Terjerat Cinta Wanita Depresi

Terjerat Cinta Wanita Depresi
TAMAT


__ADS_3

Tangisan Lorix semakin menjadi, kenangan demi kenangan berputar bak film di pikirannya. Rasa bersalah dan juga penyesalan begitu dalam, membuat hatinya terusir perih dan napasnya sesak. Di taman bermain itu, banyak orang-orang melirik Lorix terharu. Kesedihan Lorix seakan menular ke pengunjung lainnya.


Lorix bangkit, sambil menggendong Gyana kecil yang cantiknya persis seperti ibunya. Tapi, warna mata dan warna rambut persis seperti dirinya. Gyana kecil benar-benar adalah putrinya. Lorix benar-benar menyesal seumur hidupnya, karena sudah menyia-nyiakan wanita yang namanya tidak pernah hilang dalam benaknya.


"Kamu cantik sekali, Sayang." puji Lorix menatap Gyana kecil dengan air mata yang terus mengalir.


"Pria sejati kalau menangis jelek sekali Om, sudah ya, jangan sedih lagi. Berhenti menangis, Gyana tidak suka kalau pria menangis," jemari lentik dan kecil itu terasa hangat saat menyentuh pipi Lorix. Gyana kecil mengusap air matanya. Lorix seakan tak percaya kalau semua itu nyata. Ia seakan berada di dalan mimpi.


"Terima kasih, Sayang. Om tidak akan menangis lagi kalau Gyana mau panggil Om Daddy," ucap Lorix berharap Gyana kecil mau memanggilnya dengan panggilan Daddy.


"Daddy, Daddy, Daddy, Daddy Lorix!" seru Gyana dan Lorix kembali memeluknya erat.


"Gyana di mana, Mommy? Izinkan aku bertemu dengannya," mohon Lorix.


"Aku Gyana, Daddy." ucap Gyana menunjuk dirinya sendiri, Lorix mengecup pipi gembil itu lama.


"Mari duduk dulu, akan Mommy ceritakan semuanya," jawab Mommy Elena mengajak Lorix untuk duduk di sebuah kursi di taman itu.

__ADS_1


Raut wajah Lorix berubah, perasaannya mulai tak tenang. Ia merasa tak siap untuk mendengarkan cerita Mommy Elena.


"Gyana sudah meninggal Lorix," Lorix kembali menangis. Kali ini benar-benar tak tertahankan. Tak hanya air mata yang tumpah. Tapi, juga suara tangisannya yang terdengar begitu pilu.


Gyana kecil langsung melepaskan diri dari pelukan Lorix karena takut mendengar isakan pilu. Mommy Elena menyambut Gyana kecil dan menenangkannya.


"Lalu, Mommy hanya tinggal bertiga bersama putriku?" tanya Lorix terisak, dia benar-benar hancur.


"Berdua. Daddy Rotham juga meninggal di hari yang sama. Dia mengalami serangan jantung ketika mendengar kabar kematian Gyana," tutur Mommy Elena menangis pilu kala teringat hari terberat dalam hidupnya.


"Berhenti Gyana Mommy, semua anak di dunia ini pintar dan cantik. Gyana ini biasa saja, malah Gyana sering menyusahkan Mommy," terang Gyana membuat Lorix menatapnya bangga.


"Maafkan aku Mommy, semua penderitaan yang Gyana alami adalah karena aku," sesal Lorix.


"Tidak, tidak benar. Kamu salah Lorix. Gyana sangat bahagia mencintaimu. Dia bahkan meninggalkan surat untukmu. Mommy menyimpannya di dalam liontin kalung Gyana," Mommy Elena mengambil secarik kertas mini itu, lalu memberikannya kepada Lorix.


Isi surat : "Jaga anak kita untukku. Aku mencintaimu Lorix, aku mencintaimu sampai MATI."

__ADS_1


***


"Aku mungkin tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Gyana di hatimu. Tapi, aku akan berusaha untuk mencintaimu dengan versiku. Mungkin ini alasannya kenapa Tuhan menjadikanku wanita mandul, Tuhan ingin aku merawat, membesarkan, menyayangi dan membahagiakan Gyana kecil seutuhnya. Terima kasih Lorix, terima kasih sudah mencintaiku, wanita yang tidak bisa memberikanmu keturunan. Aku mencintaimu Lorix, aku sangat mencintaimu." Leeva.


"Aku juga mencintai, Leeva. Sangat mencintaimu. Terima kasih sudah mencintaiku dan mau bersamaku, suami yang bahkan membagi cintanya untuk wanita lain."


TAMAT!


.


.


.


Agak ngebut, Guys. Tolong dimaafkan typonya 🙏🏻😭 Boleh banget komen kalau kalian nemuin kata typonya ya guys. Maaciw bantuannya 😘


Huhu .... Akhirnya Tamat. Maaf karena ceritanya sesingkat ini. Yang penting tuntas, ya, Guys. Tidak menggantung walau pun sad ending 😭. Semoga kalian suka, makasih karena sudah setia sama novel yang super slow ini. Love kalian sekebon. calangeo ❤️😘

__ADS_1


__ADS_2