
Pagi itu Gyana bangun dengan kondisi mata yang bengkak akibat menangis semalaman. Tak ketinggalan jari yang dibalut kain kasa. Karena merasa sangat lapar, Gyana pun melangkahkan kaki menuju ruang makan yang seharusnya sudah ada Lorix dan Leeva di sana.
Namun, Gyana tak menemukan siapa pun. "Apa mungkin mereka belum bangun?" gumam Gyana mengambil sekitar tiga lembar roti tawar, lalu melahapnya dengan selai coklat.
"Kenapa mereka belum juga sarapan? Apa aku susul saja?" pikir Gyana bangkit dari duduknya.
"Susul sajalah, sepertinya Leeva sama seperti aku yang dulu. Yang langsung demam bila ketakutan dengan petir," Gyana mengambil roti, lalu ia oleskan dengan selai nanas kesukaan Leeva.
Gyana membawa roti bersama dengan segelas susu. Kini, Gyana sudah berdiri tepat di depan kamar Leeva. Kejadian semalam memang sempat membuatnya sedih.
Tapi, Gyana tak ingin berlarut-larut. Gyana harus senang karena Lorix sudah menemukan penggantinya. Dan kalau tiba saatnya dia pergi nanti, akan ada pelukan hangat yang siap menguatkan pria yang selalu ia cintai itu.
"Huwa!" Gyana kaget mendengar tangisan histeris Leeva. Gyana sudah memegang ganggang pintu dan siap memutarnya agar terbuka.
Namun, ucapan Leeva selanjutnya membuat Gyana urung membuka pintu kamar. "Huwa! Kakak jahat! Bukankah kakak sudah berjanji tidak akan menyentuh Eva!" itulah teriakan Leeva yang Gyana dengar. Gyana mundur beberapa langkah.
"Leeva, dengarkan kakak bicara dulu," bujuk Lorix lembut.
"Tidak mau! Balikin keperawanan Eva! Cepat, Kak! Cepat balikin! Bukankah kakak sudah berjanji tidak akan menyentuh Eva sebelum kakak mencintai Eva! Huwa!"
Mendengar itu, Gyana langsung pergi masuk ke dalam kamar dan tak lupa mengunci pintunya. Gyana meletakkan nampan yang ia bawa ke atas nakas. Lalu duduk di pinggir ranjang dengan air mata yang mengalir dan hati yang benar-benar hancur berkeping-keping.
__ADS_1
Gyana tak mengerti bagaimana ia bisa merasa sakit saat mendengar itu. Seharusnya ia tak merasa sedih. Gyana menyeka air matanya.
"Jangan bersedih Gyana. Lorix dan Leeva adalah pasangan suami istri, tidak heran bila mereka melakukannya." Gyana berusaha menenangkan dirinya sendiri.
***
"Dengarkan kakak dulu, kakak tidak—"
"Tidak apanya? Lihatlah darah ini! Kakak benar-benar kejam! Kakak tidak mencintaiku, tapi berani merusak masa depanku!" potong Leeva.
"Kakak berani bersumpah bahwa kakak tidak melakukan apa pun padamu," terang Lorix.
"Tanggal," balas Lorix.
"Ada apa dengan tanggal? Kenapa dengan tanggal? Apa hubungannya dengan tang—".
Leeva langsung paham, saking malunya ia langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Sekarang kamu paham dari mana datangnya darah itu?" tanya Lorix melipat kedua tangan.
"Keluar! Sekarang kakak keluar! Eva malu, Kak," tukas Leeva membuat Lorix mengulum senyum.
__ADS_1
"Bukannya minta maaf, malah ngusir suami. Aku menikahi seorang gadis atau monyet howler?" (hewan paling berisik di dunia).
"Apa kakak bilang!" Leeva langsung membuka selimutnya dan siap menerkam Lorix. Lorix yang kaget langsung keluar dari kamar dengan tawa yang lepas.
BRAK!
Pintu kamar langsung Leeva tutup.
Lorix masih tertawa terbahak-bahak, baru kali ini ia bisa tertawa selepas itu. Tingkah Leeva yang sangat imut dan lucu mampu membuatnya merasa bahagia.
Namun, tawa itu mendadak hilang ketika Lorix baru menyadari bahwa dirinya keluar dari kamar hanya dengan memakai handuk mini yang menggantung di pinggang kekarnya.
"Leeva, buka pintunya dulu. Kakak belum mengenakan baju," bujuk Lorix.
"Tidak usah pakai baju! Telan jang saja!"
.
.
.
__ADS_1