
Lorix mengerjabkan matanya perlahan, ketika kedua matanya terbuka, seperti biasa Lorix bangkit dan memutar tubuhnya ke kiri juga ke kanan guna meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Raga yang belum semuanya terkumpul, membuat Lorix belum menyadari keanehan pada tubuhnya.
Lorix menghentikan kegiatannya, ketika pikirannya memutar otomatis apa yang terjadi kepada dirinya semalam. Jelas Lorix ingat kejadian di mama dirinya dijebak oleh Dena, dan Lorix juga ingat jelas semalam dirinya berakhir menyedihkan di dalam buthub.
Namun, apa yang terjadi kepada dirinya kini? Siapa yang membawanya dan mengangkatnya hingga tiba di ranjang? Setelahnya, Lorix kembali dikejutkan dengan tubuh kekarnya yang sudah dibalut dengan piyama lengkap. Siapa yang menggantikan pakaiannya?
Lorix menatap kaget gaya berbusananya, piyama warna hitam yang tidak pernah dia gunakan lagi, kini melekat di tubuhnya.
"Yang semalam menolongku, apakah itu Gyana?" tanya Lorix pada dirinya sendiri, piyama berwarna hitam dengan motif bunga yang juga berwarna hitam adalah piyama yang begitu Gyana sukai, Lorix ingat betul akan hal itu.
Dengan melekatnya piyama kesukaan Gyana di tubuhnya, membuat Lorix sangat yakin bahwa yang semalam menolongnya adalah Gyana.
Kalau benar Gyana yang menolongnya, maka Gyana benar-benar telah sembuh dan jelas masih mengingat siapa Lorix sebenarnya. Lorix bergegas meraih laptop untuk melihat rekaman cctv. Namun, gerakannya terhenti seketika kala mengingat bahwa cctv di tempatnya tengah dimatikan sementara waktu untuk perbaikan.
__ADS_1
Derrrttt ....
Getaran heboh dari ponselnya, membuyarkan semua lamunan pria tampan dengan tubuh kekar itu. Lorix segera mengangkat panggilan yang masuk.
"Hallo,"
"Akhirnya kamu angkat juga panggilanku, Lorix. Aku tidak bisa tidur semalaman karena mengkhawatirkanmu, bagaimana kabarmu? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Dena di seberang sana.
Lorix membalikkan layar ponselnya, nama Dena yang tertera di layar membuat emosinya seketika memuncak. "Kamu paham betul tentangku, seharusnya kamu tahu apa yang terjadi kepadaku." tekan Lorix langsung memutuskan panggilan sepihak.
Setelah siap dengan setelan kerjanya, Lorix langsung keluar dari unit Apartemennya dan siap akan berangkat bekerja. Seperti biasa, setiap pagi Lorix selalu berpapasan dengan Nyonya Elena yaitu Ibu kandung Gyana. Akan tetapi selalu terlambat baginya untuk sekedar menyapa.
Lorix kembali melanjutkan perjalanan, masuk ke dalam lift dan turun ke lantai dasar. Di pelataran parkir, Lorix menghampiri Pak Alam, salah satu petugas yang menjaga keamanan Apartemen. "Pak Lorix," sapa pria dengan tubuh yang lebih pendek dari Lorix.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu, Pak? Oh iya, apa bapak sudah lebih baik sekarang?" tanya petugas itu membuat Lorix mengerutkan alisnya heran.
"Maksudnya?" tanya Lorix penasaran.
"Semalam ada seorang wanita yang memaksa masuk ke dalam Apartemen bapak. Dia mengatakan kalau bapak sakit dan butuh untuk dibawa ke rumah sakit. Tapi, saya mengusir wanita itu karena saya kira teman wanita bapak itu berbohong. Setelah mengusir wanita itu, saya pun kembali untuk melihat sendiri apakah Bapak benar-benar sakit, dan benar saja, semalam saya menemukan Pak Lorix pingsan di dalam bathub," terang petugas itu detail.
"Jadi, yang membawaku ke atas ranjang itu adalah kamu?" Lorix bertanya to the point.
"Benar sekali, Pak. Semalam bapak pingsan dan benar-benar tidak sadarkan diri. Jadi, saya bawa bapak ke atas ranjang," jelasnya sekali lagi.
"Dan kau juga yang menggantikan pakaianku?" Lorix sedikit tak percaya.
"Untuk hal itu ... iya, Pak. Maaf."
__ADS_1
"Kau—"