
"Karena aku ingin kamu melupakanku."
"Kamu sudah berhasil, aku sudah melupakanmu. Sekarang pergilah, seperti yang kamu lihat Gyana, aku sudah menikah. Leeva adalah istriku." tegas Lorix meraih pergelangan tangan Leeva lalu memeluknya erat.
"Apa kamu tidak mencintaiku lagi?" tanya Gyana terisak pilu.
"Cinta hanya harapan, tapi Leeva adalah kewajibanku. Kamu tidak penting lagi bagiku. Pulang dan berbahagialah dengan suamimu Leon."
"Aku sudah bercerai dengannya." Lorix kaget mendengarnya.
"Apa yang kamu inginkan?"
"Menjadi istri keduamu." jawab Gyana tegas.
"Aku tidak akan pernah memadu istriku." keukeuh Lorix.
"Tidak apa-apa. Izinkan aku tetap tinggal di rumahmu, sampai anak kita lahir," balas Gyana berlutut sambil mengelus perut datarnya.
"Kau hamil?"
__ADS_1
"Iya, aku hamil anak ka—"
"Kau hamil dan kau bercerai dengan suamimu. Apa yang kamu pikirkan Gyana. Apa depresimu kumat?" tetesan air mata mengalir dari kedua sudut mata Gyana. Gyana tak lagi melanjutkan ucapannya.
"Pergi dan cari suamimu, biarkan dia bertanggung jawab padamu. Kamu sudah tidak ada hubungannya lagi denganku." tegas Lorix Gyana langsung bangkit dan meraih kaki kekar Lorix, kemudian memeluknya erat.
Leeva ingin membantu Gyana bangkit, tapi Lorix menahannya. "Aku mohon nikahi aku, delapan bulan saja. Setelah itu aku akan pergi," pinta Gyana dengan tangisan histeris.
"Maaf, aku sudah melupakanmu dan aku tidak bisa menerimamu," jawab Lorix melepaskan diri, kemudian pergi meninggalkan Gyana yang masih bersimpuh di lantai dengan air mata yang terus mengalir deras.
"Kak Lorix!" teriak Leeva tapi Lorix tak peduli, ia tetap berjalan menuju kamarnya.
***
"Kak Lorix," panggil Leeva, kemudian duduk di samping Lorix yang kini duduk di pinggir ranjang dengan raut wajah kusutnya.
Tak mendapatkan respon, Leeva mengambil salah satu tangan Lorix, kemudian menggenggamnya dengan erat.
Baru saja Leeva membuka mulut akan memulai pembicaraan. Namun urung, karena Lorix lebih dulu mengatakan, "Maaf atas apa yang terjadi hari ini, aku tahu kamu kaget," tutur Lorix tanpa menoleh pada Leeva.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu takut apalagi khawatir karena aku sudah melupakannya. Aku tidak akan menduakanmu apa pun yang terjadi," keputusan Lorix terdengar begitu serius. Leeva bingung harus senang atau sedih mendengarnya. Leeva paham bagaimana hancurnya perasaan Lorix saat ini.
"Sebenarnya kakak tidak perlu minta maaf padaku, karena aku mengerti bagaimana perasaan kalian berdua yang sama-sama mencinta. Tapi, tidak bisa bersama. Aku juga mengerti posisiku yang hanya orang ketiga dalam hubungan kalian berdua." Lorix langsung menatap Leeva.
"Untuk itulah, aku rela bila kakak menikah lagi," ucap Leeva membuat Lorix membulatkan matanya sempurna.
"Apa kamu sadar apa yang kamu katakan, Leeva?"
"Aku sadar, Kak. Aku sangat sadar. Ini adalah keputusanku. Terserah kakak mau anggap aku aneh atau apa, tapi yang jelas aku tidak mau kakak menyesal karena tidak menikahi wanita yang ada di hati kakak. Wanita yang nomor ponselnya kakak sandingkan dengan lambang hati. Aku tahu, aku tahu kakak sangat mencintainya." ungkap Leeva.
"Maafkan aku, Leeva. Aku hanya lupa menghapus nomornya di ponselku. Jujur untuk sekarang aku memang mencintainya dan belum mencintaimu. Tapi, dia hanya harapanku, dan kamu adalah kewajibanku. Aku tidak akan pernah menduakanmu, titik." tegas Lorix.
.
.
.
Maaf, ya, Guys 🙏🏻 Slow Update 🙏🏻
__ADS_1