
Arkan menjemput Nadia sore ini. Mereka langsung pulang karena Arkan ada kegiatan yang harus dikejarnya setelah maghrib. Mereka tidak mampir di Cafe atau rumah makan untuk membicarakan soal pertunangan. Arkan dan Nadia berdiskusi di mobil sembari kendaraan itu mengantarkan Nadia ke rumahnya.
"Jadi... Mas, dari pihak keluarga aku, menawarkan... 2 minggu dari sekarang kita sudah bisa melaksanakan acara pertunangan. Kira-kira gimana, Mas? Dari keluarga Mas Arkan, Gimana?" tanya Nadia. Nadia duduk di kursi penumpang bagian depan. Dia sedikit cemas ketika mengatakan hal itu kepada lelaki yang sedang menyetir mobil.
"Boleh. Keluarga aku setuju saja sih. Umi juga sudah aku beritahu. Kakakku juga sudah diberitahu jika aku akan mengadakan acara pertunangan. Dan mereka menunggu tanggal yang akan ditetapkan."
Arkan berbicara dengan serius sambil fokus menyetir mobil.
"Oke kalau begitu. Berarti tanggal untuk pertunangan sudah tidak ada masalah. Jadi tawaran dari kami tidak berubah."
Nadia tersenyum gembira. Ternyata tak sepelik yang dibayangkannya. Dia berpikir bahwa ada hambatan dari keluar Arkan jika keputusan berasal dari keluarga Nadia dan susah menemukan titik temu.
"Ya. Trus... kalau pendapatku, tidak usah terlalu banyak undangan, Nad. Keluarga saja. Dari keluargaku dan keluarga kalian. Jadi tidak repot. Untuk urusan keluarga jauh atau teman, diundang ketika acara pernikahan saja."
Arkan menyatakan pendapatnya.
"Iya, Mas. Aku juga berpikir seperti itu."
"Hal-hal yang berhubungan dengan pernikahan, nanti akan dibicarakan secara musyawarah antar kedua keluarga," ujar Arkan.
"Iya, Mas. Biarlah urusan penentuan hari pernikahan ditentukan oleh orang tua kita."
"Ya," jawab Arkan singkat.
"Setelah dari ngantar aku, Mas mau balik lagi ke kantor?" tanya Nadia.
"Tidak... aku dan Daniel akan pergi ke Pusat Perbelanjaan," jawab Arkan santai.
"Mau beli apa? Keperluan kantor?"
"Tidak... urusan pribadi. Daniel ingin meminta pendapatku tentang kado yang akan dibeli untuk pacarnya. Pacarnya ulang tahun, minggu depan."
Arkan menuturkan kalimat itu dengan santai. Matanya fokus ke arah depan.
"Daniel sudah punya pacar, Mas? Tinggal dimana pacarnya?" tanya Nadia ingin sedikit tahu mengenai kehidupan pribadi asisten Arkan.
"Sudah. Tinggal di Solo juga."
Arkan tersenyum kecil ketika mengatakan kalimat itu.
"Oh, Mas kenal dengan pacar Daniel?"
__ADS_1
"Kenal. Sejak kami dekat, yang sekarang ini, pacar Daniel yang ketiga. Dan aku mengenal semua pacarnya."
"Wah... hebat dong. Jadi... aku ini pacar Mas Arkan yang ke berapa?" tanya Nadia sedikit menyelidiki. Dia menoleh ke Arkan. Menunggu jawaban.
"Siapa bilang kamu pacar aku?" ketus Arkan.
Nadia terdiam. Terpaku. Dia tak menyangka Arkan berbicara seperti itu dengan nada yang ketus. Muka Nadia terlihat tegang.
"Kamu tuh calon istri, bukan pacar. Nda ada tuh di kamus aku yang namanya pacaran."
Arkan menjelaskan dengan lembut. Dia sedikit menoleh ke Nadia. Matanya melihat dengan jelas wajah Nadia yang tegang ketika kalimat yang ketus diucapkan ke arah Nadia. Tapi setelah kalimat berikutnya dilontarkan, wajah gadis itu dilihatnya kembali ceria. Arkan melihat Nadia memalingkan mukanya ke samping. Pura-pura melihat keluar jendela mobil, tapi sebenarnya dia menyembunyikan rasa malu. Arkan bisa membaca gelagat gadis yang masih berpakaian seragam kerja.
Bagi Nadia, dia tidak mempermasalhakan Arkan yang pergi dengan Daniel. Toh dia juga punya kehidupan lain sebelum ketemu dengannya. Dan Arkan juga jujur kepadanya tentang kegiatan yang akan dilakukan dengan asisten perawat. Tak masalah baginya.
Arkan melarikan mobil dengan kecepatan standart. Sebentar lagi akan sampai ke rumah Nadia. Setelah itu, dia akan menjemput Daniel di rumah kostnya dan pergi bersama sesuai janji.
***
"Yang mana menurut, Mas Arkan? Merah hati atau warna hitam?" tanya Daniel. Dia menunjukkan kedua tas dengan jenis yang sama tapi berbeda warna. Wajah Daniel yang putih dan bersih sangat berseri. Dia sedikit mengupas senyum di bibirnya.
"Aku suka yang hitam, tapi menurut aku, pacarmu pasti suka tas yang satu lagi," jawab Arkan santai. Dia berdiri di hadapan Daniel.
"Ya sudah, aku ambil yang merah hati. Ayo, Mas... kita ke kasir," ajak Daniel.
Arkan melihat-lihat beberapa tas sandang di sampingnya.
Daniel berdiri terpaku. Diam.
Arkan sedang melihat beberapa tas yang berada di sekitarnya. Namun di menit berikutnya, Arkan melihat ke arah laki-laki yang memakai baju kaos berwarna hitam. Laki-laki ini sangat cocok memakai baju model apapun. Arkan menatap Daniel yang terpaku diam.
"Ada apa?"
Daniel tersenyum kecil. "Mas Arkan, temeni aku dong ke kasir," ucapnya tegas tapi ada nada sedikit manja di kalimat yang dilontarkan.
"Sudahlah Niel. Sampai kapan kamu mau seperti ini. Kamu harus belajar untuk percaya diri dalam segala hal. Masa'an bayar barang ke kasir doang, harus Mas juga yang diandalkan."
Arkan tak menoleh Daniel. Dia sengaja melihat ke arah tas yang sedang dipegangnya.
Daniel terdiam tidak menjawab. Berdiri terpaku.
Arkan sudah kenal akan karakter Daniel. Lelaki yang berusia 5 tahun dibawahnya, tidak memiliki percaya diri yang besar. Dia sangat pemalu jika harus berhadapan dengan orang baru. Juga dengan hal - hal yang berhubungan dengan sistem yang harus banyak berinteraksi dengan orang lain. Susah bagi dirinya untuk berkomunikasi dan berbasa-basi dengan manusia lain. Arkan tahu betul karakter lelaki yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri.
__ADS_1
Gerakan Arkan terhenti. Tas yang dipajang, dipegang olehnya. Dia menatap Daniel.
"Mas, tolong dong. Mas Arkan kan bisa nanyain sama kasir nantinya tentang diskon barang ini.. Mas ndak kasian sama aku. Aku bisa keringat dingin loh...."
Daniel meminta dengan serius.
Arkan meletakkan tas yang sedang dipegang ke tempat semula. Dia berbalik, berjalan melangkah, menjauh dari Daniel. Bukan malah mendekati Daniel. Bibirnya tersenyum. Dia sepertinya sengaja menggoda laki-laki tampan itu.
"Udah deh.... "
Daniel melangkah dengan cepat. Terdengar ketukan sepatu yang dikenakan Daniel berbenturan di lantai berada cepat pula. Dia menarik tangan Arkan secara paksa.
Arkan terhentak akibat tarikan tangan Daniel. Dia terpaksa berbalik menghadap Daniel. Tapi dia tertawa kecil. Tidak Marah.
"Ayo... tolong aku. Aku enggak nyuruh Mas Arkan bayarin barang ini, aku cuma minta tolong bicara sama kasir dan minta diskon dari barang ini. Please...."
Daniel meminta dengan memasang wajah sendu. Mereka berdiri berhadapan.
"Aneh ya. Tampang kamu yang tampan ini, bisa menggoda siapa saja, termasuk lelaki. Tapi... kenapa kamu ndak bisa percaya diri. Dimana-mana... orang yang bertampang seperti kamu... kebanyakan playboy dan pasti senang dong ngadapin kasir cantik di pusat perbelanjaan seperti ini," jelas Arkan dengan wajah serius.
"Sudah, Mas. Aku ndak butuh ceramahmu sekarang ini. Aku butuh tampang Mas dan keahlian Mas berbicara untuk mendapatkan diskon barang ini."
Daniel kembali menarik tangan Arkan. Tangan kanannya mengenggam pergelangan tangan patner kerjanya. Dia berjalan ke depan dan menuntun Arkan menuju kasir.
Arkan diam dan mengikuti alur kemana Daniel membawanya pergi. Tapi dia masih tersenyum kecil.
Setelah beberapa langkah, Daniel berhenti tak jauh dari kasir. Tentu saja langkah laki-laki yang ditarik olehnya juga terhenti. Dia berbalik ke belakang, memandang Arkan.
"Nih...."
Daniel memberikan tas yang akan dibayar oleh Arkan. Mengeluarkan dompet dari kantung celana belakang dan menarik satu kartu untuk dipergunakan sebagai alat pembayaran ketika dompet itu sudah membuka. "Nah... Mas Arkan tau PINnya kan?" Daniel memberikan kartu debit.
Arkan mengambil tas dan kartu debit berwarna biru. "Sampai kapan kamu mau seperti ini terus. Usia kamu sudah 25. Masa'an kayak anak SMA."
Arkan berujar dengan sedikit merapatkan giginya. Suaranya yang keluar ketika mengucapkan kalimat itu sedikit bernada geram. Tangan kanan yang memegang kartu debit mendarat di kepala Daniel dan mengusap rambut di kepala laki-laki muda itu beberapa kali. Kemudian Arkan dengan cepat beranjak ke arah kasir yang berada di depan mereka. Meja kasir berjarak sekitar 6 langkah dari tempat mereka berdiri.
Daniel tersenyum. Dia berbalik dan memperhatikan Arkan yang berjalan menuju kasir. Lelaki yang berumur 5 tahun di atasnya sudah sering menjadi Dewa Penolong bagi dirinya.
Daniel menunggu di tempat dia berdiri sambil memainkan handphone yang sebelumnya diambil dari kantong celana bagian depan. Dia tenang. Karena dia tahu, Arkan akan mengeluarkan jurusnya dalam berinteraksi dengan kasir dan pasti akan mendapatkan diskon untuk barang itu. Banyak cara yang bisa dilakukan Arkan karena dia sangat pintar dalam hal ini.
Di sudut meja kasir, terpisah tiga baris dari antrian tempat Arkan berdiri. Sepasang mata melihat gelagat mereka dari awal sampai akhir ketika mereka berdebat siapa yang akan maju ke meja kasir. Dia menatap kedua lelaki muda itu dengan tatapan sinis.
__ADS_1
***