
"Calon suaminya duda ya?" bisik wanita yang menggunakan jilbab berwarna biru. Wanita itu masih ada hubungan saudara dekat dengan Nadia. Dia berbisik ke arah Nadin, kakak Nadia.
"Ndak Bu De, masih lajang kok," jawab Nadin seadanya. Nadin sebenarnya merasa risih dengan kakak dari ibunya ini.
"Jadi, anak itu siapa? Bukankah itu anak calon suami Nadia?"
Masih penasaran dengan anak kecil yang dipangku Arkan.
"Itu ponakannya, Bu De."
"Kok sama ponakan bisa sedekat itu? Mana Ibu dan ayah ponakannya?"
Wanita yang berbadan gemuk sesekali memperbaiki jilbabnya. Dia masih penasaran dengan anak kecil yang dipangku Arkan.
"Ibunya tuh kakak kandung Arkan. Sudah meninggal. Ayahnya kerja berlayar, jadi ponakannya tinggal dengan Arkan sekarang ini," jelas Nadin. Dia menahan rasa sabar di dalam hati.
"Loh... kok ndak ikut ayahnya saja?"
Mulutnya sedikit keriting ketika mengatakan kalimat itu.
"Ayah anak itu kan kerja berlayar. Ndak mungkin anaknya dibawa terus... ikut kerja juga?"
Kesabaran Nadin masih bisa ditahan di dada. Di kalimat terakhir suara Nadin sedikit meninggi.
__ADS_1
"Trus... nanti anak itu tinggal dengan Nadia kalau sudah berumah tangga?"
Matanya sedikit mendelik ketika bertanya dengan Nadin.
"Ya, ndak tau...!"
"Kamu bilangin sama Nadia, kalau anak kecil itu tinggal dengan Nadia ketika berumah tangga, repot jadinya. Berarti Nadia seperti nikah dengan duda dong. Pasti repot Si Nadia ngurusin anak orang lain. Lebih baik ngurusin anak sendiri," omelnya.
"Lebih repot lagi kalau hidup kita suka ngurusin hidup orang lain, Bu De. Dapat gelar S4 dong," sindir Nadin.
"S4? Wong aku SMP ndak tamat. Kok dapat gelar S4? Opo iku?"
"Susah ngeliat orang senang. Senang ngeliat orang susah," ketus Nadin.
"Yo jelas. Wong Bu De udah tiga kali nikah. Pasti udah banyak pengalaman," tawa Nadin menyindir.
"Anak zaman sekarang, dinasehati kok malah ngeyel," omelnya lagi. Wanita yang telah duduk di samping Nadin dari mulai acara berlangsung sampai selesai, membalikkan badannya untuk berbicara dengan orang yang berada di belakang.
Nadin tersenyum penuh kemenangan. Beberapa menit Nadin masih duduk di posisi yang sama karena menunggu keluarga Arkan yang akan menikmati hidangan secara prasmanan. Dia mendengar wanita yang dipanggil dengan tutur Bu De bercerita tentang Pak Lurah dan selingkuhannya. Nadin hanya bisa menggelengkan kepala.
"Kok ya ndak ingat aib sendiri, malah ngomongin aib orang lain."
"Kak...! Dipanggil Mama...."
__ADS_1
Nadin mendengar Nadia menjerit memanggilnya dan memberikan kode dengan menunjuk Ibu mereka di samping meja makanan.
Nadin segera bergerak dengan cepat.
***
Nadia duduk tak jauh dari Arkan yang sedang menikmati makanan. Gadis yang sedang berbincang dengan keluarganya, sesekali melirik ke arah Arkan. Tapi fokusnya bukan ke lelaki yang sudah menjadi tunangannya. Tapi fokus ke arah Daniel yang sedang menyulangi Fandi.
Daniel dan Fandi duduk di sebelah Arkan. Daniel, sedari tadi menyulangi anak kecil yang berumur sembilan tahun. Mereka terlihat sangat akrab. Daniel dengan penuh kasih sayang memberikan perhatian ke Fandi. Sesekali Nadia juga melihat tingkah manja Fandi ke Daniel.
Arkan yang berada di samping mereka berdua, sedang bicara dengan kakak laki-lakinya yang juga sedang menikmati makanan.
Ada sedikit perasaan cemburu di hati Nadia melihat Daniel yang begitu dekat dengan Fandi. Mengapa asisten Arkan bisa sedekat itu dengan Fandi? Berarti dia sering bertemu dengan anak kecil itu? Apakah nanti ketika menikah Nadia bisa sedekat itu dengan Fandi? Pertanyaan-pertanyaan tak pentingĀ berada di pikiran Nadia.
Terbersit kembali dalam pikirannya tentang pernyataan Riana mengenai Arkan dan Daniel. Dia berusaha membuang pikiran buruk jauh-jauh, namun suara Riana seakan melekat terus di telinga.
"Apakah benar mereka ada hubungan khusus?"
Nadia menatap Arkan yang sesekali tertawa melihat Fandi karena ulah Daniel.
"Mengapa aku melihat mereka sangat cocok? Arkan seperti seorang ayah bagi Fandi dan Daniel seperti seorang ibu bagi anak kecil itu? Ah... tidak... tidak...."
Nadia berusaha kembali menstabilkan hati. Membuang pikiran negatif yang menjalar ke otak. Dia kembali berbaur dengan obrolan ibu-ibu yang berada di samping. Secara garis besar, obrolan yang tak penting dan hanya menceritakan orang lain. Nadia hanya mendengarkan. Terkadang dia tak suka hal seperti ini, tapi terkadang juga larut dalam obrolan para ibu-ibu yang sudah pasti dalam kategori ghibah. Kebanyakan dari mereka tak sadar telah melakukan itu dan merasa lumrah dengan kelakuan mereka.
__ADS_1
***