
"Apa pun alasannya, kakak tidak seharusnya melukai wanita yang tidak hanya batinnya yang terluka tapi juga fisiknya," lanjut Leeva yang emosinya sudah memuncak.
"Katakan kepadaku, Leeva. Katakan padaku bagaimana kalau kamu berada di sisiku? Katakan apa pilihanmu jika menjadi aku? Apa yang akan dilakukan bila dibuat sakit oleh dua wanita sekaligus. Kalau kamu jadi aku, siapa yang akan kamu pilih?!"
"Kak Gyana, kalau Leeva jadi kakak, maka Leeva pasti akan memilih kak Gyana."
"Kenapa?"
"Karena Leeva tidak ingin menyesal karena tidak menemaninya di sisa hidupnya." jawab Leeva.
"Apa maksudmu?" tanya Lorix penasaran.
"Aku akui aku memang sakit bila melihat kakak bersama Kak Gyana. Tapi, sakit yang aku rasakan tidak akan sebanding dengan sakit dari penyakit yang saat ini Kak Gyana idap," terang Leeva membuat Lorix membatu.
"Penyakit?" hanya kata itu lolos dari bibir Lorix yang bergetar.
__ADS_1
"Iya. Asal kakak tahu, saat pertama kali bertemu dengan Kak Gyana, ia langsung memohon dan bersujud di bawah kakiku. Ia memohon agar memberikannya waktu selama delapan bulan untuk bersama kakak. Tapi, apa yang kakak perlakuan pada wanita yang bahkan merelakan nyawanya demi melahirkan darah daging kakak." tutur Leeva.
"Kak Gyana sudah menceritakan segalanya padaku. Dia bilang Kakak tidak tahu menahu kalau yang ia kandung adalah darah daging kakak. Karena saat itu kakak dalam pengaruh obat perang sang, Kak Gyana datang diam-diam untuk menyelamatkan hidup kakak," lanjut Leeva membuat Lorix meneteskan air mata. Ia baru menyadari hal itu. Lorix mengumpat kebodohannya yang tak bisa mengenali darah dagingnya sendiri.
"Dan yang paling penting adalah. Kak Gyana merelakan hidupnya demi calon buah hatinya. Apa kakak tahu kenapa aku mengatakan bahwa Kak Gyana mengorbankan nyawanya?" Leeva kembali menjeda kalimatnya, ia menyeka air matanya lebih dulu, kalimat terakhir yang ingin ia ucapkan terlalu berat baginya.
Sedangkan Lorix masih membatu, ia tak tahu harus berbuat apa. Perasaan bersalah semakin meningkat. Hatinya tak karuan, seakan tak siap menerima sebuah kenyataan yang akan Leeva katakan.
"Kak Gyana mengudap penyakit Leukimia stadium akhir, ia mengatakan padaku kalau hidupnya tidak akan lama."
Lorix terjatuh dan bersimpuh di lantai. Tubuhnya melemas, napasnya sesak, keringat dingin mengalir deras, seakan begitu kuat dan kencang pukulan yang ia terima hingga tak sanggup menopang tubuh kekarnya.
Kenyataan yang ia dengarkan dari istri pertamanya sambat sulit ia terima. Lorix tak kuasa menahan tangis, wajah tampannya langsung hilang. Memang sangat jelek ketika seorang pria tangguh sedang menangis.
"Anakku ... Gyanaku ...." lirihnya lalu meninju lantai keramik hingga tangannya berdarah. Leeva kaget melihatnya. Walau ia sudah menyangka Lorix akan sehancur itu, tapi tetap saja hal itu membuatnya juga merasa sakit. Leeva juga manusia biasa. Manusia bisa yang akan sakit hatinya, ketika suaminya menangis, marah, dan menderita untuk wanita lain.
__ADS_1
"Kenapa kamu mengatakannya sekarang, Leeva?" pertanyaan itu bergetar hebat, pria dengan darah dan air mata yang mengalir bersamaan itu masih menundukkan wajah menyesali perbuatannya.
"Bodoh! Daripada menyalahkanku, lebih baik kakak pergi, cari kak Gyana dan minta ampun padanya."
"Kamu benar," Lorix langsung bangkit, kemudian berlari keluar dari kamarnya.
Leeva terjatuh ke lantai. Sakit, hanya sakit yang ia dapatkan. "Kenapa sesakit ini?" tangisannya pecah saat melepas kepergian suami yang sudah membuatnya jatuh cinta.
.
.
.
Agak ngebut, Guys. Tolong dimaafkan typonya 🙏🏻😭 Boleh banget komen kalau kalian nemuin kata typonya ya guys. Maaciw bantuannya 😘
__ADS_1