Terjerat Cinta Wanita Depresi

Terjerat Cinta Wanita Depresi
Bab 35


__ADS_3

"Pelayan," panggil seseorang pada Gyana yang tengah beristirahat dengan penampilan yang persis seperti tukang kebun. Gyana melirik kiri dan kenan, jelas tak ada orang sama sekali.


"Saya?" tanya Gyana menunjuk dirinya sendiri.


"Memangnya siapa lagi?" tanya balik wanita paruh baya dengan penampilan yang modis.


"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya Gyana sopan dan ramah.


"Leeva anak saya adakan di dalam?" tanyanya yang tampak tak menyukai Gyana.


"Ada, Nyonya. Silahkan masuk saja," jawab Gyana.


"Pelayan kok modelannya kayak kamu gini sih? Lorix becus tidak menjaga putriku? Putriku yang malang," ketusnya membuat Gyana kebingungan.


"Yahh, malah diam! Ini bawa koper saya!" bentaknya sambil memberikan koper berisi pakaiannya kepada Gyana. Gyana langsung menyambutnya, lalu mengekor di belakang wanita paruh baya itu hingga tiba di dalam rumah.


***


"Oh iya, kak. Kak Gyana di mana? Astaga, kak Gyana apa belum sarapan?"


"Tidak perlu sepanik itu. Dia sudah sarapan lebih dulu dan sekarang dia sedang berkebun di taman depan," terang Lorix tetap santai melahap sarapannya.


"Taman depan? Kenapa kakak biarin?" protes Leeva langsung bangkit untuk menjemput Gyana.

__ADS_1


"Eva sayang!" seru seseorang membuat kaget Leeva.


"Mama!" sambut Leeva antusias menyambut kedatangan sang ibu tercinta. Melihat itu, Lorix ikut bangkit dari duduknya.


"Mama sangat merindukanmu, Sayang." keduanya saling memeluk begitu erat.


"Eva juga sangat merindukan mama," balas Eva memeluk mamanya erat. Tapi saat membuka mata, Leeva kaget melihat Gyana yang penampilannya begitu kusut.


"Kak Gyana," ucap Leeva langsung melepas pelukannya. Dan gantian Lorix menundukkan kepala memberi hormat kepada ibu mertuanya.


"Kamu cuma membawa satu pelayan di rumah ini, Lorix?" tanya Mama Leeva yang memiliki nama Kania.


"Mama, Kak Gyana ini adalah—"


Tak ingin lagi bersedih karena memikirkannya, Gyana pun memilih masuk ke dalam kamar untuk membersihkan tubuhnya kotor.


Usai membersihkan diri, Gyana keluar dari kamar dan segera menuju ruang makan karena merasa lapar dan sudah saatnya untuk makan siang.


"Nah ini dia orangnya, dari mana saja kamu? Pelayan kok bukannya masak bikin makan siang, malah enak-enakkan di kamar," oceh Mama Kania murka.


Gyana menelan saliva, ia hanya diam dan tak bisa berkata apa pun. "Mama," panggil Leeva.


"Ada apa, Ma?" tanya Leeva yang baru saja tiba di dapur, disusul Lorix yang mengekor di belakang sang istri.

__ADS_1


"Ini pelayan kamu, bukannya masak untuk makan siang, malah baru keluar dari kamarnya," protesnya.


"Mama, Kak Gyana ini—"


"Memang Lorix yang memintanya agar tidak masak, Ma." potong Lorix membuat Leeva kesal. Lorix tak akan membiarkan Leeva mengatakan kalau Gyana adalah istri keduanya.


"Kenapa?" Mama Kania bertolak pinggang.


"Karena Lorix akan bawa Mama dan Leeva untuk makan siang di luar, di restoran milik Lorix yang baru saja buka," tutur Lorix sesekali menatap Gyana yang tampak berkaca-kaca matanya. Makan di restoran yang Lorix buka. sungguh Gyana juga ingin merasakannya.


"Benarkah, Sayang? Kamu romantis banget sih," balas Mama Kania senang. Sementara Leeva benar-benar merasa bersalah kepada Gyana.


"Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang," ajak Mama Kania langsung menyeret putrinya dan juga Lorix. Mereka bertiga pergi dan lagi-lagi meninggalkan Gyana yang mengelus perutnya yang lapar.


Gyana yang sudah tak sanggup diperlakukan tak adil, langsung berlari menuju kamarnya. Gyana meraih ponsel, menyekar air mata, lalu menghubungi Mommy Elena.


"Cucu Mommy rindu masakan grandmanya," rengek Gyana dengan setetes air mata.


"Mommy segera datang, Sayang."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2