Terjebak Takdir Suamiku

Terjebak Takdir Suamiku
Makan Siang?


__ADS_3

Tok... tok... tok...


"Ya. Masuk...."


Nadia masih menundukkan kepala, menulis beberapa kalimat di atas selembar kertas yang ada di meja. Matanya fokus ke tulisan ketika mengatakan kalimat mempersilahkan tadi.


Terdengar suara pintu terbuka.


"Pasien selanjutnya ya, Bu Tisna?"


Dokter umum yang masih fokus dengan kerjaannya, tidak mengangkat kepala sedikitpun. Pandangannya tetap ke kertas dan terus menulis di benda putih di atas meja praktek. Dia melontarkan kalimat pertanyaan tanpa melihat ke perawat yang tak lain adalah Tisna. Dia tahu pasti kalau yang mengetuk tadi adalah perawatnya. Dia hapal ketukan itu.


"Ada tamu, Bu dokter. Tapi bukan pasien...."


Tisna berbicara sedikit pelan. Dia menyunggingkan senyum kecil. Kedua pundak sedikit naik ketika mengucapkan kalimat terakhir.


"Lantas...."


Tangan Nadia masih sibuk menggoreskan pena ke kertas putih. Kepala belum juga terangkat.


"Saya yang datang, Bu dokter."


Suara yang keluar adalah suara yang berat dari seorang berjenis kelamin laki - laki. Pria yang memakai baju mewah maron dengan kerah dan kedua lengan berwarna putih, terlihat berdiri dengan indah di ambang pintu. Sosoknya terlihat jelas ketika perawat di sampingnya membuka pintu selebar mungkin.


"Mas Arkan...!"


Terdengar pekikan dari gadis yang dipanggil Bu Dokter oleh Tisna. Dia mengangkat kepala dan langsung berdiri dengan sigap. Nadia terkejut. Kursi yang dia duduki terdorong ke belakang.


Braaak...


Kursi hitam menabrak lemari di belakang. Suara benturan terdengar sangat keras karena dorongan yang tiba-tiba dari kaki Sang Gadis.


"Oh."


Nadia melihat ke belakang dan berlari tergopoh mengejar kursi yang dia duduki sebelumnya.


Tisna tergelak secara spontan. Dia merasa lucu dengan gelagat Nadia ketika melihat satu sosok malaikat tak bersayap yang berdiri di sampingnya. Di detik berikutnya, Tisna melirik dengan ekor mata ke arah pria yang lebih tinggi jauh daripada dirinya. Dan... dia melihat wajah pria itu biasa saja. Datar. Tak ada senyum. Tak ada tawa. Bahkan tak ada ekspresi sama sekali. Hanya memasang wajah datar memandang lurus ke depan, melihat gadis yang ditegur dengan panggilan Bu Dokter.


"Apa yang dilakukannya di sini?"


Nadia dengan cepat menarik kembali kursi hitam yang beroda mendekati meja praktek dengan setengah membungkuk. Lalu berdiri kembali di belakang meja praktek, menatap dua makhluk yang berada di ambang pintu. Kaku. Dia tak tahu harus memposisikan wajahnya dengan mimik apa.

__ADS_1


Tisna mengerutkan dahi dan sengaja menunjukkan kerutan itu ke arah Nadia.


"Silahkan masuk, Mas Dokter... Eh, maksud saya Pak Dokter."


Nadia ingin sekali menarik rambut temannya yang bertingkah genit pada saat itu. Tapi Dia masih berdiri terpaku. Merasa terkejut dengan kehadiran Arkan, ditambah lagi dengan kejadian kursi hitam, membuatnya semakin salah tingkah. Entah apa yang mau dilakukannya. Dia bingung.


"Terima kasih, Mba," jawab Arkan santai. Dia melangkahkan kakinya yang panjang ke sofa yang berada di sebelah kanan ruangan. Sofa itu tak jauh dari pintu masuk.


Tentu saja, Tisna mengikutinya dan duduk bersebrangan dengan dokter muda yang bertitel spesialis anak.


"Apa yang harus aku lakukan?" 


Nadia masih berdiri terpaku. Tapi matanya bergerak mengikuti gerakan Arkan dan Tisna sampai ke sofa yang diduduki oleh Sang Dokter Spesialis.


"Apa waktu saya kurang tepat untuk berkunjung siang ini?"


Tiba-tiba Arkan berkata dengan tenang. Melihat ke arah Nadia yang berdiri terpaku. Dia menyilangkan kakinya yang panjang. Menempelkan punggung ke sofa. Mode santai terpasang ditubuhnya.


"Oh, tidak... Pak Dokter tidak mengganggu Bu Dokter kok."


Tisna menyambar pertanyaan Arkan dengan jawaban cepat seperti kilat di siang bolong. Perawat yang menggeliatkan badan ketika melontarkan jawaban itu, juga sedang duduk dengan menyilangkan kaki. Tapi kedua tangannya tidak sesantai pria yang berada di serang,. Hanya terpisah meja sofa dengan dirinya.


Nadia langsung merubah mimik wajahnya menjadi datar, ketika bertemu pandang dengan Arkan. Matanya sesekali melihat ke bawah.


"Oke. Mungkin saat yang tidak tepat untuk mengajak dr. Nadia makan siang hari ini."


Arkan berdiri. Melangkah menuju pintu keluar.


Tisna terpelongok. Masih duduk tapi kakinya tak bersilang lagi. Dia menoleh ke arah Nadia.


Nadia masih diam. Terpaku.


"Saya kembali ke tempat kerja sekarang. Terima kasih atas sambutannya yang hangat."


Arkan menoleh dan tersenyum kepada Tisna.


"****** aku."


Tisna memegangi dada. Seakan jantungnya ingin mencelat. Lalu dia menoleh ke arah Nadia kembali. Perawat yang sedang duduk di sofa memberi kode dengan kedipan mata ke arah temannya.


Nadia tak melihat kode dari Tisna.

__ADS_1


Arkan berjalan menuju pintu, lalu sedikit membalikkan badannya ketika berada di ambang pintu keluar.


"See you, Bu Dokter."


Pria yang tinggi dan putih, melambaikan tangan ke arah Nadia. Kemudian melangkah dengan cepat keluar ruangan dan berjalan di lorong. Terdengar suara hentakan sepatu yang berirama dengan ketukan santai.


"Apa-apaan, Nad...!


Tisna memekik.


Nadia menghembuskan nafas yang tertahan dan berlari menuju pintu keluar dan mengintip setelah sampai di ambang pintu.


"Makan siang? Apakah aku harus memanggilnya untuk kembali? Ah... tidak, aku harus jaga image."


Tisna berdiri dan berlari mendekati Nadia.


"Panggil, Nad. Panggil...!" perintah perawat itu. Dia mengguncang tubuh Nadia, seakan - akan Nadia bakal kehilangan sesuatu dan tak akan kembali lagi, jika temannya tak melakukan perintahnya.


Nadia menggeleng. Punggungnya sekarang bersandar di daun pintu yang terbuka. Dia bertahan dengan prinsipnya. Jaga image.


"Kalau kamu tidak mau, aku yang akan memanggil dokter tampan itu."


Tisna bergerak ke ambang pintu dan bersiap untuk meneriakkan satu kata memanggil.


Dengan cepat, Nadia merangkul tubuh Tisna dari belakang dan membekap mulutnya. Menarik mundur perawat yang genit ke dalam ruangan dengan bersusah payah. Menggeser bagian bawah daun pintu dengan kaki kanan, lalu menendang daun pintu berwarna putih dengan kekuatan penuh yang tersalurkan di kaki sehingga pintu itu tertutup dan berdentam.


Tisna menjerit mengucapkan satu kata. Tapi kata itu tidak jelas karena tangan Nadia begitu erat membekapnya. Dia menjerit berulang-ulang. Bekapan tangan Nadia sangat rapat sehingga suara itu tertahan di tangannya. Saat ini, mereka seperti bermain penculik dan korban penculikan di ruangan kerja dr. Nadia. Nadia berusaha keras membawa tubuh Tisna yang berisi menuju sofa berwarna coklat di ruangan praktek, siang itu.


***


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2