Terjerat Cinta Wanita Depresi

Terjerat Cinta Wanita Depresi
Bab 14


__ADS_3

Di balik pintu kamarnya, Gyana menjatuhkan tubuhnya perlahan hingga terduduk di lantai dingin. Sedangkan air mata masih mengalir begitu derasnya, Gyana mengangkat tangannya, kemudian mengelus dadanya yang terasa begitu sesak kala melepas kepergian Lorix yang pastinya lebih sakit darinya, kala mendengar suara erotis yang sengaja Gyana lantunkan sebelumnya.


"Maafkan aku Lorix, sungguh aku bukan wanita yang pantas untukmu. Tidak ada satu pun hal istimewa yang bisa aku berikan kepadamu," tutur Gyana membiarkan air matanya semakin berlinang tanpa dirinya singkirkan sama sekali.


Gyana menengadahkan kepalanya, menatap Leon yang tak sadarkan diri dan terbaring tak berdaya di atas ranjangnya. "Bukan hanya tubuhku yang sudah hancur, tapi juga karena aku masih seorang wanita gila, Lorix. Aku belum sepenuhnya sembuh dan aku tidak akan pernah sembuh, wanita gila ini tidak pantas untukmu. Aku mencintaimu Lorix, sangat mencintaimu. Aku ingin kamu bahagia dengan wanita sempurna yang juga sangat mencintaimu. Aku yakin kamu akan menemukannya suatu saat nanti. Aku mohon, lupakan aku," kembali Gyana menuturkan kalimat yang juga melukai hatinya.


Aroma kuat alkohol memenuhi kamarnya, membuat Gyana merasa pusing ketika aroma itu menyeruak masuk ke dalam hidung mungilnya. Tak tahan dengan aroma yang tidak dirinya sukai itu, Gyana segera menyeka kasar air matanya, kemudian bangkit dan langsung ke luar dari kamar itu. Tiba di ruang tamu, Gyana berbaring di sofa dan tanpa sadar terlelap di sana dengan air mata yang masih mengalir.


***


Tok, tok, tok!


Suara ketukan pintu beserta teriakan seorang wanita di luar sana, tak mampu memecah konsentrasi Lorix dalam menyelesaikan pekerjaan yang kini tengah dirinya kerjakan.


Lama kelamaan, suara itu pun perlahan menghilang. Lorix juga tak peduli. Dia tetap fokus pada beberapa berkas dan dokumen yang ada di hadapannya. Ketika perutnya mulai terasa lapar, barulah pria tampan itu melirik jam di lengan kekarnya. Saking fokusnya bekerja, Lorix hampir lupa untuk makan siang. Lorix bangkit dari duduknya, kemudian segera keluar dari ruangannya.

__ADS_1


"Lorix, akhirnya kamu keluar juga. Kamu buat aku khawatir, bagaimana keadaanmu? Kamu baik-baik saja, bukan?"


"Siapa kamu?" tanya Lorix tanpa ekspresi.


"Aku Dena, Lorix. Kamu tidak mungkin ...."


"Maaf, saya tidak mengingat siapa kamu." Lorix pergi begitu saja, meninggalkan Dena yang kini berpikir keras.


"Astaga, apa mungkin obat itu membuatnya hilang ingatan? Tidak, kalau benar hilang ingatan, tidak mungkin Lorix bisa sampai ke perusahaan dan bekerja seperti biasa," pikir Dena tak mengerti tentang situasi yang terjadi saat ini.


***


Setelah berhasil melarikan diri dari Dena, Lorix langsung menuju ke sebuah restoran untuk menghilangkan rasa lapar yang sedari tadi mengganggunya. Saat ini, Lorix telah duduk santai sambil memainkan ponselnya, Lorix menunggu hingga makanan yang dia pesan, siap. Namun, suara seseorang di samping ruangannya, membuat Lorix menghentikan aktivitasnya.


Tidak disangka, Lorix tak sengaja memilih ruangan yang bersebelahan dengan ruangan di mana ada Gyana dah ny. Elena. Lorix diam dan mendengarkan perbincangan antara ibu dan anak itu dengan serius.

__ADS_1


"Mommy harap hubungan kamu dan Leon akan selalu baik, Mommy tidak sabar ingin menimang seorang Cucu secantik atau setampan Leon," begitulah ucapan ny. Elena yang dapat Lorix dengarkan.


"Mommy tidak perlu khawatir, aku yakin sebentar lagi akan tumbuh kehidupan di dalam rahimku," jawab Gyana mampu membuat Lorix membeku.


"Tuan, makanannya sudah siap," kata seorang pelayan yang rupanya telah selesai menyajikan beberapa hidangan di hadapan Lorix.


"Hem," dehem Lorix sebegai jawaban.


"Mommy sudah meminta Daddy-mu untuk mengatakan hal ini kepada Leon."


"Hal apa, Mommy?" tanya Gyana penasaran.


"Bulan madu kalian berdua." jawab Mommy Elena antusias.


"Bulan madu?"

__ADS_1


BRAK!


__ADS_2