Terjerat Cinta Wanita Depresi

Terjerat Cinta Wanita Depresi
Bab 20


__ADS_3

Hari itu Gyana memutuskan untuk pergi ke rumah sakit seorang diri. Dengan pakaian serba hitam dan tertutup Gyana keluar dari unit apartemennya. Naik taksi online dan perjalanan ke rumah sakit pun dimulai.


Selama di perjalanan, entah sudah berapa kali mobil Gyana hentikan karena ia terus muntah-muntah. Beruntung Supir kasihan dan mau membantunya. Setidaknya Supir mau berhenti dan tidak meninggalkannya begitu saja.


Selesai mengeluarkan semua isi di perutnya, Gyana duduk di trotoar jalan. Supir mendekat dan memberikan air mineral pada Gyana, Gyana langsung meneguknya karena merasa sangat lemah yang kemungkinan karena dehidrasi.


"Nona hamil, ya?" pertanyaan tiba-tiba dari sang supir membuat Gyana yang sedang minum seketika langsung tersedak saking kagetnya, beruntung ia tidak lagi muntah.


"Maaf karena pertanyaan saya membuat Nona kaget. Apa Nona baik-baik saja?" tanya Supir itu khawatir, sedangkan Gyana tak merespon, dia terdiam dengan air mata yang tiba-tiba mengalir dari kedua sudut matanya. Perkataan sang supir membuatnya syok, napasnya sesak dan tubuhnya seketika melemas.


"Nona, bangunlah saya akan bawa Nona ke rumah sakit secepatnya," supir itu membantu Gyana bangun, membawa tubuh tak berdaya Gyana ke dalam mobilnya. Kemudian langsung tancap gas menuju rumah sakit dengan kecepatan penuh.


Sementara Gyana masih tak mengucapkan sepatah kata pun. Ia masih membatu dengan pikiran yang melalang buana. Gyana takut, takut yang dikatakan supir tadi adalah benar. Gyana takut kalau dirinya benar-benar hamil.


Diperkosa oleh banyak pria dia sama sekali tidak hamil. Tidak mungkin dirinya hamil hanya karena menolong Lorix di malam itu. Tidak, dirinya tidak mungkin hamil. Gyana menggelengkan kepalanya dengan air mata yang masih terus mengalir. Supir merasa sangat kasihan melihat kondisi Gyana.


"Kita sudah tiba di rumah sakit, Nona." ucap supir membuyarkan lamunan Gyana. Gyana yang telah sadarkan diri langsung memberikan beberapa lembar uang kepada sang supir.


"Ini lebihnya terlalu banyak, Nona."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Pak. Tapi, bisakah bapak menunggu saya. Saya tidak akan lama," pinta Gyana sambil menyeka air matanya.


"Tentu saja, Nona. Saya akan menunggu Nona di sini," jawab supir paruh baya itu.


"Terima kasih, Pak."


"Sama-sama, Nona."


Gyana langsung keluar dari mobil, berjalan gontai menuju ruangan khusus kandungan. Karena merasa tubuhnya begitu lemas, Gyana pun berpegangan pada dinding beton rumah sakit saat melewati lorong demi lorong hingga tiba di ruangan khusus kandungan.


Gyana mengambil nomor antrian, lima menit kemudian namanya dipanggil. Gyana langsung masuk ke dalam ruangan untuk bertemu dengan Dokter. "Silahkan duduk, Nona." sambut Dokter perempuan paruh baya. Gyana langsung duduk di hadapan sang Dokter.


"Saya ingin diperiksa Dokter," jawab Gyana.


"Periksa hamil atau tidak?" tebak Dokter dan Gyana langsung mengangguk mengiyakan.


"Boleh saya pinjam tangan Nona," Dokter langsung memeriksa denyut nadi Gyana. Gyana menelan saliva ketika Dokter mengerutkan dahi dengan raut wajah yang langsung berubah. Terlihat raut kesedihan di wajahnya yang hampir keriput.


Benarkah ia hamil? Kalau semisal hamil, bukankah seharusnya Dokter tersenyum senang? Apa yang terjadi? Kenapa Dokter terlihat sedih? Berbagai macam pikiran negatif menghampiri Gyana, membuatnya semakin ketakutan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi, Dokter? Apa saya benar-benar hamil?"


"Sebentar Nona, saya perlu memastikannya," Dokter bangkit, mengambil sebuah alat. Gyana kaget karena Dokter malah mengambil sample darahnya.


"Apa yang terjadi, Dokter? Apakah hamil atau tidaknya diperiksa dari darah?" tanya Gyana tak mengerti. Dokter tak menjawab ia bangkit kembali usai mengambil sample darah Gyana.


"Sebentar, Nona. Saya akan kembali sepuluh menit lagi. Tunggu sebentar," Dokter pun pergi dengan membawa sample darah Gyana. Gyana benar-benar tak mengerti apa yang sedang terjadi dan apa yang Dokter lalukan.


Sepuluh menit kemudian, Dokter kembali dengan membawa sebuah dokumen yang kemudian ia letakkan di atas meja kerjanya. "Mari ikut saya, Nona," Dokter mengajak Gyana menuju sebuah ruangan lainnya. Gyana yang pasrah langsung bangkit dan ikut.


Dokter meminta Gyana berbaring di atas brankar, meminta Gyana menyingkap bajunya dan seorang suster langsung meletakkan sebuah gel di atas perut datar Gyana. Dokter mulai menggerak-gerakkan alat di tangannya.


"Apa saya hamil, Dokter?" tanya Gyana dan Dokter langsung menatapnya sambil berkata ....


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2