
Karena pekerjaan yang baru selesai larut malam, Lorix pun tak bisa untuk pulang ke apartemen lebih dulu. Dia memutuskan untuk mandi di kantornya, kebetulan Lorix menyediakan banyak setelan jas di lemari karena dia memang sering menginap di perusahaan.
Setelah rapi dan tampan dengan setelan jas berwarna hitam, Lorix pun langsung tancap gas menuju kediaman Tuan Rotham, pemilik RM Grup tempatnya bekerja.
Ketika memasuki kediaman Rotham, ternyata hampir semua para tamu undangan sudah datang, Lorix melirik jam yang melingkar di lengan kirinya. Sama sekali tidak terlambat, Lorix datang tepat waktu.
"Tuan sendiri?" tanya seorang perempuan cantik nan seksi, dari wajahnya, Lorix tahu perempuan itu juga berprofesi sebagai arsitektur. Tapi, Lorix tak tahu dan tak mau tahu siapa namanya. Berhubung semua orang berpasangan, Lorix pun terpaksa memberikan lengannya untuk perempuan seksi itu gandeng.
"Nama saya Dena, Tuan harus mengingatnya mulai sekarang," ujar Dena sambil menempelkan tubuhnya ke tubuh kekar Lorix, membuat pria tampan itu merasa risih.
Tepat setelah Lorix dan Dena duduk di kursi yang tersedia, saat itu pula calon pengantin perempuan menuruni anak tanggal dengan dituntun oleh seorang wanita paruh baya. Lorix tak mengalihkan pandangannya dan terus menatap perempuan yang wajahnya tertutup veil atau kerudung yang hanya menutupi bagian wajah.
__ADS_1
Berbeda dengan veil pada umumnya, veil atau kerudung yang menutupi wajah Putri Tuan Rotham tampak lebih tebal, hingga siapa pun sama sekali tidak bisa melihat seperti apa wajah cantik di baliknya.
"Itu adalah Aruna Rotham, Putri Tuan Rotham yang selama ini menghilang dan sebulan lalu telah ditemukan. Tapi, dia mengalami fobia terhadap orang asing, karena itulah dia memakai kerudung yang menutupi seluruh wajahnya," terang Dena membuat Lorix terdiam dengan segala pemikirannya.
"Ditemukan sebulan lalu dan fobia sosial, apa jangan-jangan—" Lorix tak melanjutkan kalimatnya, membuat Dena merasa heran.
"Jangan-jangan apa, Tuan?" tanya Dena penasaran, apakah Lorix mengenal Aruna. Lorix langsung bangkit dari duduknya.
"Tuan, tuan mau ke mana?" panggil Dena, namun Lorix tetap melaju pergi ke luar dari kediaman Tuan Rotham. Dena ingin menyusul, tapi temannya menahan agar tak terus berurusan dengan pria misterius seperti Lorix.
Saat ini Lorix telah masuk ke dalam sebuah kamar, dirinya yakin kalau kamar itu adalah kamar milik Gyana yang kini berubah nama menjadi Aruna. Lorix meninggalkan kamera tersembunyi yang begitu kecil di pinggir cermin meja rias. Ketika Gyana melepaskan penutup wajahnya, maka dia akan langsung melihat apakah Aruna benar-benar adalah Gyana miliknya?
__ADS_1
Setelahnya, Lorix kembali ke tempat semula, terus menatap pengantin yang mulai digandeng seorang pria hingga tiba di altar. Lorix tersenyum ke depan sana, dugannya tidaklah salah. Lorix sangat yakin kalau wanita yang kini ada di atas sana benar-benar adalah Gyana Methra.
Lorix merasa bahagia karena pada akhirnya menemukan kembali separuh jiwanya yang telah menghilang. Walau Gyana sudah berstatus Istri pria lain, tapi Lorix tidak akan menyerah dan akan merebut kembali kekasihnya.
"Lorix, kamu dari mana saja?" Lorix memberikan tatapan tajamnya kala tak suka cara bicara Dena yang seakan sudah begitu dekat dengannya. Tapi, Lorix ingin sedikit memanfaatkan Dena untuk menjadi sumber informasinya.
"Ayo duduklah," ajak Dena menarik Lorix untuk duduk tepat di sampingnya.
"Dari perusahaan mana pengantin pria itu?" tanya Lorix to the point.
"Kenapa kamu begitu penasaran," balas Dena kembali mendapat tatapan tajam dari Lorix.
__ADS_1
"Baiklah, akan aku jelaskan. Sebenarnya, Aruna dan Leon sudah dijodohkan sejak kecil. Jadi, mereka menikah karena melanjutkan perjodohan di masa lalu. Tapi, sayangnya Leon bukanlah pria yang baik."
"Bukan pria baik?"