Terjerat Cinta Wanita Depresi

Terjerat Cinta Wanita Depresi
Bab 24


__ADS_3

Esok harinya, Mommy Elena membawakan makanan ke kamar putrinya. Dengan telaten Mommy Elena menyuapi putrinya sarapan. Sayangnya, tepat setelah sarapannya habis. Gyana langsung bangkit, menuju kamar mandi dan langsung memuntahkan apa yang masuk ke perutnya pagi itu.


Kali ini Gyana tak lagi merasa sendiri, karena ada Mommy Elena yang menemaninya. Dengan penuh cinta Mommy Elena membantu mengurut tengkuk sang putri agar merasa lebih baik.


"Sudah, Mom," lirih Gyana dengan suara lemahnya. Mommy Elena langsung memapah sang putri dan membawanya kembali ke atas ranjang.


"Mommy akan panggilkan dokter untukmu."


"Tidak perlu, Mommy. Gyana baik-baik saja," tolak Gyana menahan tangan sang Mommy.


"Baiklah, Sayang. Sekarang kamu istirahatlah, kalau mau dan butuh apa-apa langsung panggil Mommy," pesan Mommy Elena sebelum pergi.


"Baik, Mommy." jawab Gyana dan Mommy Elena langsung pergi setelah mengecup kening putrinya tercinta.

__ADS_1


Sendirian di dalam kamar, membuat pikiran Gyana melayang ke mana-mana. Mengingat sosok yang selalu ada dalam hati, cinta yang tak kunjung reda, serta rasa rindu yang terus melanda, membuat Gyana tak bisa tenang. Gyana rindu pelukan erat, sentuhan, serta kelembutan sosok yang masih menetap di hatinya.


Gyana tak bisa berpikir jernih, ia menginginkan Lorix dan ia akan mendapatkan kembali pria itu apa pun halangan dan rintangannya. Gyana bangkit perlahan, duduk sambil menghela napas kasar, meraih ponsel di atas nakas, mengetikkan nama Lorix yang ia berikan tanda cinta, dan kemudian langsung membuat panggilan.


Panggilan pertama masuk, tapi tak diangkat, begitu pun panggilan kedua. Dan panggilan ketiga membuat Gyana membatu karena panggilan telah diangkat. Sebelum memulai pembicaraan, Gyana menghela napas terlebih dahulu. Setelah merasa lebih baik, barulah Gyana mulai berkata dengan jantung yang berdegub kencang.


"Hallo ...." sapa Gyana pelan karena ragu.


***


Sangat tidak Leeva sangka kalau Lorix yang kini telah menjadi suaminya, tidaklah sebaik yang ia kira. Lorix menikahinya, tapi menyimpan nama wanita lain di ponsel dan kemungkinan juga di hatinya. Tulisan cintaku dengan lambang hati, terlihat sangat romantis. Sepertinya wanita itu sangat istimewa di hatinya.


Sedangkan namanya, hanya tertera Leeva dengan huruf kecil, sebegitu tidak berartinya ia bagi sang suami. Beruntung ia tak menaruh harapan serta kepercayaan sepenuhnya kepada Lorix, beruntung pula Leeva sudah membuat perjanjian pra nikah sehingga ia masih dapat bisa mengelak untuk tidak memberikan kesuciannya secara langsung kepada sang suami.

__ADS_1


Namun, meski begitu. Tetap saja ia merasa sangat sakit, ia merasa sakit karena jelas ia telah jatuh cinta pada suaminya. Tapi, suaminya mencintai wanita lain. Leeva bingung apa yang harus ia lakukan saat ini.


Sebelum menyahut panggilan di sebarang sana, Leeva terlebih dahulu menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Saat Leeva ingin berkata, perempuan di seberang sana lebih dulu mengucapkan sebuah kalimat, "Aku hamil, Lorix. Hamil anakmu." tutur wanita itu mampu membuat Leeva hampir pingsan.


***


Dengan berat hati dan segala pertimbangan, pada akhirnya Gyana mampu mengucapkan kata yang ingin ia katakan itu. Apa pun reaksi Lorix ia tak peduli. Karena yang Gyana inginkan hanya melepas rindu yang sudah menggebu-gebu membuatnya merasa ingin mati.


"Saya Leeva, istrinya Kak Lorix."


Bruk!


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2