Terjerat Cinta Wanita Depresi

Terjerat Cinta Wanita Depresi
Bab 31


__ADS_3

Seperti biasanya Lorix membukakan pintu mobil untuk Leeva, tapi tidak untuk Gyana. Kali ini Gyana tak berkecil hati, ia sudah mulai terbiasa. Mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang. Gyana mengoleskan aromaterapi di ujung hidungnya, agar ia tak merasa mual selama di perjalanan.


Beberapa menit kemudian, mobil pun berhenti di depan gerbang kampus Leeva. Leeva pamit dan langsung keluar dengan terburu-buru karena hampir telat.


Setelah kepergian Leeva, kini hanya tersisa Lorix dan Gyana. Lorix mengendarakan mobil dengan santai dan tenang. Gyana yang duduk di kursi bagian belakang benar-benar ia abaikan.


Gyana juga tak mau mengganggu, hanya fokus menatap punggung Lorix. Dorongan ingin memeluk pria itu sangatlah besar. Gyana mengelus perutnya berusaha menahan gejolak kerinduan itu.


"Sabar, Sayang. Setelah lahir nanti kamu bisa memeluknya kapan pun kamu mau. Tapi, untuk sekarang tahanlah dulu," batin Gyana yang tahu dorongan untuk memeluk dan diperhatikan oleh Lorix tidak sepenuhnya keinginannya. Melainkan keinginan calon buah hatinya.


Setetes air mata yang meluncur tanpa izin langsung Gyana tepis kasar. Beberapa saat kemudian, mobil pun berhenti di pinggir jalan. Gyana mengedarkan pandangan ke sekitar.


"Kenapa berhenti di sini, Lorix? Rumah sakitnya masuk ke lorong sana," tunjuk Gyana.


"Turunlah, aku cuma bisa mengantarmu sampai di sini," usir Lorix.


"Tapi, aku harus berjalan cukup jauh. Tidak bisakah antarkan aku ke sana sebentar saja. Tidak akan sampai tiga menit mencuri waktumu," Gyana memohon.

__ADS_1


"Kamu bicara padaku sudah habis waktu satu menit. Keluarlah, aku ada meeting penting dan aku sudah terlambat. Jangan terlalu manja, tidak akan habis waktu lima menit berjalan ke sana," bentak Lorix membuat Gyana merasa sesak.


"Baiklah, maaf sudah merepotkanmu dan terima kasih untuk tumpangannya," Gyana langsung keluar dari mobil.


Setelah pintu mobil Gyana tutup, Lorix pun langsung tancap gas meninggalkan Gyana di pinggir jalan seorang diri. Air mata yang kembali menetes Gyana tepis kasar.


Setelahnya, Gyana mulai melangkah berjalan menuju rumah sakit. Gyana tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan karena itu dapat membahayakan calon bayinya.


TIN!


Suara klakson mobil berhenti tepat di sebelah Gyana, Gyana langsung menoleh, "Mommy," Gyana langsung mengenali pemilik mobil tersebut.


"Jalan, Pak," titah Mommy Elena dan supir langsung tancap gas melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit. Mommy Elena menyeka air matanya yang mengalir.


"Mommy mengikutiku?" tanya Gyana.


"Mommy tidak sanggup melihatmu menderita, Sayang," ungkap Mommy Elana menatap Gyana sendu.

__ADS_1


"Untuk itu Mommy tidak perlu mengikutiku, aku baik-baik saja Mommy," ucap Gyana sambil menyeka lembut air mata Mommy Elena.


"Lihatlah ini, kamu sedang hamil, Sayang. Bukannya berisi, tapi malah semakin kurus. Apa mereka tidak memberimu makan?" Mommy Elena memeriksa tubuh putrinya yang semakin kurus.


"Mana mungkin begitu, Mommy. Makanku banyak dan lahap sekali. Lagian, inikan masih semester pertama, apa yang masuk langsung keluar (muntah). Jadi, Mommy tidak perlu khawatirkan Gyana. Gyana sangat bahagia Mommy, ini adalah keinginan calon buah hati Gyana, dia menginginkan kasih sayang Daddynya," tutur Gyana.


"Mommy ikut bahagia asalkan kamu bahagia, Sayang. Tapi, kenapa Lorix tidak menemani ke rumah sakit. Bahkan, dia tidak mengantarmu sampai ke rumah sakit dan malah meninggalkanmu di jalaran raya yang sangat berbahaya ini, Sayang?'


"Itu atas permintaan Gyana sendiri, Mommy. Lorix sudah terlambat meeting, dan Gyana juga ingin berjalan-jalan pagi seperti yang dokter sarankan," bohong Gyana mengarang alasan. Mommy Elena pura-pura percaya.


***


"Bagaimana kondisi kandungan saya, Dokter? Masih bisa bertahankan, Dokter?"


"Kondisi kandungan Nona ....


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2