Terjerat Cinta Wanita Depresi

Terjerat Cinta Wanita Depresi
Bab 26


__ADS_3

"Kakak ... Stadium empat?" Leeva menutup mulut dengan kedua telapak tangan, sedangkan air mata mengalir dari kedua sudut matanya.


Gyana bangkit dari kursi, lalu berlutut di hadapan Leeva yang masih duduk di tempat dengan raut wajah terkejutnya.


"Delapan bulan saja hingga anak ini lahir. Aku mohon izinkan aku menjadi istrinya hingga anak ini lahir." tutur Gyana berlutut dengan telapak tangan yang menyatu, sedangkan air mata terus mengalir deras. Leeva kaget dan langsung bangkit kemudian ikut berlutut di hadapan Gyana.


"Besok, besok datanglah ke rumahku. Temui dan bicarakan baik-baik dengannya," Gyana mengangkat wajahnya dengan tangisan yang semakin menjadi. Tak ia sangka Leeva adalah wanita yang benar-benar baik. Gyana tak menyangka Leeva mengabulkan keinginannya secepat itu.


"Kamu yakin?"


"Tentu saja. Datanglah besok, aku akan membantu kakak membujuknya," tutur Leeva tulus, Gyana langsung memeluknya erat dengan terus mengucapkan terima kasih yang banyak.


"Aku kira hidupku yang paling sulit. Namun, rupanya aku salah. Sekarang aku sadar, aku sama sekali tidak menderita," batin Leeva sambil menepuk pelan pundak Gyana. Leeva mengerutkan alis ketika pelukan itu mulai longgar. Leeva langsung melepaskan diri, dan betapa kagetnya ia saat melihat Gyana yang sudah tak sadarkan diri.

__ADS_1


Leeva membawa Gyana ke rumah sakit. Dokter mengatakan kepada Leeva kalau tidak segera ditangani maka Gyana tidak akan bertahan lama. Namun, Gyana bangun dan menanyakan kepada Dokter berapa persen keselamatan bila ia melakukan kemoterapi. Dokter pun menjawab ada kemungkinan 10% selamat. Dan Gyana dengan tegas mengatakan akan menggunakan 10% itu untuk keselamatan calon bayinya saja.


Dokter pun tak lagi memaksa, sementara Leeva tak henti menangis. Ia terharu akan kebaikan hati seorang Gyana. Kini Leeva paham kenapa Lorix sangat mencintai Gyana. Gyana memang pantas mendapatkan cinta tulus seorang Lorix.


Setelah keadaannya mulai membaik, Leeva pun mengantarkan Gyana pulang. Beruntung supir tak tahu saat Gyana pergi ke rumah sakit. Saat supir menelpon, Gyana sudah berada di rumah.


***


Sore harinya di ruang keluarga, Daddy Rotham, Mommy Elena dan juga Gyana tengah berkumpul dan berbincang ringan sambil meneguk teh hijau. Namun, tiba-tiba saja Gyana minta dibuatkan roti isi kepada sang Mommy. Dengan bersemangat Mommy Elena menuju dapur untuk menyiapkan makanan yang diinginkan oleh putri sekaligus calon cucunya.


"Daddy tahu Lorixs Lore?" tanya Gyana.


"Arsitektur yang mengundurkan diri dari perusahaan. Dia arsitektur terbaik, tentu saja Daddy mengingatnya," jawab Daddy Rotham.

__ADS_1


"Dia adalah pria yang menjagaku selama ini, Daddy. Dan aku mencintainya, aku sangat mencintainya," tutur Gyana dengan air mata yang mulai mengalir dari kedua sudut matanya.


"Anak ini," Gyana mengusap perut datarnya, lalu melanjutkan lagi kalimatnya, "Anak yang ada di kandunganku adalah—"


"Anaknya." sambung Daddy Rotham membuat Gyana kaget. Sungguh tak ia sangka bahwa sang Daddy mengetahui hal itu.


"Sejak kapan Daddy tahu?"


"Sejak Daddy mencurigai Leon, karena itulah Daddy meminta Mommy-mu untuk menjengukmu setiap hari, untuk memastikan kamu baik-baik saja. Tapi Gyana, Lorix sudah menikah."


"Aku tahu Daddy, aku ingin bersama dengannya di sisa hidupku karena aku mengidap penyakit—"


"Leukimia stadium empat," lanjut Daddy Rotham dengan air mata yang mengalir dari salah satu sudut matanya.

__ADS_1


PYARR!


__ADS_2