Terjerat Cinta Wanita Depresi

Terjerat Cinta Wanita Depresi
Bab 29


__ADS_3

"Aku tidak akan pernah menduakanmu Leeva, titik." tegas Lorix. Leeva tersenyum simpul, ia dapat melihat ada keraguan yang begitu besar dari kedua bola mata Lorix.


"Kakak salah. Kakak harus menikah dengan wanita yang benar-benar kakak cintai. Aku mohon, nikahi Gyana." pinta Leeva dengan entengnya, membuat Lorix mengepalkan kedua tangan murka.


"Aku tidak akan menduakanmu." keukeuh Lorix.


"Aku tidak percaya," balas Leeva.


"Aku akan membuktikannya." sahut Lorix.


"Kalau begitu nikahi Gyana dalam waktu satu tahun saja. Jika dalam satu tahun itu kakak benar-benar bisa melupakannya. Maka, aku siap menjadi istri yang sesungguhnya dan hanya akan patuh dan menurut pada kakak," tantang Leeva.


"Aku melakukan ini karena aku tidak bisa hidup bersama pria yang di hatinya masih terukir nama wanita lain," lanjut Leeva lagi.


Lorix terlihat dilema. Leeva begitu mengerti bagaimana perasaan Lorix saat ini. Tapi, ia tak punya pilihan lain. Itu adalah permintaan terakhir Gyana. Leeva tak ingin Lorix menyesal.


"Baiklah, aku setuju dengan tantanganmu. Tapi, kamu harus berjanji, walau pun aku tetap tidak bisa melupakannya, kamu harus tetap bersamaku," ucap Lorix mengajukan persyaratan.

__ADS_1


"Baik, Eva setuju!" balas Leeva akhirnya dapat menarik napas lega.


"Satu lagi. Aku mau menikah dengannya, tapi tidak boleh ada satu pun yang mengetahuinya selain aku, kamu dan dia," Lorix kembali mengajukan syarat lagi.


"Baiklah, itu tidak masalah," balas Leeva tampak gembira karena pada akhirnya ia berhasil membujuk Lorix untuk menikah Gyana.


***


Keesokan paginya.


Tanpa menunda-nunda waktu, Lorix, Gyana dan juga Leeva sudah berada di dalam mobil untuk menuju kantor KUA guna mendaftarkan pernikahan antara Lorix dan juga Gyana.


Hatinya terasa sangat sesak ketika perhatian-perhatian yang luar biasa Lorix beriman kepada Leeva. Mulai dari menuntunnya berjalan, membukakan pintu mobil dan memastikan ia tak terbentur ketika masuk ke dalam mobil.


Perhatian-perhatian yang dahulu adalah miliknya, kini sudah berpindah kepada Leeva. Walau merasa iri. Tapi, Gyana tetap sadar akan posisinya sebagai siapa.


Tak butuh waktu lama, Lorix dan Gyana sudah sah tercatat sebagai pasangan suami istri di mata hukum. Lorix tahu Leeva sedih, rasa sedih itu seakan tertular hingga Lorix juga dapat merasakan bagaimana sesak, perih, dan sakit yang Leeva rasakan saat ini.

__ADS_1


Setelah dari kantor KUA, Lorix mengemudikan mobilnya menuju gereja untuk pengucapan janji suci pernikahan mereka berdua. Setelah semuanya usai, Lorix membawa Gyana dan Leeva menuju ke sebuah restoran untuk makan siang.


Walau Leeva memaksa, tapi Gyana tetap tidak ingin ikut. Gyana sadar ia tak bisa mencium aroma makanan. Gyana tak ingin mual serta muntah-muntah yang ia alami mengganggu makan siang Lorix dan Leeva.


Gyana bersyukur karena tak mual-mual dan muntah-muntah selama di perjalanan dalam mobil Lorix. Gyana mengusap perut datarnya, ia senang karena calon buah hatinya, begitu mengerti bagaimana situasi dan tidak menyusahkannya. Atau, calon buah hatinya ikut senang karena sang ibu telah bersatu dengan ayahnya.


Gyana tetap menunggu di dalam mobil sambil menikmati perutnya yang kelaparan. Karena kelelahan, tanpa sadar Gyana pun langsung terlelap.


Ketika membuka mata, Gyana merasa tubuhnya melayang di udara. Rupanya, Lorix menggendong dan membawanya hingga dibaringkan secara perlahan di atas ranjang.


Lorix tahu Gyana sudah sadarkan diri. Setelah meletakkan Gyana di atas ranjang. Lorix pun segera membalikkan badan untuk pergi. Namun, dengan cepat Gyana menahannya.


"Bukankah ini malam pertama kita? Bisakah temani aku malam ini?"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2