
Acara telah selesai dan semua orang kembali ke rumah masing-masing, tetapi tidak dengan Lorix yang kini masih menepi di pinggir jalan. Di dalam mobilnya, Lorix sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dan terus memerhatikan layar ponsel yang tersambung dengan cctv tersembunyi yang dia letakkan di kamar Gyana.
Lorix tak sabar ingin menyaksikan wajah kekasih yang selama sebulan ini tidak pernah dirinya lihat lagi. Kata-kata kasar mulai keluar dari mulutnya kala Gyana tak juga masuk ke dalam kamarnya. "Sial, apa yang mereka lakukan saat ini? Aku tidak lagi punya akses untuk meretas cctv di rumah itu. Sial!" umpat Lorix kesal.
"Aku tidak mungkin salah kamar," lanjutnya lagi. Tepat setelah mengucapkan kalimatnya, sebuah mobil mewah berwarna biru melintas dengan kecepatan tinggi. Lorix langsung menoleh dan jelas dia dapat melihat Gyana walau sekilas. Walau ada banyak perubahan dari wajah itu, tentu Lorix dapat memastikan kalau yang dirinya lihat sekilas tadi benar-benar adalah Gyana yang kini menjelma menjadi Aruna.
Tanpa berlama-lama, Lorix segera tancap gas juga dengan kecepatan tinggi guna menyusul mobil berwarna biru di depan sana. Sayangnya, mobil di depan sana adalah mobil jenis Ferrari yang telah dimodifikasi. Sangat berbeda jauh dengan mobil yang kini Lorix gunakan. Hingga dapat dipastikan Lorix ketinggalan cukup jauh.
Lorix harus menajamkan pandangannya agar tidak kehilangan jejak walau berjarak jauh. "Sial, apa pria sialan itu akan membawa Gyana tinggal di rumah sendiri? Kalau iya, aku tidak akan membiarkan dia menyakiti Gyana walau seujung rambut pun!" Raut wajah Lorix tampak begitu menakutkan. Cukup menyakitkan baginya untuk menerima kalau Gyana telah sah menjadi Istri pria lain.
Dan kini, dia juga harus menerima kenyataan kalau mereka tinggal seatap, dengan tinggal di rumah sendiri, sudah pasti pria sialan bernama Leon itu akan dapat dengan bebasnya menyakiti Gyana.
Masih di pusat kota, rupanya Leon mengajak Gyana tinggal di sebuah Apartemen. Lorix seketika menyeringai lantaran Apartemen yang dituju Leon adalah Apartemen yang sama dengan Apartemen yang Lorix tinggali saat ini.
Setelah memarkirkan mobilnya di tempat biasa, Lorix langsung berlari menyusul Leon dan Gyana yang sudah lebih dulu tiba. Walau wajah Gyana ditutupi dengan masker, kacamata hitam, topi berwarna hitam, tetap saja Lorix dapat mengenali wanitanya.
__ADS_1
Keberuntungan benar-benar berada di pihak Lorix, karena Leon dan Gyana tinggal di lantai sepuluh, lantai yang juga sama dirinya tinggali. Setiap lantai di Apartemen termewah di kota itu hanya menampung dua unit hunian. Karena berada di lantai yang sama, Lorix memiliki banyak kesempatan untuk bertemu dan lebih dekat dengan Gyana.
"Maaf, saya terburu-buru!" Lorix menghentikan pintu lift yang semula akan segera tertutup.
"Silahkan," jawab Leon terlihat ramah. Namun, dia langsung mendekap bahu Gyana yang ada di samping kanannya, sedangkan Lorix berada di samping kirinya.
"Ke lantai sepuluh?" Lorix berbasa-basi.
"Iya, aku dan Istriku akan tinggal di sana," Leon masih memasang topeng di wajahnya. Dengan wajah babyfacenya, siapa saja pasti akan tertipu dengan topengnya.
"Oh begitu," balas Leon singkat, dengan makna kalau dia tidak ingin terlalu akrab dengan Lorix yang baru ditemuinya.
"Kenapa Istrimu hanya diam?" kembali Lorix bertanya, dia benar-benar mengerahkan seluruh kemampuannya dalam berinteraksi, jelas sebelumnya Lorix adalah pria yang tidak terlalu suka berbasa-basi.
"Dia fobia terhadap orang asing," jawab Leon lembut seraya mengelus kepala Gyana, membuat Lorix mengepalkan tangannya tak terima. Lorix terus memperhatikan Gyana yang benar-benar telah berubah. Bahkan, juga dengan warna rambutnya. Meski demikian, Lorix tetap yakin kalau Aruna adalah Gyana.
__ADS_1
Ting!
Lift terbuka, Leon menuntun Gyana keluar dari lift. Sementara Lorix mengekor di belakangnya. "Seharusnya Gyana mengenaliku."
.
.
.
Lorix
Aruna (Gyana)
__ADS_1