Terjerat Cinta Wanita Depresi

Terjerat Cinta Wanita Depresi
Bab 21


__ADS_3

Setelah pengucapan janji suci, Lorix dan Leeva pun telah sah menjadi pasangan suami istri. Namun, Leeva masih memegang erat perjanjian pra nikah yang ia ajukan, di mana Lorix tidak boleh menyentuhnya, sebelum benar-benar tulus mencintainya.


Setelah acara selesai Lorix dan Leeva langsung pergi ke rumah baru mereka. Rumah yang Lorix beli dengan uangnya sendiri. Sampai di rumah mewah namun sederhana itu, keduanya pun masuk ke dalam kamar pengantin mereka. Suasana canggung mencengkam. Tapi, hanya untuk Lorix, karena Leeva terlihat biasa saja.


"Susah banget sih, tolong bantu Eva turuni resletingnya dong, Kak. Susah amat," gadis mungil itu membalikkan tubuhnya, menyingkirkan rambut panjang, lalu meminta bantuan kepada Lorix untuk menurunkan resleting gaunnya.


Ragu-raguagu Lorix menurunkannya dengan dada yang berdegup kencang. Bukan karena apa-apa, ia hanya takut khilaf karena jelas ia adalah lelaki normal. Apalagi pesona Leeva sulit untuk ia tolak. Meski sifatnya berbeda dengan Gyana. Tapi, entah kenapa Lorix bisa melihat sosok Gyana dari Leeva.


Lorix menghela napas lega karena rupanya Leeva memakai pakaian lengkap di balik gaun pengantin itu. "Kakak mandi dulu atau Eva mandi dulu?" tanyanya tanpa canggung sedikit pun.


"Kamu saja dulu," balas Lorix cepat.


"Oke, Kak. Eva nggak lama kok, paling dua jam," seru Eva kemudian masuk ke dalam kamar mandi dengan jalan yang meloncat-loncat kegirangan seraya bernyanyi asal. Bukan, jelas itu bukan Gyana.


"Tidak ada gambaran Gyana sedikit pun. Tapi, lucu juga. Semoga kamu bisa membuatku melupakan Gyana. Ya, aku sudah menikah, dia pun sudah menikah. Jalan hidup kita sudah berbeda, apa pun yang terjadi, aku pasti bisa melupakanmu Gyana. Selamat tinggal Gyana." Lorix benar-benar memantapkan hatinya untuk kali ini. Ia harus bisa menerima dan membahagiakan Leeva.


Menikahi yang dicintai adalah HARAPAN. Sedangkan mencintai yang dinikahi adalah KEWAJIBAN. Lorix harus mampu memulai hidup baru tanpa Gyana. Karena jelas kewajiban lebih penting daripada sebuah harapan yang tidak jelas adanya.


"Kak Lorix! Huwa!" teriak Leeva di dalam sana. Lorix yang kaget serta khawatir langsung mendekati pintu kamar mandi.


"Ada apa? Apa yang terjadi?"


"Ada kecoa, Kak!" sahutnya sambil berteriak ketakutan.


"Siram pakai air nanti dia pergi, atau pukul pakai apa saja yang ada di dekat kamu," Lorix memberikan arahan.

__ADS_1


"Ih Kakak gimana sih, Leeva kan kaget terus jatuh, terus terkilir kakinya, terus nggak bisa berdiri. Gimana caranya mau pukul atau siram itu kecoa," keluhnya sudah mulai terisak.


"Ya sudah, kakak akan dobrak pintunya."


"JANGAN!"


"Kenapa?" tanya Lorix bingung harus melakukan apa.


"Eva nggak pakai baju, Kakak tidak boleh masuk!" teriaknya lagi.


"Terus bagaimana?"


"Gimana kek, kakak pikirin dong cepatan. Kaki Eva sakit banget," isaknya.


Tak punya pilihan lain, Lorix yang khawatir langsung mendobrak pintu kamar mandi, tentu saja Leeva berteriak kencang sambil menutup tubuh polos seadanya dengan kedua telapak tangan.


"Kakak mau ngapain?" gadis itu meraih selimut, langsung menutup tubuhnya yang terekspos.


"Obatin kaki kamu."


"Berikan, biar aku sendiri saja. Lebih baik kakak bunuh kecoa tadi," Lorix pun memberikan salep kepada Leeva, lalu menuju kamar mandi untuk menyingkirkan kecoa yang hampir membahayakan nyawa istrinya.


***


"Apa saya hamil, Dokter?" tanya Gyana dan Dokter langsung menatapnya sambil berkata, "Akan saya jelaskan setelah ini," jawab Dokter kembali fokus menggerakkan alatnya sambil menatap layar monitor di depan sana.

__ADS_1


Selesai memeriksa dengan USG, Dokter membawa Gyana kembali ke meja sebelumnya. Gyana duduk dengan pikiran yang tak tenang. "Saya punya berita baik sekaligus berita buruk untuk Nona," ucap sang dokter membuat detak jantung Gyana berdetak lebih cepat.


"Apa saya hamil, Dokter?" tanya Gyana langsung to the point.


"Jawaban iya. Berdasarkan hasil USG usia kandungan Nona Gyana adalah lima minggu. Itu adalah berita baiknya," terang Dokter membuat Gyana menutup mulut dengan kedua telapak tangannya, air mata langsung mengalir deras.


"Itu berita buruk bagi saya Dokter, bukan berita baik," tutur Gyana dengan air mata yang mengalir deras. Memang bukan berita baik. Berita kehamilan itu bukan berita baik bagi Gyana. Melainkan berita buruk. Ia mengandung anak dari pria yang memang ia cintai. Tapi, pria yang sudah melepaskannya dan tak lagi memperjuangkannya, pria itu sudah lelah dan sudah pergi jauh darinya.


"Apa Nona tidak punya suami?" Gyana diam tak menjawab.


"Lalu, apa berita buruknya, Dokter?" tanya Gyana pasrah.


"Berita buruknya adalah, berasaskan sample darah yang sebelumnya saya ambil. Nona menderita penyakit ....


.


.


.


Lorix



Leeva

__ADS_1



__ADS_2