
"Bagaimana kondisi kandungan saya, Dokter? Masih bisa bertahankan, Dokter?" tanya Gyana usai diperiksa oleh Dokter.
Mommy Elena menatap putrinya sedih. Bukannya menanyakan keadaannya, Gyana justru menanyakan keadaan calon bayinya.
"Kondisi kandungan Nona sehat, sangat sehat, saya akan resepkan obat yang aman dikonsumsi untuk Nona," terang Dokter.
"Terima kasih, Dokter." ucap Gyana tulus. Tak lupa Gyana juga meminta resep obat agar ia tak terus-menerus mual dan muntah.
Usai diperiksa, Gyana tak langsung diantarkan pulang oleh Mommy Elena. Ia masih belum puas melepas rindunya.
Hari itu Mommy Elena meninggalkan banyak kenangan indah untuk Gyana. Mommy Elena menuruti ke mana pun Gyana mau. Mereka ke Mall, taman bermain, dan tempat lainnya.
Sore harinya, barulah Gyana diantarkan pulang oleh sang mommy. Gyana disambut penuh kekhawatiran oleh Leeva. "Kakak dari mana saja? Aku tidak bisa menghubungi nomor kakak."
"Maaf, Leeva. Aku lupa menghubungimu dan ponselku mati karena kehabisan daya." jelas Gyana.
"Baiklah, kalau begitu mari kita makan malam bersama, kak. Kak Lorix sudah menunggu di meja makan," ajak Leeva dan Gyana pun patuh mengekor di belakang Leeva hingga tiba di ruang makan yang sudah ada Lorix di sana.
Gyana dan Leeva duduk berhadapan. Di samping mereka berdua ada Lorix yang sudah melahap makan malamnya.
"Malam ini kak Lorix tidur di kamar Gyana," ucapan Leeva sukses membuat Lorix kaget.
__ADS_1
Sedangkan Gyana menatap Lorix penuh harap. Ia sangat rindu dan menginginkan sentuhan-sentuhan lembut Lorix, pria yang ia cintai. Lorix terdiam, ia mengiyakan juga tidak menolak.
Gyana merasa gugup karena saat masuk ke dalam kamarnya, Lorix sedang duduk di sofa sambil mengotak-atik laptopnya.
Gyana yang baru masuk berjalan melewati, mengambil jubah mandi dan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Usai membersihkan diri, Gyana berjalan menuju lemari dan langsung mengenakan piyama tidurnya.
Sementara Lorix masih fokus menatap layar laptopnya. Melihat itu, Gyana keluar dari kamar, berinisiatif membuatkan kopi untuk Lorix.
Gyana kembali masuk ke dalam kamar dengan segelas kopi hitam buatannya. Gyana berjalan mendekati Lorix dengan senyuman manisnya.
"Lorix aku bawa—
Suara petir menggelegar.
PYARR!
Gyana yang kaget tak sengaja menjatuhkan gelas berisi kopi panas yang ia buatkan khusus untuk Lorix.
"Leeva!" teriak Lorix menutup laptop cepat, bangkit dan langsung pergi meninggalkan Gyana seorang diri.
Gyana yang penasaran mengekor di belakang Lorix. Seperti dugaannya, Lorix masuk ke dalam kamar Leeva. Gyana berdiri di depan ambang pintu kamar Leeva dan Lorix.
__ADS_1
DUAR!
"Eva takut, Kak!" teriak Leeva histeris, Gyana dapat mendengarnya.
"Tenanglah Leeva, jangan takut ada kakak di sini," bujuk Lorix khawatir.
Gyana tersenyum simpul, matanya berkaca-kaca. Saat ia berkedip, tetesan air matanya pun jatuh tepat di ibu jarinya yang terluka karena pecahan beling.
Gyana menatap lukanya dengan hati teriris perih bak disayat sembilu. Perih luka di jarinya tak sebanding dengan perih di hatinya. Gyana tak kuasa menahan tangis kala mendengar suara lembut Lorix yang masih menenangkan Leeva yang ketakutan.
"Kamu benar-benar sudah melupakanku. Seharusnya aku tidak datang dan merusak kebahagiaan kalian berdua," batin Gyana masih menatap pintu kamar Leeva, walau pun suara yang menenangkan itu mulai menghilang, sepertinya Lorix berhasil membuat Leeva tak lagi ketakutan.
Gyana membalikan badan dan mulai melangkahkan kakinya. "Mulai saat ini aku berjanji tidak akan berharap lebih lagi, Lorix. Cukup dengan melihatmu setiap waktu aku sudah sangat bahagia," batin Gyana menghentikan langkah lalu menoleh ke belakang. Kemudian kembali melanjutkan perjalanan menuju kamarnya.
"Maafkan aku Leeva, maafkan keegoisanku yang telah merebut suamimu."
.
.
.
__ADS_1