Terjerat Cinta Wanita Depresi

Terjerat Cinta Wanita Depresi
Bab 19


__ADS_3

Heok!


Gyana memuntahkan seluruh isi perut yang baru saja dimakannya pagi itu. Beruntung Mommy Elena telah pulang, kalau tidak, sudah dipastikan sang mommy akan memaksa Gyana untuk pergi ke rumah sakit.


"Ada apa denganku? Kenapa akhir-akhir ini selalu muntah? Apa ini efek kesembuhan dari depresiku? Atau justru sebaliknya, apa depresiku sudah akut?" tanya Gyana bingung akan apa yang terjadi kepada kondisi tubuhnya akhir-akhir ini.


Tidak biasanya ia mudah lelah dan bahkan selalu muntah-muntah. Meksi tahu kondisinya tidak baik-baik saja. Tapi, Gyana tak ingin pergi ke rumah sakit. Entah kenapa Gyana membenci tempat itu.


Yang Gyana inginkan saat ini hanya melihat Lorix dan bahkan Gyana merasa sangat ingin memeluk dan dipeluk pria yang dicintainya itu. Namun, sayangnya ia sudah tak pernah lagi melihat Lorix. Gyana tak mengerti ada apa dengannya, kenapa akhir-akhir ini dia sangat merindukan Lorix, rasa rindu itu benar-benar menyiksanya. Membuatnya tak bisa tidur dengan tenang. Padahal, ia sendiri yang sudah memutuskan untuk menyerah akan cintanya kepada Lorix.


"Ke mana kamu pergi, Lorix? Kenapa pergi begitu saja tanpa memberitahuku lebih dulu? Kamu memang jahat, kamu benar-benar jahat. Aku merindukanmu Lorix, sangat merindukanmu, aku mohon berhenti menyiksaku dengan rindu ini," gumam Gyana menjatuhkan perlahan tubuhnya ke lantai dingin kamar mandi. Air matanya mengalir begitu deras, karena rasa rindu yang sangat menyiksa membuatnya segan untuk terus hidup.


"Hey! Apa yang kau lakukan di dalam sana!" teriak Leon di luar sana. Gyana langsung bangkit, menyeka cepat air matanya, kemudian langsung membuka pintu kamar mandi.


"Lama! Minggir!" Leon mendorong tubuh lemah Gyana, beruntung Gyana masih bisa menjaga keseimbangan tubuhnya hingga tak berakhir terjatuh di lantai.


BRAK!

__ADS_1


Suara pintu kamar mandi yang ditutup kasar oleh Leon. Gyana mengelus dadanya yang sesak, kemudian langsung menuju ranjang dan beristirahat karena tubuhnya terasa lelah.


Baru saja beberapa menit Gyana terlelap. Namun, sebuah bantal mendarat di wajah membuat Gyana pun terbangun detik itu juga.


"Ada apa, Leon? Kenapa kau selalu kasar begini?" kesal Gyana.


"Salahmu yang tidak becus menjadi seorang istri," jawab Leon yang saat itu sudah mengenakan pakaian santainya.


Mendengar ucapan Leon, Gyana mengepalkan tangannya sambil berkata, "Memangnya kamu becus menjadi seorang suami?" balas Gyana membentak.


"Jangan berani-beraninya membentakku, cepat buatkan sarapan untukku!" titah Leon menarik Gyana dengan kasar.


"Lepaskan! Aku menyesal menikah denganmu, Leon!" teriak Gyana langsung menepis tangan Leon. Leon tersenyum smirk.


"Bagus, itulah yang aku inginkan," balas Leon membuat buliran bening langsung mengalir dari kedua sudut mata Gyana.


"Cepat buatkan sarapan untukku!" lagi dan lagi Leon mendorong kasar tubuh lemah Gyana. Gyana pun terpaksa menuju dapur dan membuatkan sarapan untuk Leon. Gyana memasaknya sembarang, bahkan ia tak mencicipinya sama sekali. Setelah selesai, Gyana langsung membawanya ke meja makan di mana Leon sudah menunggu di sana.

__ADS_1


"Cih! Sampah apa yang kau masak?" teriak Leon murka.


"Aku tidak bisa masak," bohong Gyana.


PYAR!


Leon membuang makanan itu beserta piringnya sambil berkata, "Dasar istri tidak becus! Tidak berguna!" Gyana meringis saat salah satu pecahan kecil beling melukai pergelangan kakinya.


Leon bangkit dari duduknya, lalu pergi begitu saja meninggalkan Gyana dengan tangan yang menggenggam erat, air mata yang mengalir Gyana biarkan.


Gyana masih berdiri di tempat semula saat Leon keluar dari kamar dengan setelan jas yang rapi, lalu pergi entah ke mana, Gyana tak peduli. Gyana lega karena ia bisa melanjutkan istirahat dengan tenang.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2