Terjebak Takdir Suamiku

Terjebak Takdir Suamiku
Malam Minggu


__ADS_3

Arkan duduk di depan teras rumah yang sederhana dengan tenang. Dia menyilangkan kakinya. Kaki kiri menjadi tumpuan. Pria yang memakai baju kaos dan celana jeans, sedang memegang handphone-nya saat ini. Dia mengetik sesuatu di chat room.


"Sudah lama datang, Nak Arkan."


Arkan terkejut. Handphone yang dipegang hampir lepas dari tangan.


Tiba-tiba wanita setengah baya keluar dari ruangan membawakan minuman dan sedikit makanan ringan. Dia tersenyum melihat tingkah tamu putrinya sembari meletakkan baki yang tertata beberapa benda di atasnya.


"Oh, Tante. Baru saja, Tan."


Pria yang memiliki dada bidang, langsung berdiri dan menyalami wanita setengah baya. Dia berusaha untuk menetralisir rasa kaget yang mendera.


"Ayo, silahkan duduk. Nadia dimana ya?"


Wanita yang merupakan ibu Nadia bertanya ke arah Arkan, sembari duduk di kursi plastik berwarna merah di teras rumah.


"Katanya sedang nerima telepon sebentar di kamar, dari perawatnya, ada hal yang sangat penting harus dibicarakan," jelas Arkan. Dia berusaha memposisikan kembali tubuhnya di kursi plastik.


"Oh... Nadia memang perkerja keras di rumah begini saja masih juga mikirin pekerjaan." serunya. "Silahkan diminum, Nak Arkan."


Wanita setengah baya menunjuk ke arah beberapa benda di atas meja.


"Iya, Tan. Om mana ya, Tan?"


"Sedang istirahat, sepertinya pulang kerja tadi kecapean."


"Oh."


Arkan mengangguk, dia bingung akan memulai pembicaraan apa lagi. Dia memiliki karakter yang susah untuk berbasa-basi karena itulah banyak orang yang mengatakan kalau dirinya sombong. Tapi, sebenarnya, ketika sudah akrab dengan seseorang, maka dia adalah orang yang ramah dan paling ceria di seluruh dunia.


"Enak ya jadi dokter. Apalagi seperti Nak Arkan, sudah mapan. Jadi tinggal cari istri saja."


Wanita setengah baya itu seperti menggoda.


"Tante bisa saja. Ya, pasti ada enggak enaknya juga, Tan."


Arkan menoleh dan tersenyum kepada Ibu Nadia.


"Nak Arkan sudah punya pacar?" tanya Ibu Nadia bersungguh-sungguh.

__ADS_1


"Ma...."


Nadia memanggil dari ruang tamu. Dia berjalan menuju teras rumah. Gadis itu mendengar pertanyaan yang dilontarkan ibunya, lalu segera memanggil wanita itu dengan lembut.


"Emang kenapa kalau dr. Arkan belum punya pacar? Mama mau?" 


Seakan kalimat itu yang mau dilontarkan Nadia ke arah ibunya.


"Nah... itu Nadia. Duduk Nad. Temeni, Nak Arkan."


Dia seolah-olah ingin beranjak pergi dengan kalimat yang diucapkan. Tapi, wanita itu tetap duduk di kursi plastik berwarna merah.


Arkan menoleh ke arah Nadia. wajahnya cerah, dia terbebas dari pertanyaan wanita setengah baya yang memakai baju daster berwarna coklat.


"Nadia ini mandiri, Nak Arkan. Dia cari uang sendiri untuk biaya sekolah dan kuliah. Tante bangga sama dia. Sekarang saja, dia sudah bisa memberi ke orang tuanya. Alhamdulillah."


Ibu Nadia menjelaskan kalimat itu dengan semangat, seperti mempromosikan anaknya.


Nadia salah tingkah. Tapi di sisi lain dia tak nyaman ketika ibunya berkata demikian.


Arkan hanya tersenyum kecil.


Arkan jelas kaget ketika wanita setengah baya di hadapannya, melontarkan pertanyaan itu.


"Enggak kok, Tan. Dia lumayan cantik."


"Lumayan...?"


Nadia terdiam. Diamnya bukan hanya karena perkataan Arkan. Tapi juga diam, berusaha mencari cara agar ibunya masuk ke dalam ruangan.


"Pa, cobalah batuk sekali saja supaya Mama bisa beranjak dari sini. Please, Tuhan."


Terdengar suara batuk beberapa kali dari dalam kamar yang berada di ujung ruangan. Rumah yang tak terlalu besar, membuat suara itu terdengar jelas.


"Ya Tuhan! Doaku dikabulkan! Terima kasih...!"


Jerit Nadia di dalam hati.


"Ma, dipanggil Papa tuh...!"

__ADS_1


Ada suara anak kecil yang memanggil Ibu Nadia dari ruang tengah. Sepertinya anak kecil itu sedang menonton televisi dan terganggu dengan perintah ayahnya untuk memanggil ibunya.


"Ma, dipanggil tuh."


Nadia menyambungkan kata dari adiknya. Dia mengatakan hal itu dengan penuh semangat.


"Oh, Tante permisi dulu ya, Nak Arkan."


Ibu Nadia bergerak dan melewati Nadia yang duduk di dekat pintu.


"Maaf ya, Mas. Mama sudah terlalu banyak omong."


Nadia mengucapkan kalimat permintaan maaf dengan rasa bersalah.


"Ah... tidak apa-apa. Sudah selesai urusan dengan perawat tadi?"


Arkan membenarkan posisi duduknya. Dia masih merasa tak nyaman karena harus mencari bahan pembicaraan dengan orang yang baru dikenalnya.


"Sudah."


Tadi sore, Arkan menelepon Nadia bahwa pria yang membuat hatinya kacau beberapa hari ini akan datang ke rumah, malam ini. Malam ini adalah malam minggu yang selalu dinanti orang yang berpacaran. Karena biasanya malam minggu adalah malam yang dimiliki oleh orang-orang untuk bergembira dan kesempatan untuk menemui gebetan, bagi yang belum menikah. Entah sejak kapan kebiasaan ini terjadi. Mungkin di zaman Indonesia dijajah Belanda, kebiasaan ini belum ada.


Mendengar Arkan mengatakan hal itu, Nadia seakan tak percaya. Dia membantingkan tubuhnya di tempat tidur dan bergerak kegirangan. Kakinya mengangkat dan bergerak cepat seperti mengayuh sepeda di udara. Tentu saja pada saat itu terjadi, handphone sudah dimatikan.


Seumur hidup, hal inilah yang ditunggu olehnya. Ada seorang pria yang datang ke rumah dengan jantan dan bertemu dengan orang tuanya. Ini kali kedua Arkan datang ke rumah.


Ada satu hal lagi yang diimpikannya, impian yang sangat besar yaitu menerima lamaran Arkan jika memang pria itu benar - benar berani melakukan tindakan sakral itu.


Malam ini, nadia dan Arkan duduk di teras membicarakan hal - hal ringan. Nadia yang ramah bisa mengimbangi karakter Arkan yang masih terlalu kaku ketika bertemu dengan orang baru. Nadia banyak bercerita tentang masa kecil dan keadaan keluarga. Sedangkan Arkan belum terlalu banyak cerita tentang dirinya dan keluarga. Dia tidak memiliki karakter supel. Memang karakternya harus mengenal seseorang dengan baik, baru dia bisa menjadi lebih akrab.


Setelah 25 tahun, Nadia baru merasa bahwa sekarang dikunjungi oleh seorang laki-laki di malam minggu. Biasanya ada teman yang datang sewaktu sekolah dan kuliah, tapi tidak pernah khusus untuk mengunjunginya, mungkin hanya berkunjung dengan teman yang lain atau hanya ada keperluan sekolah atau kuliah, dulunya.


Bukan karena dia terlalu jelek, makanya tak ada lelaki yang mengunjunginya. Ada beberapa lelaki yang pernah ingin datang ke rumahnya tapi lelaki itu tidak sopan. Sangat mengganggu tidak sesuai dengan kriteria baginya. Bukan secara fisik yang dipandang oleh Nadia, tapi secara sifat dan kesopanan.


Nadia bukan tipe wanita pemilih yang super. Dia hanya berharap lelaki yang menjadi pasangannya adalah lelaki yang bisa menjadi imam untuk dirinya, kelak. Mengajarkan dirinya untuk menjadi istri dan ibu yang baik. Itu yang terpenting. Kekayaan dan ketampanan, nomor berikutnya. 2 hal itu, jika didapat, akan menjadi bonus dari Tuhan kepada dirinya.


Mereka berdua berbicara ringan mengenai masa kecil dan masa sekolah. Nadia lebih banyak bertanya dengan Arkan untuk tahu tentang masa kecil dan sekolah pria tampan itu. Arkan menjawab pertanyaan gadis yang begitu bahagia malam ini. Terlihat dari tawanya ketika Arkan sedikit bercanda.


***

__ADS_1


__ADS_2