
Lorix berlarian menuju kamar karena punya firasat yang tidak baik untuk Gyana. Dan betapa kagetnya dia ketika melihat Gyana yang berdiri di sudut kamar dengan pisau tergenggam erat di tangan kanannya.
"Jangan mendekat!" bentak Gyana mengarahkan mata pisau ke lengannya sendiri.
Lorix seketika panik melihat apa yang kini Gyana lakukan. Rupanya, Gyana belum sembuh sepenuhnya. Paksaan Leon sebelumnya membuat Gyana tiba-tiba menjadi tak terkendali seperti saar ini dan berakhir akan melukai dirinya sendiri.
"Tenanglah aku tidak akan melakukan apa pun kepadamu. Sekarang, tolong singkirkan pisau itu dan berhenti melukai dirimu sendiri," bujuk Lorix sambil mendekati Gyana secara perlahan. Sementara Gyana semakin mundur ke dinding dengan menggenggam pisau semakin erat.
"Orang jahat! Pergi!" teriak Gyana di tengah malam itu.
"Aku bukan orang jahat, Gyana. Sekarang lepaskan pisau itu, aku tidak akan menyakitimu," Lorix semakin maju tanpa memikirkan ancaman Gyana.
"Semua pria jahat! Pergi sekarang atau aku—"
__ADS_1
Tepat saat Gyana akan mengiris lengannya, saat itu pula Lorix langsung menepis pisau di tangan Gyana. Lorix merasa begitu lega karena berhasil membuat Gyana tak terluka sama sekali. Namun, sayangnya Lorix sendirilah yang terkana pisau, pisau itu berhasil menyayat lengan Lorix yang kekar.
Meski terluka cukup parah, tapi rasa perih itu tidak Lorix rasakan sama sekali. Lorix bahkan masih sanggup mengangkat Gyana hingga membaringkannya ke atas ranjang. Darah segar yang menetes dari lengannya tak Lorix pedulikan sama sekali.
Lorix hanya merobek bajunya, kemdian dia gunakan untuk membalut lukanya sementara agar darah tak lagi menetes. Setelah itu, Lorix hanya fokus pada Gyana yang terbaring lemah tak berdaya.
Dengan perasaan yang begitu khawatir, Lorix memeriksa keadaan Gyana, apakah ada luka tersembunyi di tubuh wanita malang itu. Dan benar saja, Lorix dapat menemukan luka cakaran di dada Gyana yang bajunya sedikit sobek. Sepertinya itu adalah luka cakaran dari kuku Leon yang memaksa Gyana sebelumnya.
Dengan Gesit Lorix melepaskan baju Gyana, kemudian mengambil kotak p3k dan mengoleskannya dengan salep khusus. "Maafkan aku Gyana, aku benar-benar tidak berguna. Aku selalu gagal melindungimu, apa yang harus aku lakukan saat ini? Haruskah aku membawamu pergi?" Haruskah aku egois dan menculikmu dari tangan Suami bejatmu dan kedua orangtua bodohmu?" gumam Lorix frustasi.
Lorix mengelus pipi Gyana dengan penuh kelembutan, ada perasan rindu yang begitu besar dia rasakan. Lorix seakan tak terpercaya bisa mengelus dan mencium kening wanita yang begitu dia cintai. Merasa semuanya telah aman, Lorix segera pergi dengan membawa pisau sebelumnya.
Tak lupa Lorix memindahkan alat penyadap suaranya ke tempat yang aman, setelah itu barulah Lorix kembali ke Apartemennya yang berada di hadapan unit Apartemen Gyana.
__ADS_1
Tiba di kamar, Lorix mengobati lukanya sambil memikirkan rencana seperti apa yang akan dirinya lakukan, karena tidak mungkin Lorix tega memisahkan kembali Gyana dengan kedua orangtuanya. Walau bagaimana pun, kondisi Gyana mulai membaik Karena kehadiran kedua orangtuanya. Tapi, sayangnya mereka melepaskan Gyana dengan begitu cepat.
"Aku tidak akan memisahkan Gyana dari kedua orangtuanya, tapi aku harus memisahkan Gyana dari lelaki bejat itu."
.
.
.
Gyana
__ADS_1
Lorix