
"Iya, Mas. Saya baru saja pulang."
Nadia berbicara dibalik telepon. Dia sedang duduk bersandar di punggung tempat tidur. Dia berada di dalam. Kamar tidurnya.
"Mas, sudah pulang kerja?" tanya gadis itu, tentu saja masih dijalur komunikasi elektronik.
"Oh. Iya... Iya, Mas. Enak dong, siang sudah pulang, trus khan jadinya tidak diatur- atur orang lain karena punya usaha sendiri."
Gadis berambut panjang itu mengambil bantal dan meletakkan di atas pahanya. Tangan kirinya tanpa sadar memutar - mutar ujung sarung bantal yang berada di paha, berwarna merah muda.
"Enggak boleh Githu, Mas. Pamalih, Mas Am sudah dikasi rezeki sama Allah punya usaha toko buah. Harus disyukuri."
Nadia masih memutar - mutar ujung sarung bantal. Terkadang dia menariknya sesekali.
__ADS_1
"Loh, kok gitu. Kok membandingkan dengan pekerjaan aku. Kalau aku mas ya, tidak masalah nanti jika suamiku punya pekerjaan yang beda dari aku. Asal pekerjaannya itu halal."
Tangannya berhenti memelintir ujung sarung bantal itu. Dia memasang wajah serius saat ini. Dia ingin mendengarkan lawan bicaranya lebih baik karena itulah dia memberhentikan gerakan tangannya.
"Ya sudah. Kalau datang ya datang saja, mas. Kabari aku kalau mau datang. Tapi dari dulu ngomongnya mau datang ke rumah, mau kenalan dengan Bapak dan Ibuku, eh... Enggak pernah nongol tuh."
Nadia cemberut.
Belum sampai setahun dia kenal dekat dengan lelaki itu. Mereka sering berteleponan tapi tidak pernah bertemu. Urusan tak pernah bertemu, tidak dipermasalahkan oleh Nadia. Tapi dia mempermasalahkan janji laki - laki itu yang mau datang ke rumahnya tapi tidak pernah terealisasi. Nadia bukan mau dipinang tapi dia ingin lelaki itu datang ke rumah dan berkenalan dengan kedua orang tuanya.
Sejak kecil sampai remaja, bahkan sampai sekarang ini Nadia tidak pernah pacaran. Karena dia sibuk menafkahi diri sendiri dan terkadang memberikan penghasilannya kepada ibu dan adik - adiknya ketika dia sudah bekerja. Kalau dahulu dia sibuk mencari uang untuk biaya sekolah dan kuliahnya. Karena itulah, dia tidak pernah memikirkan akan dirinya yang tidak pernah pacaran.
Ayah dan ibunya tahu karakter anak gadis itu, yang sibuk mencari uang untuk biaya sekolah dan biaya kuliah. Itu dulu. Tapi setelah dia bekerja, ayahnya menyarankan untuk mencari lelaki pilihan saat ini dan cepat menikah. Karena pikiran untuk membiayai kuliah sudah tidak ada lagi.
__ADS_1
Umurnya sudah hampir 25 tahun sekarang ini, beberapa bulan lagi genaplah seperempat abad dan perkataan ayahnya terngiang di telinganya.
Lelaki yang bernama Amrun adalah lelaki pertama yang disukainya. Dia biasa berteman dengan lelaki dan perempuan, tapi sepertinya beda dengan Amrun. Dia sangat suka dengan Amrun walaupun bertemu hanya ketika dia mengunjungi rumah sahabatnya dan Amrun tentu saja ada di rumah itu. Mereka tidak pernah pergi berdua, berjalan atau makan atau nonton bioskop atau layaknya seperti orang pacaran, bahkan status Nadia dan Amrunpun bukan pacaran saat ini.
Beberapa kali lelaki itu meneleponnya dan ditanggapinya dengan sopan. Tapi sepertinya Amrun tak seperti yang diharapkan. Bukan tipe pria pemberani yang memperjuangkan orang yang dicintai.
Nadia sangat mengimpikan seorang laki - laki yang datang ke rumahnya. Berani berkata kepada ayah dan ibunya bahwa dia mencintai Nadia dan lelaki itu berjanji akan menjaga Nadia setelah menikah nanti. Hal itu yang sangat diimpikannya.
Kehidupan tidak seperti sinetron atau drama korea tapi dia yakin lelaki yang selalu diucapkan dalam setiap doanya akan datang dan mengisi hari - hari berikut bersama dirinya.
Cukup lama dia berbicara melalui telepon dengan Amrun. Seperti biasanya. Akhirnya mereka menyudahi pembicaraan itu, tentu saja dengan kalimat yang dipegang Nadia yaitu 'Mas akan datang ke rumah, nanti'. Tapi entah kapan. Saat ini Nadia tidak ingin terlalu berharap banyak dari lelaki itu.
***
__ADS_1