Terjebak Takdir Suamiku

Terjebak Takdir Suamiku
Pertunangan


__ADS_3

Pukul 09.00 pagi, sudah berjejer kendaraan di depan rumah Nadia. Rumah yang sengaja dicat kembali sudah terlihat ramai. Keluarga Arkan sudah keluar dari mobil dan menuju ke dalam rumah Nadia.


Arkan membawa keluarga di Hari Minggu ini, sesuai dengan jadwal acara pertunangan dirinya dan Nadia. Keluarga Nadia menyambut dengan hangat. Pertemuan kedua keluarga untuk pertama sekali terjadi di hari ini. Keluarga yang akan bersatu menjadi keluarga besar nantinya.


Arkan melangkah perlahan di samping Ibunya yang terlihat sangat sumringah. Dia merangkul bahu Ibunya. Walaupun wanita ini sudah berumur tapi masih terlihat awet muda. Di belakang mereka, ada Daniel dan Fandi. Daniel memegang tangan Fandi dan menggiring anak kecil itu berjalan sejajar dengannya. Dan beberapa anggota keluarga kandung Arkan lainnya juga sudah memasuki halaman rumah Nadia.


Keluarga yang datang berkisar tiga belas orang dewasa dan beberapa anak kecil termasuk Fandi dan beberapa ponakan Arkan yang lain. Orang tua Nadia menyambut keluarga Arkan di depan rumah. Seluruh keluarga Arkan digiring ke dalam rumah oleh Ibu dan Ayah Nadia.


Dalam hitungan menit, kedua pihak keluarga sudah berkumpul di tengah rumah yang sengaja dilapisi ambal berwarna cerah. Mereka semua duduk di lantai. Bersila. Bagian laki laki berada di lama ruang, sedangja bagian perempuan berada di kiri ruangan.


Awalnya Nadia menanyakan kepada Arkan, apakah keluarganya bersedia jika tempat ditata dengan cara sederhana yaitu duduk di lantai beralasan ambal, tidak bergaya modern seperti memasang tenda dan duduk di atas kursi. Arkan menjawab pertanyaan itu dengan gamblang. "Duduk bersila di lantai juga lebih baik. Lebih kena rasa kekeluargaannya."


Akhirnya setting tempatpun dibuat biasa saja. Para tamu dari pihak keluarga Arkan dan para tuan rumah dari keluar Nadia berbaur menjadi satu di dalam ruang tamu yang tak terlalu luas. Cukup untuk berkumpul dengan kapasitas tiga puluh orang.


Acara pertunangan dilaksanakan sesederhana mungkin. Dari setting tempat, sampai acara yang dijalani. Tidak dengan adat Jawa Tulen. Hanya acara tunangan biasa.


Arkan membawa satu orang sebagai juru bicara dan Nadia juga menunjuk salah seorang yang dituakan dari keluarganya untuk menjadi perwakilan juru bicara mereka.

__ADS_1


Kata sambutanpun dilontarkan oleh perwakilan dari keluarga Nadia. Beberapa menit berbicara yang isinya adalah kalimat selamat datang.


Juru bicara dari Arkan akhirnya membalas dengan ucapan terima kasih karena telah menyambut dengan baik, disusul dengan pernyataan maksud dan tujuan keluarga dari pihak Arkan mendatangi kediaman Nadia.


Kedua juri bicara bercengkrama, bercanda dan merangkai kata dengan baik. Suasana acara menjadi lebih hidup dan hangat. Tidak kaku.


Setelah melalui acara beramah tamah dan menjelaskan maksud dan tujuan yang disampaikan oleh juru bicara dari pihak keluarga Arkan, maka perwakilan dari keluarga Nadia memerintahkan untuk mengeluarkan gadis yang akan ditunangkan untuk keluar dari kamar.


Arkan yang duduk di barisan laki-laki dari pihak keluarganya tak sabar menunggu calon tunangannya keluar. Dia duduk sedang memangku Fandi di paha kanannya. Di sampingnya sudah ada Daniel yang sesekali menggoda Fandi.


Ibu Nadia masuk ke kamar dengan cepat ketika juru bicara memerintahkan untuk mengeluarkan Nadia. Tak berapa lama Nadia keluar dari kamar dituntun oleh Ibunya.


Arkan terkesima.


Daniel sedikit melirik Arkan walaupun tangannya bermain dengan Fandi.


Nadia berjalan dituntun ke tengah. Semua mata memandang gadis yang berprofesi sebagai dokter umum. Nadia terlihat malu. Dia merasa sifat percaya diri yang luar biasa --sifat yang selalu menjadi andalannya-- menciut seketika. Dia takut salah melakukan sesuatu di depan kedua belah pihak keluarga. Terutama jika terjadi kesalahan dan dilihat oleh Arkan dan calon mertuanya.

__ADS_1


Nadia diminta untuk duduk di tengah. Ibu Arkan sudah menunggu calon menantunya di tengah hamparan ambal berwarna dominan merah. Nadia menyalami calon mertua ketika mendekatinya. Dia tersenyum kecil. Tangannya dingin.


Ibu Arkan melihat gelagat calon menantunya yang merasa gelisah. Tangan kanannya yang penuh dengan pengalaman perjuangan dan perjalanan hidup, mengelus punggung Nadia ketika calon menantu membungkuk menyalaminya.


Nadia sedikit terharu ketika hal itu terjadi. Dia berusaha menahan air mata. Saat ini, Nadia diperintahkan untuk duduk berhadapan di depan calon mertuanya, Ibu Arkan. Nadia hanyda menunduk. Dia tak bisa lagi mendeteksi keberadaan Arkan berada di mana.


Pembawa acara yaitu perwakilan dari pihak keluarga Nadia bercengkrama sedikit sebagai penyambung kata ketika acara puncak akan dilaksanakan. Sedikit bercanda untuk mencairkan suasana kembali dan mempersilahkan kepada Ibu Arkan untuk menyematkan cincin di tangan Nadia.


Di tengah ruangan yang menjadi saksi bisu dari kebahagiaan orang - orang yang hadir di acara itu, Ibu Arkan menyematkan cincin emas sebagai tanda sakral bahwa gadis itu telah diikat oleh anaknya. Anak terakhir yang akan menyusul semua kakaknya untuk berumah tangga.


Nadia tak bisa membendung air mata lagi. Butiran bening jatuh menetes mengenai kain batik yang dipakai. Dia segera meminta tisu kepada Ibunya yang berada di belakang. Dengan cepat dia mengambil tisu yang disodorkan oleh ibunya. Setelah merasa bisa mengendalikan hati, Nadia menyalami perempuan yang akan menjadi ibu mertuanya kelak. Dia mencium kedua pipi perempuan yang sudah berumur 65 tahun itu.


Arkan... duduk terpaku. Dia melihat aksi itu dengan hati yang gembira, bercampur haru. Lelaki yang duduk sejajar dengan keluarga lainnya, merasa lega. Akhirnya dia bisa melaksanakan acara pertunangan ini.


Juru bicara dari pihak Arkan dan Nadia berdialog dengan Bahasa Jawa. Mereka melemparkan pertanyaan dan menyambut jawaban, satu sama lain. Kedua pihak keluarga berusaha mencari kata mufakat untuk menetapkan tanggal pernikahan mereka. Dialog yang memakan waktu hampir satu jam, akhirnya mendapat keputusan bahwa pernikahan akan dilaksanakan 6 bulan ke depan.


Kedua pihak keluarga sudah setuju dengan tanggal pernikahan. Segala macam hal yang berhubungan dengan keuangan, peralatan dan perlengkapan yang akan diberikan, juga sudah dibicarakan. Acara pertunangan berjalan dengan lancar tanpa ada kendala sedikitpun.

__ADS_1


Acara ditutup dengan doa.


***


__ADS_2