Terjerat Cinta Wanita Depresi

Terjerat Cinta Wanita Depresi
Bab 30


__ADS_3

"Bukankah ini malam pertama kita? Bisakah temani aku malam ini?" pinta Gyana penuh harap. Selain keinginannya, itu juga adalah keinginan calon bayi yang kini ada di dalam rahimnya.


"Maaf, aku sudah tidak lagi berminat pada wanita bekas," ucap Lorix sambil menepis kasar tangan Gyana. Setelah itu langsung pergi begitu saja.


Meninggalkan Gyana yang kini tak kuasa menahan tangisnya. Air mata benar-benar tumpah dan membanjiri wajahnya. Terlalu sesak, perih, dan sakit hingga ia tak dapat menahannya.


"Aw!" ringis Gyana kala perutnya tiba-tiba terasa kram.


Sadar kesedihannya telah menyakiti sang calon buah hati, Gyana pun menghela napas lalu menghembuskannya perlahan. Setelan merasa lebih tenang, kram di perutnya pun berangsur menghilang.


Beberapa saat kemudian, suara ketukan pintu terdengar. Gyana langsung mengusap air mata yang membekas di kedua pipinya.


Gyana bangkit, lalu membukakan pintu kamar. "Apa Eva mengganggu istirahat kak Gyana?" tanya Leeva sopan dan ramah.


"Tidak sama sekali, Eva. kebetulan aku tidak bisa tidur."


"Ini Eva bawakan makan malam untuk Kak Gyana. Apa kakak menyukainya? Eva takut menu makanan ini tidak sesuai dengan selera kakak."


"Suka, Eva. Sesuai kok, aku makan apa pun, tidak ada pantangan," terang Gyana sambil menerima nampan berisi makanan yang Leeva ulurkan padanya.


"Baguslah kalau begitu, Eva mau siapkan makan malam untuk Kak Lorix juga. Kak Gyana di kamar saja, kalau butuh apa-apa panggil saja Eva," sambung Leeva.

__ADS_1


"Terima kasih, Eva. Kamu tidak perlu repot-repot," lanjut Gyana merasa tak enak hati.


"Tidak repot sama sekali, Kak. Kakak itu sedang hamil, tidak boleh sedih apalagi kelelahan. Ya sudah, Eva tinggal dulu ya kak. Selesai makan langsung istirahat."


"Terima kasih," ucap Gyana tulus.


"Sama-sama, Kak." Eva pun pergi, Gyana langsung menutup pintu kamar dan langsung melahap cepat makanan yang Leeva bawakan untuknya. Gyana dan calon buah hatinya benar-benar kelaparan.


Dan seperti biasa, usai makan Gyana harus berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkan semua yang baru saja ia makan. Di depan cermin wastefel Gyana melihat wajah pucatnya dengan air mata yang tiba-tiba mengalir.


Gyana berharap suatu saat akan ada Lorix di sampingnya, yang membantu memapah tubuhnya juga mengusap tengkuknya. Gyana tersenyum tipis kala membayangkan betapa manisnya adegan penuh cinta dan kasih sayang itu.


Setelah merasa lebih baik, Gyana langsung mencuci wajah dan menyikat gigi. Ketika Gyana menyibak rambutnya, puluhan helai rontok dengan sendirinya. Gyana menatapnya pilu.


***


Keesokan paginya, setelah bersiap-siap dengan pakaian sederhana, Gyana pun langsung pergi ke ruang makan karena perutnya terasa lapar. "Kak Gyana, kemarilah," panggil Leeva dan Gyana pun berjalan mendekat.


"Duduklah kak, kita sarapan bersama," karena memang sudah kelaparan, Gyana langsung mengambil beberapa roti.


"Kakak suka selai apa?" tanya Leeva.

__ADS_1


"Coklat," jawab Gyana dan Leeva langsung memberikannya.


"Apa kamu pelayan di rumah ini?" Lorix bertanya pada Leeva. Gyana tahu Lorix sedang menyindirnya. Raut wajah Leeva pun terlihat kesal, ia takut Gyana mengira kalau dirinya sengaja melakukan itu agar Gyana terlihat buruk di mata Lorix.


Leeva menatap Gyana dengan ekspresi sedih, Gyana tersenyum sambil menganggukkan kepala seakan mengatakan kalau dirinya baik-baik saja. Ritual sarapan pun kembali berlangsung.


"Apa kamu akan ke kampus, Leeva?" tanya Gyana seraya mengelap bibir menyudahi sarapannya.


"Iya, Kak. Kebetulan pagi ini ada kelas. Memangnya ada apa kak? Apa ada sesuatu yang bisa Eva bantu?" tanya Leeva ramah.


"Emm ... Bolehkah kakak menumpang?"


"Tentu saja, Kak. Kita berangkat bertiga. Kakak mau ke mana?" tanya Leeva lagi.


"Ke rumah sakit untuk periksa kandungan," jawab Gyana.


"Baiklah, Ayo kita berangkat!" seru Leeva mengajak Gyana dan Lorix untuk berangkat.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2