Terjerat Cinta Wanita Depresi

Terjerat Cinta Wanita Depresi
Bab 11


__ADS_3

"Kurang ajar! Beraninya wanita ja lang itu memberiku obat perang sang!"


Brak!


Lorix menutup pintu mobilnya dengan sekuat tenaga, kemudian melesat membelah jalan raya. Lorix terpaksa melukai dirinya sendiri agar tetap sadar selama mengemudikan mobilnya, meski gejolak hasrat itu semakin menyiksanya seperti akan meledak.


Beruntung Apartemennya tak berada jauh dari restoran tempat makan Sebelumnya, hingga hanya dalam waktu sepuluh menit perjalanan, mobil yang Lorix kendarakan pun telah sampai di parkiran Apartemennya.


Lorix berjalan gontai hingga masuk ke dalam lift. Ketika ingat kalau dirinya sudah berhasil mendapatkan nomor ponsel Gyana, saat itu pula dia langsung mengetikkan pesan kepada Gyana.

__ADS_1


Lorix mengirimkan pesan kalau dirinya telah dijebak dan diberikan obat perang sang oleh salah satu rekan kerjanya, tak lupa Lorix mengatakan kalau dirinya saat ini sudah berada di Apartemen.


Meski tak ada harapan Gyana akan menolongnya, tapi Lorix tak punya pilihan lain, selain meminta pertolongan kepada Gyana. Walau tak yakin, Lorix tetap mengetikkan kata sandi pintu Apartemennya kemudian dia kirim lagi kepada Gyana.


Lorix sangat berharap Gyana menolongnya, karena kalau tidak maka nyawanya dalam bahaya. Hal terburuk yang kemungkinan terjadi ialah Lorix akan kehilangan salah satu sarafnya. Entah sebanyak apa dosis obat yang Dena berikan kepadanya, tapi yang pasti Lorix berusaha untuk tetap bertahan hingga berhasil masuk ke dalam Apartemennya.


Lorix berlari menuju dapur, mengambil banyak es batu, membawa dan kemudian memasukkan es batu itu ke dalam bathub kosong. Setelah itu, Lorix memutar keran yang juga mengucurkan air dingin, Lorix masuk ke dalam bathub dengan tak sabaran.


Sedangkan di luar sana, seorang wanita cantik terus menggedor pintu Apartemen Lorix, membuat keributan hingga datanglah seorang petugas. Siapa lagi wanita itu kalau bukan Dena, dialah dalang di balik apa yang kini Lorix alami. Dengan tak tahu malunya, Dena sampai datang langsung ke Apartemen Lorix.

__ADS_1


"Jangan membuat keributan di sini, Nona!" bentak petugas itu akan menyeret paksa Dena.


"Bapak apa-apaan sih! Dengar, ya, saya tidak membuat keributan sama sekali, justru saya ini ingin menolong teman saya di dalam, dia sakit dan saya harus membawanya ke rumah sakit!" bentak Dena berusaha menepis tangan petugas yang masih menggenggamnya erat.


"Kamu pikir saya sebodoh itu! Pak Lorix tidak pernah punya teman perempuan, dan kalau pun pak Lorix sakit, maka saya-lah orang pertama yang dimintai bantuan. Ayo, ikut saya!" Dena tak tahu kalau petugas di lantai itu sudah mengenal Lorix. Bahkan, tak jarang Lorix meminta bantuannya. Dena pun tak lagi bisa lagi berkutik.


Sedangkan Lorix mulai semakin gelisah, air dingin saja tak lagi cukup untuk membuatnya merasa tenang. Tubuh Lorix mulai bergetar hebat, bahkan wajahnya tampak begitu pucat.


Dengan tangannya yang bergetar hebat, Lorix berusaha meraih ponselnya. Senyuman kaku mengembang di bibir pucatnya, kala melihat pesannya sudah dilihat oleh Gyana.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian. Lorix masih berharap kedatangan Gyana, tapi Lorix salah. Gyana tak kunjung datang dan tak akan datang. Hingga akhirnya, penglihatan mulai buram, samar-samar Lorix dapat melihat sebuah bayangan seseorang yang muncul di hadapannya.


"Gya-na ....


__ADS_2