
PYARR!
Daddy Rotham dan Gyana langsung menoleh ke sumber suara, betapa kagetnya mereka berdua saat Mommy Elena mendengar apa yang keduanya bicarakan.
Mommy Elena jatuh pingsan tepat setelah mendengar penjelasan dari putrinya. Ia pingsan setelah Gyana mengatakan kalau ia tak ingin menjalani pengobatan demi buah hatinya.
Setelah bangun pun Mommy Elena tak henti menangis. Baru saja ia berkumpul kembali dengan putrinya setelah sekian lama berpisah. Kini, putrinya harus pergi jauh lagi dari sisinya. Takdir itu adalah takdir terberat dalam hidupnya, ia benar-benar tak bisa menerima kenyataan berat itu.
Namun, Gyana yang keras kepala sudah memutuskan. Ia tak bisa berbuat apa pun selain mendoakan yang terbaik untuk sang putri tercinta. "Pria mana yang ingin kamu nikahi, Sayang? Apa pria itu juga yang membuatmu hamil?"
"Mommy mengenalnya," jawab Gyana menundukkan wajahnya.
"Siapa, Sayang?" Mommy Elena mengangkat lembut wajah putrinya.
"Lorik, Mom." jawab Gyana
Mommy Elena menutup mulut dengan kedua telapak tangan, "Dia sudah menikah, Sayang."
__ADS_1
"Aku mencintainya, Mommy. Aku sangat mencintainya, izinkan aku menghabiskan sisa hidupku bersamanya," tutur Gyana pilu, Mommy Elena beringsut mundur lalu terisak pilu.
***
Keesokan harinya, Gyana pergi ke rumah Lorix dan Leeva ditemani oleh Daddy Rotham dan Mommy Elena. Tangisan Mommy Elena pecah saat Gyana pergi darinya dan lebih memilih masuk ke dalam rumah sederhana itu. Daddy Rotham berusaha menenangkan istrinya.
Gyana tak ingin menoleh ke belakang, takut berubah pikiran saat tak tega melihat tangisan histeris sang Mommy. Tapi, Gyana sudah membulatkan tekadnya. Ia sudah memutuskan untuk menjalani sisa hidupnya bersama dengan pria yang ia cintai.
Tok, tok, tok ....
Seorang pengawal membukakan pintu, Gyana di antar masuk hingga tiba di ruang tamu mansion lumayan megah itu. "Kak Gyana," panggil Leeva langsung menyambut kedatangan Gyana dengan hangat.
Tak berselang lama, Lorix pun tiba dan langsung menghentikan langkah kakinya ketika melihat Gyana. Lorix membalikkan badan, akan pergi tanpa sepatah kata pun. Melihat itu, Gyana langsung berlari dan memeluk erat Lorix dari belakang.
Betapa lega hatinya, ngidamnya sudah terlaksanakan. Keinginan anak dan juga dirinya sudah dia lakukan. Dia benar-benar bisa bertemu lagi dengan pria yang sangat ia cintai. Tak hanya itu saja, Gyana bahkan bisa memeluknya erat. Walau mungkin dia sangat hina, sangat hina karena memeluk suami orang di depan istri sahnya sendiri. Gyana tak peduli, bahkan ia mengulas senyuman kebahagiaan di bibirnya.
Sementara Lorix menahan air mata, menguatkan tekad dan hatinya. Apalagi saat melihat bagaimana Leeva mengalihkan pandangan dengan mata berkaca-kaca. Hal itu membuatnya dilema dan tak tega. Ia harus mengambil tindakan serta keputusan. Lorix tak ingin ada dua wanita yang akan tersakiti olehnya.
__ADS_1
Dengan kasar Lorix melepaskan diri dari pelukan itu, Gyana yang lemah pun tersungkur di lantai. Dengan sigap Leeva menolongnya, "Kak, jangan main kasar!" bentak Leeva kesal.
"Maaf," Lorix heran kenapa Gyana bisa terjatuh padahal dia melepaskan diri tidak terlalu kasar baginya.
"Kamu sudah sembuh dan ingat siapa aku?" tanya Lorix dengan ekspresi datar.
"Iya. Aku tidak pernah melupakanmu. Aku selalu mengingatmu, aku hanya berpura-pura tidak mengingatmu."
"Kenapa?"
"Karena aku ingin kamu melupakanku."
"Tujuanmu berhasil, aku sudah melupakanmu. Sekarang pergilah ....
.
.
__ADS_1
.