
"Mommy sudah meminta Daddy-mu untuk mengatakan hal ini kepada Leon."
"Hal apa, Mommy?" tanya Gyana penasaran.
"Bulan madu kalian berdua." jawab Mommy Elena antusias.
"Bulan madu?"
BRAK!
"Astaga!" teriak Mommy Elena dan Gyana bersamaan.
"Suara apa itu, Mommy?" tanya Gyana yang masih mengelus dadanya agar merasa tenang.
"Entahlah. Tapi, sepertinya berasal dari tamu restoran lain yang ada di sebelah, ayo lanjutkan makanmu, Sayang."
"Baik, Mommy." Ibu dan Anak itu melanjutkan makannya masing-masing.
"Mommy, aku ingin mengatakan sesuatu," tutur Gyana pelan.
"Apa itu, Sayang? Ayo katakan, Mommy akan turuti apa pun yang kamu inginkan," Mommy Elena mendesak tak sabaran. Sejak pertama kali ditemukan kembali dengan Sang Putri, dia tampak begitu bahagia. Bahkan, rasanya masih belum bisa menerima kalau Putrinya tercinta sudah menikah dan dimiliki oleh orang lain. Belum puas baginya merawat Aruna hingga sembuh dari depresinya.
__ADS_1
"Bisakah tidak perlu ada bulan madu?" tanya Gyana (Aruna) membuat Mommy Elena langsung menghentikan aktivitas makannya.
"Kenapa, Sayang? Apa kamu tidak ingin liburan ke luar negeri? Atau ada tempat impian yang ingin kamu kunjungi?" tanya balik Mommy Elena, sulit baginya untuk mengerti apa yang diinginkan Putrinya.
"Tidak ada alasan lain, Mommy. Aku hanya tidak siap untuk pergi jauh, aku khawatir penyakitku kambuh. Untuk hamil perasaan dan batinku harus tenang, percuma bulan madu ke luar negeri bila aku merasa tidak aman," terang Aruna menjelaskan alasannya kepada Mommy Elena.
Wajah cantik Mommy Elena yang mulai keriput, tampak menunjukkan perasaan bersalah. "Astaga, maafkan Mommy, Sayang. Bagaimana mungkin Mommy melupakan akan perasaanmu. Baiklah, kamu tidak perlu lagi pikirkan, Mommy akan menjelaskan kepada Daddy-mu untuk membatalkan rencana bulan madunya," terang Mommy Elena mampu menerbitkan senyuman manis di bibir sensual Aruna (Gyana).
"Terima kasih, Mommy."
"Sama-sama, Sayang, sekarang kamu makan lagi, ya. Setelah ini, Mommy akan membawamu ke dokter kandungan kenalan Mommy," Mommy Elena mengelus lembut kepala Aruna (Gyana).
***
"Dokter kandungan? Apa Gyana benar-benar ingin hamil anak dari pria sialan itu? Apa kamu benar-benar sudah melupakan aku, Gyana? Bagaimana mungkin cinta bisa tidak seadil ini. Kamu sembuh dan sudah melupakanku, tapi aku yang gila karena cinta yang begitu besar untukmu," keluh Lorix sambil mendekap dada bidangnya.
Beberapa menit kemudian, Lorix tak lagi mendengar suara dari ruangan sebelah. Itu berarti, Ibu dan Anak itu telah menuju rumah sakit. Tak ingin ketinggalan jauh, apalagi sampai kehilangan jejak. Lorix bergegas keluar saat itu juga.
Tiba di pelataran parkir, Lorix langsung masuk ke dalam mobilnya saat melihat mobil milik Nyonya Elena sudah keluar dari pagar beton restoran. Setelah membawa mobilnya dengan kecepatan yang tinggi, Lorix pun berhasil menyusul. Akan tetapi, Lorix tetap menjaga jarak agar tak dikira sebagai penguntit.
Beruntung Supir Nyonya Elena membawa mobilnya dengan kecepatan sedang, jika tidak. Maka dipastikan Lorix akan ketinggalan jauh. Lantaran perbedaan merk dan kualitas antara kedua mobil sangat berbeda jauh.
__ADS_1
Sampai di sebuah rumah sakit ternama di kota. Lorix kembali menguntit secara diam-diam, dengan keahlian yang dia miliki, mendengar percakapan dari ruangan yang berbeda lagi-lagi adalah hal mudah baginya. Lorix mulai mendengar perbincangan secara detail.
"Kapan terakhir kali Nona dan Suami melakukan hubungan intim?" tanya seorang Dokter perempuan kepada Gyana.
"Beberapa hari lalu, Dokter." Jawaban Gyana membuat Lorix berpikir.
***
"Beberapa hari? Lalu semalam?"
.
.
.
Hallo semuanya, maaf novel ini masih slow update walau author sudah mulai aktif menulis🙏🏻
Sambil menunggu, yuk baca juga novel terbaru Author yang update setiap hari🤗 Terimakasih 🙏🏻😘
__ADS_1