
Lorix menjatuhkan tubuhnya kasar ke atas ranjang, kemdian berbaring dengan kedua kaki menjuntai ke bawah. Sedangkan headset masih terpasang di kedua telinganya, guna mendengar apa saja yang Leon bicarakan dengan Gyana. Ya, sebelumnya ketika berada di dalam lift, tanpa sepengetahuan Leon, Lorix menempelkan alat penyadap suara di permukaan koper pakaian milik Gyana yang Leon tenteng saat itu.
Sayangnya, hingga saat ini Lorix masih belum mendengar apa pun, cukup aneh karena Leon maupun Gyana tidak satu pun yang memulai pembicaraan dalam waktu yang cukup lama.
"Apa mau mandi? Akan aku siapkan air hangat untukmu," akhirnya Lorix dapat kembali mendengar suara lembut itu.
Kini tidak ada lagi keraguan dalam hatinya, Aruna memang benar adalah Gyana. Lorix sangat mengenali suara lembut itu. Suara yang begitu lembut persis seperti ketika dia dan Gyana masih bersama dulu, suara menggetarkan hati persis seperti ketika Gyana masih sehat mentalnya.
Lorix merasa bahagia sekaligus bersedih. Memang dia merasa bahagia mengetahui bahwa Gyana benar-benar telah sembuh. Akan tetapi, di sisi lain Lorix juga merasa sangat tersakiti, karena dari suara lembut itu, dapat Lorix simpulkan kalau Gyana memperlakukan Leon dengan baik.
Apakah Gyana melupakannya? Tidak, itu tidak mungkin. Dari sekian banyak orang di bumi ini, tidak mungkin kalau Gyana melupakan cinta pertamanya. Tidak mungkin Gyana melupakannya begitu saja. Begitu banyak kenangan manis yang mereka ciptakan dahulu, tidak mungkin Gyana melupakan semuanya dan hanya mengingat orang lain yang jelas asing baginya.
__ADS_1
"Aku mau langsung tidur dan tidak perlu mandi, kamu kemarilah," balas Leon didengar oleh Lorix.
"Tubuhku berkeringat, aku harus mandi dulu," tiba-tiba air mata mengucur dari kedua sudut mata Lorix. Tidak ada satu pun air mata yang menetes ketika peluru menebus kulitnya. Namun, mendengar suara lembut Gyana setelah sekian lama, dapat membuatnya begitu hancur dan tersakiti. Kekuatan cinta dapat melemahkan sekuat apa pun seorang manusia, hal itu juga berlaku untuk Lorix.
"Aku juga akan membuatmu berkeringat. Jadi kemarilah, kita akan mandi setelah sama-sama berkeringat, kemarilah."
Hati pria mana yang tidak sakit mendengarnya? Lorix memejamkan matanya, seraya berdoa berharap Gyana akan menolak permintaan Leon. Karena bagaimana pun, Lorix tidak rela wanitanya kembali disentuh oleh pria lain.
"Kemarilah!" Leon menekan suaranya.
"Hempt ...."
__ADS_1
lenguhan itu Lorix dengarkan dengan hati yang dipenuhi kecamuk yang luar biasa sakit memukulnya. Lorix menyingkirkan kasar headset itu dari kedua telinganya. Kejadian di masa lalu lagi-lagi terulang. Kejadian di mana dirinya hanya dapat melihat Gyana disentuh banyak pria tanpa dapat dirinya tolong.
Dari dulu hingga saat ini, Lorix selalu gagal menjadi seorang pria yang seharusnya menjaga wanitanya. Apakah karena kelemahannya hingga membuatnya tak pantas untuk memiliki Gyana?
Detik itu juga, Lorix langsung bangkit dan segera berlari keluar dari Apartemennya. Tepat saat akan membuka pintu, Lorix dikejutkan dengan kepergian Leon yang begitu terburu-buru dengan wajah kusutnya.
Setelah memastikan Leon telah masuk ke dalam lift untuk pergi, saat itu juga Lorix menyelinap masuk ke dalam Apartemen Leon dan Gyana, yang kebetulan pintunya tidak sempat Leon tutup maupun kunci.
Lorix berlarian menuju kamar karena punya firasat yang tidak baik untuk Gyana. Dan betapa kagetnya dia ketika melihat Gyana yang ....
__ADS_1