
"Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang petugas yang memergoki Gyana yang tengah berdiri di depan pintu apartemen Lorix.
Bukannya menjawab pertanyaan petugas tersebut, Gyana justru mundur beberapa langkah dengan raut wajah ketakutan, kemudian membuka pintu apartemennya dan langsung masuk sambil menutup pintu dengan suara yang keras.
Petugas yang sudah tahu apa yang Gyana alami tidak merasa aneh sedikit pun. Yang dia herankan adalah kenapa Gyana terus berdiri di depan unit apartemen Lorix.
Bukan sekali ini saja petugas memergoki Gyana, tapi sudah berkali-kali. Dan yang kali ini barulah petugas ingin bertanya ada keperluan apa. Tapi, Gyana malah ketakutan. Petugas pun pergi sambil menggelengkan kepalanya heran.
Gyana yang ketakutan langsung mengunci pintu apartemennya, kemudian duduk di sofa dengan tubuh yang bergetar. Gyana menarik napas dalam, kemudian menghembuskan perlahan. Berusaha membuat dirinya setenang mungkin.
Merasa tak kunjung membaik, Gyana segera bangkit, membuka laci dan mengambil sebuah pil di sana. Bukannya meneguk pil itu, tapi Gyana malah merasa mual dan langsung berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkannya.
"Apa yang terjadi? Tidak mungkin masuk angin, bukan?" tanya Gyana yang kini merebahkan tubuh lemasnya di ranjang.
__ADS_1
Karena merasa tubuhnya tidak fit, Gyana pun memutuskan untuk tidur siang. Namun, dia tak bisa menutup matanya. Entah kenapa bayangan wajah Lorix selalu menghantuinya. Tak bisa Gyana pungkiri, dirinya sangat merindukan sosok pria yang selalu ada di hatinya itu.
Gyana kembali bangkit, meraih ponsel dan lagi-lagi mengintip akun sosial media Lorix. Tapi, dia tidak menemukan aktifitas apa pun di sana.
"Ke mana kamu pergi? Apa kamu sudah melupakanku? Apa kamu sudah lelah bertahan? Aku mohon kembalilah, aku sangat merindukanmu," tangisan kembali membanjiri pipinya. Entah kenapa akhir-akhir ini Gyana merasa sangat ingin bertemu dengan Lorix. Akan tetapi, pria itu sudah tak lagi tinggal di Apartemen yang sama dengannya. Ke mana Gyana harus mencari pria yang dicintainya itu?
"Maafkan aku Lorix, aku mohon maafkan aku. Aku sadar aku tak pantas untukmu, tapi aku mohon, izinkan aku egois dan memilikimu. Aku menyesal menjauh darimu, aku sadar aku tak bisa tanpamu," raunguan penuh penyesalan terus Gyana utarakan hingga dia kelelahan karena terus menangis seharian.
Tok, tok, tok ....
Ceklek!
Pintu pun terbuka.
__ADS_1
"Minggir!" Leon mendorong hingga Gyana terhuyung ke belakang, beruntung dia masih bisa menyeimbangkan tubuhnya hingga tak terjatuh ke lantai.
Seperti biasa, Leon akan pulang pagi dalam keadaan mabuk berat. Saking mabuknya pria itu tak bisa membuka pintu Apartemen yang jelas-jelas dia tahu password-nya.
"Apa yang kau tunggu di sana, cepat siapkan air hangat karena aku akan mandi!" bentak Leon dan Gyana pun langsung menuju kamar mandi untuk menyiapkan air hangat.
Begitu selesai, Gyana langsung keluar dan melaporkan kepada Leon kalau air hangatnya sudah siap. Sebelum masuk ke dalam kamar mandi, Leon menertawakan wajah pucat Gyana yang tak terurus.
"Wanita gila, benar-benar menjijikkan. Hais, bagaimana bisa aku tahan tinggal seatap dengan wanita gila sepertimu," ejek Leon membuat Gyana merasa begitu sakit hatinya.
Bukan pertama kali ucapan menyakitkan itu Leon katakan, tapi tetap saja itu sangat melukai Gyana. Apalagi saat ini adalah masa-masa di mana pemulihan usai depresinya yang mulai membaik walau masih ketakutan saat melihat pria tertentu.
.
__ADS_1
.
.