
"Dan kau juga yang menggantikan pakaianku?" Lorix sedikit tak percaya.
"Untuk hal itu iya, Pak. Maaf."
"Kau—"
"Bapak jangan berpikir yang aneh-aneh dulu, kan bapak Lorix tahu sendiri saya sudah punya anak dan Istri. Bapak tidak perlu khawatir, saya masih laki-laki yang normal," jelas petugas itu membuat Lorix kembali dengan ekspresi biasanya.
"Kalau begitu terima kasih karena Pak Alam sudah membantu saya. Oh iya, bila saja wanita semalam kembali datang, pastikan untuk mengusirnya."
"Baik, Pak Lorix. Siap dilaksanakan!" seru petugas bernama Pak Alam tersebut.
Setelah itu, Lorix masuk ke dalam mobilnya dan langsung tancap gas menuju RM Grup tempatnya bekerja saat ini.
__ADS_1
Di dalam mobilnya, Lorix terus berpikir dan berusaha mengingat-ingat tentang apa yang terjadi semalam. Entah kenapa Lorix merasa ragu dengan pernyataan petugas di Apartemennya. Apalagi Lorix tak merasakan efek samping apa pun.
Padahal Lorix sangat yakin akan adanya kemungkinan terburuk bila tidak melakukan hubungan intim secara langsung. Dan tentu saja Lorix merasa curiga, kala melihat keadaannya kini yang baik-baik saja tanpa mengalami hal apa pun.
Tiba di perusahaan, Lorix langsung menuju ruangannya dengan langkah yang cepat. Tak lupa Lorix mengunci pintu ruangannya dengan rapat, hal itu Lorix lakukan untuk menghindari Dena. Benar-benar muak rasanya bila harus berhadapan dengan wanita murahan itu. Tanpa bantuan Dena dan yang lainnya, Lorix bisa merancang sendiri desain bangunan sesuai yang Leon inginkan.
Sore harinya, Lorix pergi ke perusahaan Leon tanpa sepengetahuan Dena dan lainnya. Lorix pergi ke sana untuk menyerahkan hasil desainnya, sekalian Lorix juga ingin mengenal Leon lebih dekat dan membongkar seberapa buruknya pria yang kini berstatus sebagai Suami Gyana.
Dan lagi-lagi Lorix tak menemukan keberadaan Leon. Bahkan, sekretarisnya sendiri pun tak tahu di mana keberadaan pria itu. Kecurigaan Lorix kepada Leon semakin bertambah.
Tiba di Mansion, Lorix tak langsung masuk ke unit kamarnya. Namun, Lorix menunggu tepat di depan pintu unit Apartemen Gyana. Cukup lama Lorix hanya berdiam diri di depan sana, tapi pintu Apartemen Gyana tak kunjung terbuka.
Suara derap langkah kaki terdengar, Lorix mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Rupanya Leon yang telah pulang, Lorix reflek masuk ke dalam Apartemennya dan bersembunyi di sana.
__ADS_1
Dari balik pintu, Lorix mengintip pergerakan Leon yang berjalan gontai sambil berpegangan dengan dinding lorong apartemen. Lorix yakin pria sialan itu mabuk karena kebanyakan minum alkohol. Seketika timbul perasaan khawatir kepada Gyana, Lorix takut Leon yang mabuk tanpa sadar maupun sadar melukai wanita yang dirinya cintai.
Ketika Leon telah masuk ke dalam Apartemennya, Lorix menggunakan kemampuannya untuk membuka pintu apartemen Gyana hingga pintu pun berhasil dirinya buka hanya dalam hitungan menit.
Dengan terburu-buru, Lorix langsung masuk tanpa permisi. Larinya terhenti ketika telah sampai di depan pintu kamar yang terkunci rapat. Ketika mendekati pintu, suara-suara aneh terdengar.
Bukan suara Gyana yang kesakitan yang dirinya dengar, malainkan suara erotis yang terdengar begitu menikmati. Lorix menjauhi pintu kamar dengan memegang dadanya yang tiba-tiba terasa perih bak disayat sembilu. Tak sanggup mendengarnya semakin lama, Lorix langsung pergi dengan hati yang terluka begitu dalam.
.
.
.
__ADS_1
Maaf kalau updatenya lama, ya, Guys🥺🙏🏻🙏🏻