari lauk yang sudah ada di meja makan.
Ibunya mengangguk untuk kedua kali.
Arkan kemudian meletakkan piring di hadapan Ibunya. Dia harus berdiri ketika melakukan itu. Arkan menyunggingkan senyum kecil. Kemudian dia menoleh ke arah Nadia.
"Ayo Nad... kita makan...." tawarnya lembut.
Nadia yang terpaku melihat aksi Arkan meladeni Ibunya, tersadar. Gadis itu benar - benar kagum dengan lelaki yang akan menikah dengannya. Sangat perduli. Penyayang dan ah...
"Mengapa kamu begitu sempurna, Mas...," batin Nadia.
"Jangan sungkan... anggap saja rumah sendiri." Calon mertuanya berkata dengan pelan dan tersenyum.
Nadia mengangguk. Dia berusaha untuk menyesuaikan diri. Di piringnya sudah ada setumpuk nasi. Tak banyak. Dia memang tidak terlalu banyak makan. Lalu mengambil lauk pauk dan menggabungkan ke dalam piring batu berwarna putih susu. Menemani nasi yang akan dia makan.
"Kata Bunda, aku boleh tinggal dengan Om kalau sudah menikah nanti."
Tiba-tiba Fandi menyeletuk.
Nadia terbatuk kecil. Untung saja sebutir nasi tidak masuk ke rongga pernafasannya. Dia memang belum mulai memasukkan makanan sedikitpun.
"Benerkah?"
Arkan mengekspresikan kata itu dengan wajah yang sumringah.
Nadia tahu ekspresi itu menggoda dirinya. Dia tak ingin melihat wajah Arkan. Malu.
"Nanti, Bunda tinggal di sini kok, dengan kita, kalau sudah menikah dengan Om," nyata Arkan menjelaskan ke arah Fandi.
"Ouh. Tinggal di sini ya Om. Aku pikir pindah ke rumah lain. Rumah Om yang satu lagi." Suara Fandi begitu menggemaskan.
__ADS_1
"Ndak. Kita semua akan tinggal di sini. Berempat."
"Berlima dong, Om, kalau nanti ada dedek bayi."
Fandi seolah-olah membenarkan omongan Arkan yang salah.
Nadia kembali terbatuk. Dengan cepat dia mengambil gelas dan meminum air putih di hadapannya.
Arkan mengeluh kepala Fandi dengan lembut.
Ibu Arkan tersenyum. Dan berkata, "Fandi... makanannya dihabiskan terlebih dahulu. Baru bicara."
Wanita itu sengaja mengalihkan pembicaraan karena iba melihat tingkah calon menantunya yang kewalahan mendengar omongan cucu laki-lakinya yang bijak.
"Iya, Eyang."
Fandi meneruskan makannya.
"Minggu depan, kan... acara pertunangan kalian?" tanya Ibu Arkan.
"Iya, Mi...."
"Gimana persiapannya?" tanya wanita itu. Dia sambil menyendokkan nasi ke dalam mulutnya secara perlahan. Wajahnya berpaling ke Nadia
"Alhamdulillah... persiapan sudah matang. Mudah - mudahan berjalan dengan lancar."
"Persiapan kita gimana, Arkan?" tanya wanita itu ke Arkan. Dia menatap ke arah anak laki-lakinya saat ini.
"Sudah, Mi. Semua sudah siap. Hari minggu kita tinggal berangkat saja."
"Mudah-mudahan semuanya lancar."
"Aamin."
Arkan dan Nadia menjawab hampir bersamaan. Mereka berdua bertemu pandang dan tersenyum.
"Tunangan itu apa sih, Om?"
Fandi bertanya kembali secara tiba-tiba. Dia melihat Arkan dengan wajah yang sangat serius.
Nadia tertawa melihat kelakuan anak laki-laki ini.
Ibu Arkan hanya tersenyum. Dia memang sudah tahu karakter cucunya yang pintar.
Arkan menjelaskan secara berhati-hati tapi sangat tepat didengar oleh anak kecil. Laki-laki itu sangat pintar memilih kata dan terangkai menjadi kalimat. Yang terpenting adalah anak laki-laki yang masih berumur 9 tahun itu mengerti dengan apa yang dibicarakan Arkan. Nadia melihat Fandi sangat pintar dan di tangan Arkan, kepintaran anak laki-laki ini semakin bertambah.
__ADS_1
Mereka bercengkrama di ruang makan yang tidak terlalu luas. Ibu Arkan lebih sering menceritakan kisah masa kecil anak - anaknya pada saat ini. Nadia mendengarkan dengan baik. Wajar jika Arkan terlihat hampir sempurna, ternyata laki-laki yang akan menjadi imamnya dibesarkan oleh seorang makhluk setengah dewi.
***