Terjebak Takdir Suamiku

Terjebak Takdir Suamiku
Mandiri


__ADS_3

Di keramik putih yang berlorong panjang, memiliki tiang - tiang penyanggah dari atap yang menutupi lorong itu, Nadia berjalan pelan. Dia melewati lorong yang bertiang di kiri kanannya, berjarak sekitar 1 meter setiapĀ  tiang. Tiang - tiang itu dicat berwarna abu - abu. Gadis yang memiliki kulit putih dan bertubuh ramping, sesekali menundukkan kepala pada saat dia berjalan. Tas kecil berwarna hitam yang di sandang, sesekali digeser ke arah belakang.


Gadis itu mengingat akan perjuangannya untuk masuk Fakultas Kedokteran di Universitas Sebelas Maret. Dia berusaha sekuat tenaga, setelah tamat SMA, untuk mengambil jurusan favorit di hampir setiap universitas. Mengikuti ujian seleksi masuk yang sangat ketat dan akhirnya dia lulus. Perjuangan hidup dalam babak kehidupan selanjutnya, dimulai.


Fakultas kedokteran dengan segala kerumitan dan terkenal dengan pengeluaran yang cukup besar, bisa dilalui dengan baik. Walaupun harus mengeluarkan air mata memohon kepada Tuhan di sela - sela perjalanan itu. Dia tak pernah meminta uang sepeserpun kepada kedua orang tua untuk biaya kuliah, bahkan untuk biaya fotocopy materi. Dia mencari uang itu dengan berbagai cara tapi dengan cara halal seperti mengambil ketikan makalah teman - temannya, menjual buku - buku kedokteran yang bekas dan baru kepada teman - teman atau kenalan dan mengambil terjemahan Bahasa Inggris kedokteran yang susah sekali diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Jika mahasiswa yang mau mengerjakan materi dalam Bahasa Inggris sudah merasa pusing ketika melihat tulisan itu pertama sekali, maka Nadia menjadi alternatif untuk mengerjakan pekerjaan itu.


Dia memanfaatkan segala macam peluang yang bisa dijadikan uang, tapi dengan cara halal, bukan cara yang tidak berkah.

__ADS_1


4 tahun mengikuti kuliah untuk mendapatkan gelar sarjana, ditambah 2 tahun menjadi co- asisten di tempat dia berkerja sekarang ini, membuat dia semakin percaya diri menghadapi kehidupan, karena dia sudah melalui masa - masa yang sangat sulit.


Gadis berambut panjang, hitam dan lurus itu sudah terbiasa dengan kehidupan sederhana sedari kecil. Pada saat duduk di Sekolah Dasar, dia sudah berkerja di UKM pembuatan jajanan khas solo di sebelah rumahnya. Nama jajanan itu adalah Mata Maling. Menggoreng dan membungkus jajanan yang terbuat dari kulit belinjo, sudah merupakan pekerjaan dia sehari - hari selesai pulang sekolah. Kegiatan itu dilakoninya dari kelas 5 SD sampai dia tamat SMA. Perjalanan hidup yang sudah dilalui itu membuat dia menjadi sosok yang mandiri, percaya diri dan tegar menghadapi semua rintangan di kehidupan ini. Hal itu juga membuat dia berpikir bahwa hidup ini harus dibarengi dengan kerja keras untuk mendapatkan hal yang diinginkan.


Nadia keluar dari ujung lorong dan berjalan menuju ke tempat parkir. Mobilnya berada di barisan paling kanan dari tempat parkir yang luas. Dia sedikit menundukkan kepala sambil melangkah pelan. Merogoh tas hitam kecil yang di sandang. Mencari - cari kunci mobil. Hitungan detik kunci itu sudah berada di dalam genggaman.


Gadis yang memiliki wajah tirus dan berhidung mancung itu berjalan di alas aspal beton di lapangan parkir. Tiba - tiba hatinya berdetak beberapa kali tapi sangat kuat.

__ADS_1


Dia melihat dua orang pria yang berjalan menuju mobil mereka yang terparkir tak jauh dari mobilnya. Matanya tertuju kepada satu pria yang berkulit kuning langsat, memiliki rambut sedikit ikal terpotong rapi dan mengenakan kemeja panjang berwarna biru muda berkerah putih dengan pasangan bawahan, celana bahan berwarna hitam. Pria itu terlihat tinggi di mata Nadia. Dia melihat pria yang akan masuk ke mobil sedan mercy tersenyum manis kepada temannya yang berada di sisi mobil berbeda.


"Perasaan apa ini?" lirihnya.


Langkah kaki Nadia tersekat. Berhenti dan terpaku di lapangan parkir di RS dr. Moewardi. Cahaya matahari sore sedikit menerpa ujung kakinya.


***

__ADS_1


__ADS_2