Terjebak Takdir Suamiku

Terjebak Takdir Suamiku
Penting


__ADS_3

Arkan menjemput Nadia dari rumah sakit dr. Moewardi sore ini. Lelaki yang dikenal Nadia, genap 2 bulan ini, menelponnya tadi pagi. Arkan memberitahu ke Nadia bahwa sore akan dijemput dari tempat kerja dan pergi ke suatu tempat. Ada yang ingin dibicarakan oleh lelaki tampan itu. Karena itulah, tadi pagi Nadia menggunakan taksi online untuk pergi bekerja. Tidak membawa mobil.


Saat ini, mereka berdua duduk di restoran yang menyediakan beberapa menu masakan Jepang. Sushi yang beraneka ragam sudah ada di meja mereka saat ini.


Arkan yang mengenakan baju kemeja, mempermainkan sumpit di tangan kanan seolah-olah bingung akan memilih makanan yang mana. Sedangkan Nadia melihat menu di meja dengan kening sedikit berkerut.


"Kamu sudah ketemu dengan orang-orang yang dekat denganku... aku sengaja melakukan itu agar kamu mengerti keadaanku, Nad."


Arkan mengambil sepotong sushi yang berwarna kehijauan di lapisan luarnya dengan menggunakan sumpit. Lelaki yang mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru, sangat ahli menyapit sepotong sushi dengan menggunakan sumpit. Lelaki itu sengaja menggulung bagian lengan kemeja di tangan kanannya. Dia memilih potongan yang lebih kecil, lalu memasukkan potongan itu ke dalam mulutnya.


Nadia hanya terdiam. Kini... Gadis yang mengikat rambutnya ke belakang, menyeruput Lemon Squash Selasih dari gelas yang indah. Raut wajahnya sedang memikirkan sesuatu. Tatapan ya masih tertuju ke meja makan.


"Aku memperkenalkan Ibuku yang janda, ponakan yang aku urus dan sahabat sekaligus seseorang yang seperti adik bagiku."


Arkan melihat ke arah Nadia. Dia melihat dengan lekat gelagat dari gadis yang putih dan cantik. Matanya menatap dengan tajam.


Nadia sedikit tersenyum ketika lelaki itu menatapnya.


Lelaki yang memiliki rambut sedikit ikal, memang sudah mengenalkan Nadia dengan orang yang terpenting di dalam hidupnya. Maksud dan tujuannya adalah mereka bertiga tidak akan terpisahkan dari Arkan jika dia menikahi Nadia, nantinya. Mereka akan serumah dengan Ibunya dan Fandi serta Arkan akan terus menjaga silaturrahim dengan Daniel.


"Mas Arkan sudah berapa lama dekat dengan Daniel?"


Nadia tiba-tiba berbicara. Sepertinya dia lebih tertarik bercerita tentang perawat laki-laki yang menjadi asisten dokter spesialis anak yang berada di hadapannya saat ini. Mereka dipisahkan oleh meja berwarna coklat tua, berukuran 150 senti meter bujur sangkar.


"7 tahun."


Arkan terus menikmati makanannya. Dia tak melihat ke arah Nadia ketika melontarkan kalimat singkat itu.


"Kenal dimana, Mas?"


Nadia bertanya serius. Dia mengaduk-aduk sedotan yang ada di gelas. Kedua matanya melihat ke Arkan.


"Kami dahulu kenal di Puskesmas Bergas. Aku di tempatkan di puskesmas selama setahun, setelah mendapat gelar dokter. Daniel magang di puskesmas itu ketika dia masih kuliah," nyata Arkan.


"Setelah itu..."


Nadia penasaran dengan kelanjutan cerita. Dia duduk terpaku dan melihat ke beberapa menu makanan. Dia masih memikirkan sesuatu.


"Setahun kami berteman. Aku merasa cocok dengannya. Nyambung... dari obrolan hal serius sampai becandaan. Dia banyak belajar dariku dalam segala hal. Itu yang paling aku suka darinya. Semangatnya untuk belajar tak pernah hilang. Kami hanya 4 bulan dekat pada saat di Puskemas Bergas. Setelah itu dia kembali ke Akademi Perawat. Tapi... kami masih sering berkomunikasi dengan baik walaupun dia sudah tidak di Puskesmas Bergas," nyata Arkan. Ceritanya sedikit terpotong ketika dia mengambil potongan sushi di piring lain.


"Setelah aku kembali ke Solo dan dipanggil untuk bekerja di Rumah Sakit dr. OEN, akhirnya aku memanggil Daniel untuk dijadikan asisten pribadi."


Nadia mendengarkan cerita Arkan dengan seksama.

__ADS_1


"Daniel tinggal dimana, Mas?"


"Dia ngekost di sekitaran Rumah Sakit dr. OEN."


"Oh gitu... jadi Daniel berasal dari mana?"


"Tegal."


"Hmmm...."


"Mengapa?"


"Sepertinya dia sangat berhasil menghilangkan nada bicara Tegal yang medok...."


Nadia tersenyum ketika mengatakan itu.


"Ya... dia sangat berhasil menghilangkan itu. Katanya... harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan perkotaan. Nah... hal itu salah satu hasil dari semangat dia belajar akan hal baru. "


Arkan memperhatikan Nadia dengan seksama. Gadis yang berada di hadapannya seperti sedikit bingung.


"Kamu ndak makan?"


"Sebentar lagi, Mas."


Arkan mengangguk. Dia lanjut menikmati makanannya.


Tata letak makanan di piringnya sangat teratur. Seperti sengaja menyusun makanan di piringnya, bukan untuk dimakan tapi seakan sengaja ditata rapi untuk sekedar dilihat. Padahal... lelaki itu tidak sengaja menata nasi dan lauk di atas piring dengan rapi. Hal ini karena kebiasaan. Nadia tahu itu.


Kemudian kata pembersih juga wajib disematkan kepada lelaki ini. Ketika dia makan, tak akan ada benda atau kuah yang akan jatuh di atas meja. Apakah pada saat dia mengambil makanan dari mangkok atau piring lain. Atau makanan yang keluar dari piringnya. Tidak ada. Dia sangat berhati-hati.


Selanjutnya, disiplin dan teratur. Arkan akan mengambil makanan sesuai kemampuannya untuk menghabiskan makanan itu. Dia tidak pernah menyisakan makanan yang diambil, bukan karena dia rakus tapi dia bisa menerapkan disiplin dan mengatur makanan yang dibeli dan yang dimakan. Ketika selesai makan, maka semua makanan akan habis tak bersisa. Jika bersisa, maka dia akan bersungut dan mengatakan satu kata. Mubazir.


Nadia bisa menjelaskan semua itu secara detail, karena sudah berapa kali mereka makan berdua dan sudah bisa membaca tingkah laku dari lelaki yang sudah memikat hatinya.


"Aku tak mungkin melarang hubungan Mas Arkan dan Daniel karena kalian sudah berteman sejak lama dan terlebih dahulu mengenal dibandingkan aku. Begitu juga dengan Umi dan Fandi, aku mengerti maksud dari semuanya ketika Mas Arkan memperkenalkan mereka."


Nadia kembali menyeruput minuman yang ada di hadapannya secara perlahan.


"Ya. Mereka adalah orang yang penting di dalam hidupku. Jadi... aku juga ingin dirimu menjadi orang yang masuk ke dalam golongan orang yang penting di dalam hidupku karena itulah aku mengenalkan mereka kepadamu," jelas Arkan.


Lelaki itu melihat ke arah Nadia yang sedang terdiam. Sepertinya tingkah lakunya aneh terlihat di mata Arkan.


"Ada apa?"

__ADS_1


Arkan mengangkat alis sebelah kanan.


"Ah... ndak, Mas."


Nadia tersenyum getir.


"Ndak mungkin. Pasti ada apa-apa nih... makanannya ndak enak?"


Arkan menatap ke Nadia. Dia meletakkan sumpit yang dipegang di atas meja, di bagian yang beralas tisu.


Nadia kembali tersenyum getir.


"Kamu belum ada menyentuh makanan ini, Nad," seru Arkan.


Nadia tertunduk malu. Dia menggosok - gosokkan kedua telapak tangan di bawah meja.


"Ada apa ya?"


Arkan bertanya penasaran.


"Ayo... ngomong dong...," paksa Arkan.


"Tapi... Mas Arkan jangan ngetawain ya...."


Nadia berkata dengan malu-malu. Dia tak berani menatap Arkan.


"Iya... Ndak. Ngomong deh...."


Nadia melihat ke kiri dan ke kanan. Dia seakan tak ingin orang lain mendengar apa yang akan dikatakannya.


"Mas... ada garpu atau sendok. Aku tak bisa makan pakai sumpit."


Gadis yang putih dan memiliki hidung yang mungil, berkata sambil mendekatkam kepalanya sedikit kepada Arkan.


Arkan terbatuk. Dia segera menutup mulutnya dengan tangan kanan, setelah suara batuk --lebih tepatnya sedikit tersedak-- terdengar satu kali.


"Mas... tadi udah janji loh...."


Nadia sedikit berteriak ketika melihat gelagat lelaki di hadapannya. Dia mencubit tangan kiri Arkan yang menempel di atas meja.


Tapi Arkan tak bisa menahan tawanya. Dia berusaha menunduk ke bawah meja dan menutup mulutnya dengan rapat. Dari mulutnya masih terdengar suara yang tawa yang tertahan.


"Ya Allah... astagfirullah...."

__ADS_1


Arkan memegang perutnya dengan tangan kanan. Mulutnya tak tertutup lagi.


****


__ADS_2