
"Berdasarkan sample darah yang sebelumnya saya ambil kemudian saya lakukan ekperimen. Hasilnya adalah Nona menderita penyakit kanker darah stadium akhir atau biasa disebut leukimia stadium 4," terang Dokter membuat Gyana membulatkan matanya sempurna.
Air mata menumpuk semakin banyak di pelupuk matanya, dan saat ia berkedip, air mata itu tumpah ruah. Gyana tak bisa menahan kesedihannya. Gyana tersenyum pilu, hebat sekali takdirnya. Belum juga ia teguk bagaimana rasanya kebahagiaan, kini sudah diberikan penderitaan lainnya. Hamil sudah menjadi penderitaan buruk baginya.
Namun, ia salah. Tak cukup sampai di situ saja, rupanya Tuhan sudah menyiapkan penderitaan yang lebih keji lagi. Ia menderita penyakit kanker darah, penyakit yang paling mematikan di dunia. Dan parahnya, itu sudah stadium akhir. Di mana tak lagi banyak kesempatan untuknya sembuh.
Adil sekali Tuhan padanya. Haruskah ia diberikan penderitaan bertubi-tubi tanpa diberikan kesempatan untuk menyicipi kebahagiaan lebih dulu. Kebahagiaan usai melewati ujian-ujian dalam hidupnya.
Depresi yang ia idap belum sepenuhnya pulih. Tapi, Tuhan sudah memberikannya penyakit baru, yang bahkan lebih mematikan lagi. Kenapa tidak Tuhan cabut saja nyawanya sekalian? Kenapa harus membuatnya merasakan banyak kesakitan lebih dulu? Sebenarnya, dosa apa yang sudah ia lakukan hingga dibuat menderita sedemikian rupa.
"Stadium akhir, apakah itu artinya saya akan segera mati, Dokter?" tanya Gyana seraya tersenyum miring dengan pipi yang dibanjiri air mata.
"Saya bukan Tuhan yang bisa tahu kapan Nona akan mati. Saya hanya manusia biasa yang hanya bisa membantu sebisa saya, selebihnya Tuhan yang mengatur."
__ADS_1
"Untuk itu, saya akan memberikan dua pilihan pada Nona. Pertama, Nona gugurkan janin itu agar Nona dapat melakukan pengobatan, bila melakukan kemoterapi dan sebagainya Nona akan memiliki banyak kesempatan untuk sembuh. Atau yang kedua, Nona bisa tetap mempertahankan janin itu, tapi nyawa Nona terancam. Di pilihan yang kedua ini, Nona tinggal percayakan segala kepada Tuhan karena yang maha kuasa pasti akan memberikan keajaibannya," lanjut Dokter membuat Gyana langsung terisak pilu.
"Apakah penyakit ini berbahaya bagi janin saya hingga harus digugurkan?" tanya Gyana dengan suara bergetar.
"Jawabannya tidak. Kanker darah atau leukimia tidak akan menyerang janin. Tapi, pengobatan sejenis kemoterapi yang akan Nona jalanilah yang membahayakan janin yang ada di dalam kandungan Nona."
"Kalau begitu, saya akan tetap mempertahankan janin saya, Dokter." tegas Gyana yakin.
"Saya menghargai keputusan yang Nona ambil. Tuhan pasti tersenyum melihat semangat Nona menjaga titipannya dengan baik. Saya akan berdoa semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk Nona dan calon bayi. Kalau Nona mau, saya akan menyarankan beberapa pengobatan yang masih aman untuk dilakukan." Dokter memberikan semangat dan dukungan pada Gyana. Dia sangat menghargai keputusan yang Gyana ambil.
Setelah kepergian Gyana, dokter menyeka air mata yang mengalir. Kala teringat akan almarhum menantu yang menderita penyakit yang sama seperti Gyana. Sebagai Dokter sekaligus mertua, dokter itu sudah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan menantu dan calon cucunya.
Berbagai kemoterapi yang menyakitkan dilewati oleh menantunya. Tapi hasilnya nihil, ia kehilangan calon cucu sekaligus menantunya yang berjuang di akhir hidup. Untuk itulah, Dokter tak ingin memaksa pasiennya yaitu Gyana untuk melakukan kemoterapi.
__ADS_1
Dokter itu seakan menyesal karena dahulu terus memaksa menantunya untuk tetap bertahan. Padahal, menantunya sudah mengatakan ingin menikmati akhir hidupnya dan menyelamatkan janinnya. Tapi, keegoisan membuat ia kehilangan segalanya dan menyesal selalu datang diakhir.
"Apa sudah, Nona?" tanya supir yang menunggu di luar mobil.
"Sudah, Pak. Tolong antarkan saya pulang." semula supir penasaran dan ingin bertanya bagaimana hasil tebakannya, apakah benar apakah salah? Namun, melihat wajah lesu serta air mata Gyana yang mengalir. Ia pun mengurungkan niatnya untuk ikut campur, apalagi itu adalah masalah pribadi penumpangnya.
Sedangkan Gyana hanya memeluk erat surat kehamilannya, sementara dokumen yang menyatakan tentang penyakitnya telah ia buang ke tong sampah.
Setelah sampai di unit apartemennya. Gyana meletakkan tasnya di atas meja. Surat pernyataan hamil miliknya tak sengaja keluar dari tas dan tergeletak di lantai. Seorang pria yang baru masuk melihat, mengambil dan membacanya, sedangkan Gyana pergi ke dapur untuk mengambil minuman.
PYAAAR!
.
__ADS_1
.
.