
Dengan canggung, Nadia masuk ke dalam rumah yang lumayan besar. Setelah melalui taman depan rumah yang lumayan luas, Nadia masuk ke ruang tamu dari pintu utama.
Ruang tamu yang bercat dominan putih sangat rapi dan teratur. Ada dua set sofa di ruang tamu. Satu set sofa berwarna abu-abu dan yang satunya lagi berwarna putih bersih. Di sofa berwarna putih --di sebelah kanan ruang tamu-- telah duduk seorang wanita yang sudah berumur, sedang mengaji. Wanita yang berusia mendekati 70 tahun ini masih terlihat segar dan sehat. Wanita tua yang masih menggunakan mukena, tertunduk, membaca buku yang ada hadapannya.
Jantung Nadia berdetak sangat hebat ketika melihat satu sosok yang entah mengapa sangat ditakutinya saat ini. Bukan takut karena seram, tapi takut jika dia berbuat salah dengan sikap dan perilakunya ketika berhadapan dengan wanita ini.
"Assalamu'alaikum, Umi."
Arkan membuka kata setelah masuk ke dalam ruangan.
"Wa'alaikum salam."
Wanita yang sedang duduk dan menggunakan kaca mata mengangkat kepala dan melihat ke arah sumber suara. Dia terdiam. Dia memfokuskan pandangan. Mungkin pandangannya kurang mengenali sosok yang masuk ke dalam ruang tamu.
"Umi... ini Nadia, teman Arkan yang kemarin Arkan ceritakan ke Umi."
Arkan memperkenalkan Nadia yang berdiri di sampingnya. Mereka sudah mendekat ke arah wanita yang dipanggil Arkan dengan sebutan umi.
Wanita itu tersenyum.
"Assalamu'alaikum, Bu...."
Nadia canggung harus memanggil dengan sebutan apa. Ibu, Umi atau Nenek. Umur wanita ini hampir 2 kali lipat umur ibunya. Dia menyalami wanita itu.
"Wa'alaikum salam. Duduk...," tawar wanita itu. Dia terlihat sangat ramah.
Nadia sedikit tenang ketika melihat senyum wanita yang masih duduk di sofa berwarna putih.
"Duduk, Nad."
Arkan memilih sofa yang bersebelahan dengan ibunya sedangkan Nadia memilih sofa di samping kiri Arkan.
"Iya, Mas. Terima kasih."
Gadis yang memakai gaun kebaya berbahan brokat, duduk dengan perlahan.
"Apa kabar, Bu...?"
Nadia berusaha membuka percakapan.
__ADS_1
"Panggil Umi, Nad. Biasa orang-orang memanggil dengan sebutan Umi," nyata Arkan.
"Oh, Iya... Mas."
"Dari mana, Nduk?" tanya wanita itu ke Nadia.
"Saya dari Rumah, Umi. Rumah saya di Serenan," jawab Nadia. Dia sudah tak canggung lagi.
"Jauh, ya. Nama kamu siapa tadi?"
"Nadia, Umi... emang jauh dari Serenan ke Solo. Tapi... saya sudah biasa bolak balik ke kota karena saya bekerja di Rumah sakit dr. MOEWARDI," jelas Nadia lagi.
"Oh, dokter juga."
"Iya, Umi...."
Tiba-tiba berlari seorang anak laki-laki ke dalam ruang tamu. Anak laki-laki yang bertubuh kurus dan putih mendekati Arkan.
"Om, baru pulang ya?"
Anak laki-laki itu memeluk Arkan dari belakang. Tangannya yang kurus, melingkar di leher Arkan. Dia berdiri di punggung sofa. Terlihat manja.
Semua orang yang berada di ruangan menoleh ke arahnya.
Arkan memberi perintah kepada anak laki-laki dengan menarik tangannya ke depan dirinya.
Anak laki-laki yang memiliki rambut lurus dipotong pendek dan jigrak, bergerak sesuai tarikan tangan Arkan, lalu menyalami Nadia.
"Panggil Bunda ya, jangan Tante," pinta Nadia. Raut muka Nadia sedikit heran melihat gerak-gerik anak laki-laki yang masih duduk di bangku SD yang sangat manja dengan Arkan.
"Siapa dia?"
Anak laki-laki itu hanya mengangguk. Dia duduk di pangkuan Arkan setelah menyalami Nadia.
"Ini cucu saya. Ibunya... kakak Arkan yang pertama, sudah meninggal, jadi tinggal bersama kami. Kami cuma bertiga tinggal di rumah ini. Anak saya yang lain, sudah berumah tangga dan sudah punya rumah sendiri. Rumahnya di komplek sekitar sini juga."
Wanita tua itu berbicara dengan perlahan dan tenang. Giginya terlihat rapi dan bersih. Nadia tahu kalau wanita itu memakai gigi palsu.
"Anak Umi berapa orang?"
__ADS_1
"7. 4 laki-laki dan 3 perempuan. 2 sudah meninggal. Adik Arkan, paling kecil meninggal di usia 10 tahun. Pada saat itu, Arkan berumur 12 tahun. Iya kan, Nak?" tanya wanita itu ke Arkan.
Arkan mengangguk. Dia sedang memangku anak laki-laki tadi, saat ini.
"Ibunya Fandi meninggal 2 tahun yang lalu. Dia masih kelas 1 SD. Ayahnya di Jakarta, sudah menikah lagi, jadi dia ndak mau dibawa ke Jakarta. Maunya di sini dekat sama Arkan. Dari kecil, Fandi dan ibunya tinggal di rumah ini. Ayahnya dulu berlayar, kerja di kapal PERTAMINA, jadi memang tinggal sama Umi terus di sini setelah menikah."
"Sakit apa ibunya, Umi?"
Nadia bertanya dan mengarahkan matanya ke arah Fandi.
"Nad... Mas masuk ke dalam sebentar ya? Bawa Fandi ke kamar," potong Arkan. Dia sengaja membawa Fandi untuk masuk ke kamar karena tidak mau menyakiti perasaan anak laki-laki yang berstatus piatu itu. Terkadang ada omongan orang dewasa yang akan menyakiti perasan anak kecil.
Nadia mengangguk.
"Umi ngobrol ya sama Nadia...," pinta Arkan. Lelaki itu bangkit dari duduknya dan membimbing Fandi keluar dari ruang tamu.
Wanita tua itu hanya melihat Arkan bergerak menjauhi sofa. Lalu dia melanjutkan ceritanya ke gadis yang duduk berjarak hampir 10 jengkal.
"Fandi manja dengan Arkan. Karena sewaktu ibunya masih hiduppun, sewaktu Fandi masih kecil, sudah sering main dengan Arkan."
Nadia tersenyum.
Wanita yang sudah berumur tapi memiliki paras awet muda, bercerita dengan penuh semangat. Dia bercerita dari perjuangannya semasa ditinggal oleh suaminya dan berjuang untuk menghidupi ke tujuh anak mereka.
Nadia menggeser duduknya lebih mendekat ke ibunya Arkan. Sekarang Nadia duduk di sofa yang diduduki oleh Arkan sebelumnya. Dia ingin mendengar cerita ibu Arkan dengan jelas. Dan... wanita tua yang punya segudang perjuangan dan pengalaman hidup senang dengan respon Nadia. Mereka berdua sangat cocok dalam kondisi saat ini.
****
Nadia mendapatkan begitu banyak pelajaran dari Ibu Arkan yang sudah menjanda dari umur 38 tahun. Ibu Arkan bercerita mengenai perjuangannya mengurus anak-anak yang ditinggal oleh suaminya. Berjuang tanpa ada pertolongan dari dari saudara kandung bahkan dari saudara iparnya. Ayah lelaki yang sedang menyetir saat ini, meninggal ketika dia berumur 4 tahun.
Tak cukup hanya ditinggal dengan 7 orang anak yatim. Adik Arkan memiliki cacat fisik karena terserang polio dari kecil. Ketika meninggal di umur 10 tahun, adik Arkan tidak bisa jalan sama sekali. Lumpuh.
Perjuangan menyekolahkan anak-anaknya dengan cara berjualan di pasar, membuat dia semakin tabah dan tegar dalam menghadapi kehidupan ini. Sakit hati, air mata dan keringat yang bercucuran sudah pernah dirasakan olehnya untuk menghidupi anak-anaknya. Tanpa bantuan siapapun, tapi Tuhan membantunya karena dia ikhlas mengurus mereka.
Saat ini, ketika umurnya sudah mencapai 70 tahun, dia merasa bangga dengan perjuangannya. Nadia bisa menangkap rasa itu ketika mendengar cerita-cerita dari wanita tua yang masih tersisa gurat-gurat kecantikan di wajahnya. Dia bangga bisa menguliahi 3 orang anak laki-lakinya. Dia bangga anak perempuannya yang hanya tamat SMA, tapi juga punya usaha untuk membantu suami mereka. Dan dia bangga telah usai perjuangannya untuk membesarkan anak-anak yang semuanya baik, tak pernah ada masalah yang diperbuat oleh anak-anaknya.
Nadia juga mendengar cerita dari wanita yang dipanggil dengan sebutan Umi saat ini, tentang pertunangan Arkan yang gagal, 2 tahun yang lalu. Seseorang yang dijodohkan oleh keluarga, tapi karena salah faham yang membuat kedua keluarga bertengkar dan membatalkan pernikahan yang tinggal 6 bulan lagi. Arkan tak pernah cerita akan hal itu. Nadia baru tahu saat ini mengenai pertunangan dan anak laki-laki yang diurusnya.
Arkan... beberapa bulan dikenal oleh Nadia, sudah terlihat karakter yang sama dengan ibunya. Lelaki yang terlihat tabah dan sabar, hampir sama seperti ibunya. Lelaki yang akan menjadi suaminya. Itu harapan dia. Harapan itu semakin kuat ketika sudah bertemu dengan wanita yang berusia 70 tahun. Wanita yang baru dikenal tapi memberikan dia begitu banyak pelajaran mengenai perjuangan hidup. Hidup memang butuh perjuangan dan di sela-sela perjuangan pasti ada yang harus dikorbankan.
__ADS_1
Tak terasa, Nadia menjatuhkan setitik air mata di pipi sebelah kiri. Dengan cepat dia menghapus air mata itu agar tak terlihat oleh Arkan. Lelaki itu melajukan mobilnya dengan cepat, mengantar Nadia pulang ke rumah di malam yang rintik - rintik.
****