
PYAAAR!
Gelas lepas dari tangan Gyana, membuat gelas pecah dan beberapa pecahan melukai kakinya, akibat tangan dan tubuh yang seketika melemas tepat setelah melihat Leon membaca surat keterangan kehamilan miliknya.
Leon maju beberapa langkah, sementara Gyana masih membatu diam di tempat. Leon menarik paksa rambut Gyana, hingga Gyana meringis kesakitan. Leon kaget saat bagian rambut Gyana yang ia tarik langsung terlepas dan rontok begitu saja. Ia kaget bukan tanpa alasan, ia kaget karena yang rontok tidak sedikit, tapi sebongkah kepalan tangannya.
Leon beralih menyerat paksa tangan Gyana, saat mengingat kembali surat di tangannya. "Anak siapa itu ha!?" tanya Leon membentak sambil mendorong Gyana hingga terjatuh ke atas kasur. Beruntung ia hanya jatuh ke kasur.
"Yang pasti bukan anakmu," jawab Gyana tersenyum penuh arti.
"Ayo ikut aku!" Gyana pasrah saat Leon menyeret kasar dan membawanya menuju Mansion di mana Daddy dan Mommy-nya berada. Kedua orang tua Gyana tengah berbincang di ruang keluarga karena hari itu adalah hari libur.
"Leon, Gyana," Mommy Elena bangkit, lalu mempersilahkan keduanya duduk, tapi mereka tak kunjung duduk. Mommy Elena langsung menghampiri Gyana saat melihat putri kesayangannya tengah terisak pilu.
"Apa yang terjadi?" tanya Daddy Rotham tegas.
"Gyana hamil, Daddy!" tegas Leon sambil mengulurkan sebuah dokumen. Belum sempat Daddy Rotham meraih surat itu. Tapi, Mommy Elena langsung merebut dan membacanya.
Ia langsung menangis, memeluk Gyana, dan menciumi putrinya penuh haru sambil berkata, "Akhirnya kamu hamil juga, Sayang. Mommy sangat bahagia," tuturnya.
"Coba Mommy tanya anak siapa yang dia kandung?"
"Kau tidak mengakui anakmu sendiri!" bentak Daddy Rotham dengan tangan yang mengepal sempurna.
__ADS_1
"Aku tidak pernah menyentuh Gyana selama menikah dan yang ia kandung bukanlah anakku!" tegas Leon dan ....
Plak!
Brruk!
Bogem mentah yang Daddy Rotham daratkan tepat di wajah sisi kiri membuat Leon terhentak ke lantai dengan banyak darah yang mengalir dari kedua sudut bibirnya. Mommy Elena reflek memeluk sambil menjauhkan Gyana sang putri kesayangan untuk dilindungi.
Leon menepis darah segar di bibirnya, ia sangat kaget ketika sang mertua malah murka padanya, bukannya murka kepada Gyana yang jelas hamil anak pria lain.
"Elena, bawa Gyana ke kamar."
"Baik, Sayang." jawab Mommy Elena langsung membawa Gyana ke kamarnya.
"Menikahi putriku tapi tidak menyentuhnya. Aku salah memilihmu! Entah penderitaan seperti apa yang sudah kau berikan kepada putriku!"
Leon terkulai lemas ke lantai ketika mendapatkan pukulan bertubi-tubi di perutnya. Leon tak lagi dapat bergerak saat ia benar-benar sudah babak belur.
"Ryan!" panggil Daddy Rotham.
"Iya, Tuan." jawab Asisten Ryan.
"Aku bari waktu lima menit untuk menghancurkan perusahaan laki-laki busuk ini," titahnya sambil menunjuk Leon.
__ADS_1
"Siap, Tuan." jawab Asisten Ryan tegas dan yakin.
"Panggil pengawal dan seret dia keluar," titah Daddy Rotham lagi, setelah itu ia langsung menuju kamar di mana putrinya berada.
"Bagaimana keadaan Gyana, Sayang?" tanya Daddy Rotham pada sang istri. Pandangan mata keriputnya sayu melihat sang putri tercinta terlelap dengan kening yang berkerut.
"Seperti yang kamu lihat, aku takut terjadi sesuatu pada putri kita," balas Mommy Elena menyeka air mata yang mengalir dari matanya.
"Jangan tanyakan hal apa pun padanya," pesan Daddy Rotham mengingatkan.
"Pasti. Aku tidak akan bertanya hal aneh pada putriku, dia baru saja sembuh. Aku tidak ingin dia kembali sakit," terang Mommy Elena terisak.
"Biarkan dia Istirahat, ayo kita keluar." Ajak Daddy Rotham.
"Aku akan menunggu di sini, aku takut terjadi sesuatu," Mommy Anya menolak ajakan Suaminya.
"Aku sudah memasang cctv sensor di kamar ini, kita bisa awasi dia dari jauh. Dia butuh ketenangan," bujuk Daddy Rotham dan Mommy Elena pun mengerti.
***
"Aku hamil, Lorix ....
.
__ADS_1
.
.