
Tak punya pilihan lain, Lorix pun melangkahkan kaki menuju kamar Gyana. Karena di sana ada tersimpan bajunya, walaupun tak ada baju santai dan hanya ada setelan kerja dan piyama untuk tidur.
Hari itu adalah hari libur, Lorix seharusnya mengenakan pakaian santainya. Tapi, ia tak punya pilihan lain. Setelan kerja di hari libur tidak terlalu buruk daripada hanya mengenakan handuk.
Ceklek!
Gyana langsung menyeka air matanya cepat kala pintu terbuka dan menampakkan seorang pria yang ia dambakan. "Lo-lorix," ucap Gyana langsung berdiri. Gyana menelan saliva, tampilan Lorix yang hanya mengenakan handuk membuatnya merasa gugup sekaligus perih hatinya.
Lorix mengabaikan panggilan Gyana, ia langsung menuju lemari dan mengambil setelan kerja lalu mengenakannya di sebuah ruangan khusus. Gyana yang kebingungan hanya berdiri tanpa tahu harus melakukan apa.
"Apa kamu sudah sarapan?" tanya Gyana yang pada akhirnya memberanikan diri.
"Di mana laptopku?" tanya Lorix mengabaikan pertanyaan Gyana sebelumnya.
"Oh, sebentar," Gyana membuka leci meja, mengambil laptop yang ia simpan di sana, kemudian langsung menyerahkannya kepada Lorix.
Lorix menerimanya, setelah itu langsung keluar tanpa mengatakan apa pun pada Gyana. Gyana hanya membatu terdiam. Ia seakan bertemu dengan orang asing. Ia benar-benar tak lagi mengenali Lorix yang sekarang. Gyana semakin yakin Lorix benar-benar sudah melupakannya.
"Andai aku juga bisa melupakanmu dengan mudah, seperti kamu melupakanku dengan mudah," lirih Gyana pilu. Tapi, ia berusaha agar tak terlalu sedih. Gyana tahu kesedihan yang ia rasakan, menjadi kesakitan yang diterima calon bayinya.
Gyana menuju balkon, menutup mata, membentang kedua tangan, lalu menghirup udara segar di sana. Melakukan hal sederhana itu dapat membuatnya merasa tenang.
__ADS_1
Ketika membuka kedua mata, sebuah taman yang tak terurus di bawah sana membuat Gyana tergerak hatinya untuk berkebun. Dengan penuh semangat Gyana keluar dari kamar, menuju halaman yang lumayan luas di sana.
Tapi, taman itu tampak tak terurus. Ada banyak rumput liar di sana. Sepertinya hal itu cukup wajar mengingat Lorix tak memperkejakan satu pelayan pun di rumah itu.
Gyana mengambil berbagai macam alat kebun, lalu membersihkannya dengan semangat. Tanpa Gyana sadari, Lorix memperhatikan kegiatannya dengan perasaan yang tak menentu.
"Maafkan aku Gyana, aku harus melupakanmu. Akan aku buktikan pada Leeva bahwa aku benar-benar sudah melupakanmu," Lorix kembali masuk ke dalam rumah.
"Kak Lorix!" teriak Leeva langsung berlari pergi, Lorix tersenyum melihat tingkah lucunya.
"Mau main kucing-kucingan?" tanya Lorix duduk di kursi meja makan. Sementara Leeva di sampingnya.
"Diam!" bentak Leeva yang sudah rapi dengan dress berwarna merah muda.
"Kakak!" bentak Leeva menutup wajahnya malu, Lorix tertawa.
"Sudah, tidak perlu malu. Bukan cuma kamu wanita yang menstruasi di dunia ini," ucap Lorix.
"Ya tapikan pasti ada beberapa yang aku malu sepertiku, Kak."
"Iya deh, kakak tidak akan mengatakannya lagi. Tapi, apa kamu baik-baik saja? Apa tidak sakit? Oh ya, pembalutnya apa ada?" tanya Lorix perhatian.
__ADS_1
"Aku ini tidak bodoh, Kak. Semuanya sudah Eva persiapkan jauh-jauh hari. Memang sering keram, tapi sudah tidak lagi setelah minim pil pereda nyeri," jawab Leeva sambil melahap sarapannya.
"Berhenti, jangan minum pil lagi," larang Lorix.
"Loh, kenapa, Kak? Kakak mau melihat aku menangis kesakitan begitu?"
"Bukan begitu maksud kakak."
"Lalu?"
"Lebih baik minum ramuan tradisional saja, tidak baik terlalu sering minum pil," jelas Lorix.
"Sok tahu, memangnya kakak ini dokter?"
"Memang tahu, terlalu sering mengonsumsi pil tidak baik untuk rahim. Sekarang habiskan makananmu, setelah itu akan kakak ajarkan buat ramuannya."
"Oke."
.
.
__ADS_1
.