
Gyana telah siap dan menunggu di depan gerbang rumah. Beberapa menit kemudian, Mommy Elena datang bersama supirnya. Gyana langsung masuk ke dalam mobil.
"Kamu baik-baik saja, kan, Sayang?" raut wajah mommy Elena tampak begitu khawatir.
"Gyana baik-baik saja, Mommy. Gyana cuma rindu Mommy dan Daddy. Daddy ada di rumah tidak, Mommy?"
"Sepertinya sudah diperjalanan pulang. Saat Mommy mengatakan kalau kamu akan pulang, dia langsung membatalkan jadwalnya ke luar negeri," terang Mommy Elena.
"Gyana sayang Mommy Daddy," Gyana memeluk erat sang mommy tercinta.
Beberapa menit di perjalanan, mobil pun berhenti di depan pintu utama mansion mewah milik kedua orang tuan Gyana.
Kedatangan Gyana jelas di sambut heboh oleh Daddy Rotham. Mereka berkumpul bersama menghabiskan waktu. Mommy Elena dan Gyana masak untuk makan siang. Tak hanya mereka berdua, tapi Daddy Rotham juga ikut masak bersama.
Pelayan maupun chef mereka berikan banyak uang dan pulang lebih awal untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga mereka masing-masing. Untuk saat ini, uang dan harta sedikit pun tidak ada artinya bagi mereka.
Tidak main-main, seperempat dari harta mereka sudah disumbangan. Bahkan, cabang-cabang perusahaan milik Daddy Rotham yang tersebar di seluruh kota maupun negara, sudah mereka berikan secara cuma-cuma kepada keluarga yang membutuhkan.
__ADS_1
Ada banyak keluarga melarat yang bahkan tak punya tempat tinggal, mendadak jadi jutawan berkat kebaikan hati kedua orangtua Gyana. Namun, meraka tak kunjung jatuh miskin, karena semakin disedekahkan, harta mereka justru semakin bertambah.
Pelayan maupun pengawal mereka, juga mereka berikan harta yang tak sedikit jumlahnya. Meski pelayan dan pengawal mereka sudah kaya raya, tapi mereka tetap ingin mengabdi pada tuannya yang baik hati.
Semuanya mereka berdua lakukan, berharap sedikit belas kasih Tuhan. Agar mau memberikan keajaiban kepada Gyana untuk segera sembuh. Mereka rela hidup sederhana tanpa bergelimang harta. Asalkan putri mereka satu-satunya diberikan kesembuhan. Hanya itu yang pasangan paruh baya itu inginkan.
Gyana berkumpul bersama kedua orangtuanya hingga malam tiba. Setelah merasa puas, Mommy Elena pun langsung mengantarkan Gyana pulang kembali ke rumah suaminya. Keduanya menangis ketika melepas kepergian putri mereka.
Gyana menyeka air matanya, kemudian melangkah masuk ke dalam rumah. Terlihat sepi, tidak ada Mana Leeva. Sepertinya ia tak jadi menginap. Gyana kembali melangkah menuju kamarnya.
Namun, langkah kakinya terhenti kala mendengar teriakan pertengkaran dari dalam kamar Leeva. Gyana mendekat dan mendengarkan pertengkaran hebat Keduanya.
bentak Leeva.
"Lalu apa yang harus aku lakukan, Leeva? Kamu kira rasa bersalahku padamu tidak sakit? Keberadaannya di sisiku, tidak hanya membuatku sakit kala teringat masa sulit saat bersamanya? Tapi, juga membuatku sakit saat merasa bersalah padamu!" balas Lorix dengan urat leher yang mengencang.
Mendengar itu, Gyana langsung keluar dari rumah, lalu berlari di dalam kegelapan malam. "Kapan penderitaan ini akan berakhir?!" teriak Gyana menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
"Apa masih kurang, Tuhan? Ayo, berikan aku penderita lagi!"
DUAR!
Hujan yang begitu lebatnya mengguyur Gyana saat itu juga. "Bukan hujan yang aku pinta Tuhan," tangis Gyana yang mulai kehabisan tenaga.
Gyana menepi, duduk meringkuk di trotoar jalan. Ia benar-benar merasa lelah, tubuhnya bergetar kedinginan. Gyana meraba saku bajunya, kemudian menghubungi nomor Mommy Elena.
"Gyana, Sayang. Apa yang terjadi?" tanya Mommy Elena panik kala mendengar suara hujan dan petir yang menggelegar.
"Mommy, jemput Gyana. Gyana tidak sanggup, Gyana benar-benar lelah. Tolong bawa Gyana pergi," tutur Gyana dengan suara tangisan pilu.
"Tetap di sana, Mommy segera datang!" seru Mommy Elena yang berhasil melacak posisi sang putri tercinta.
.
.
__ADS_1
.
Agak ngebut, Guys. Tolong dimaafkan typonya 🙏🏻😭 Boleh banget komen kalau kalian nemuin kata typonya ya guys. Maaciw bantuannya 😘