
"Bruk!"
Gyana merebahkan punggungnya ke kepala ranjang. Tangannya lemas tak berdaya, ponsel terjatuh dari tangannya. Panggilan itu telah terputus, pandangannya kosong persisi seperti dirinya masih depresi dulu.
Ting!
Ponsel Gyana berdenting pertanda ada pesan yang masuk. Tanpa menoleh, Gyana meraba dan meraih kembali ponsel yang lepas dari tangannya itu. Gyana membuka pesan yang masuk dan langsung membacanya.
Leeva :Bisakah kita bertemu dan membicarakannya baik-baik?
Gyana : Bisa.
Leeva : Restoran White Clouds ruangan nomor sepuluh Pukul dua belas siang ini.
Gyana melihat jam di dinding kamarnya. Masih ada waktu empat jam lagi. Gyana pun memutuskan untuk tidur terlebih dahulu untuk mengumpulkan tenaga, demi menghadapi penderitaan yang sudah menantinya di depan mata.
Siang itu Gyana di bangunkan oleh tubuhnya yang tiba-tiba demam disertai menggigil. Gyana berusaha meraih obat khusus yang aman untuk ibu hamil. Ia meletakkan obat di dalam laci, begitu mendapatkannya, Gyana langsung menelannya tanpa minum. Pahit tak ia rasakan, karena jelas lebih pahit kisah hidupnya.
__ADS_1
Setelah merasa lebih baik, Gyana langsung bersiap-siap untuk menemui istri Lorix yang tidak ia kenali itu. Tapi, membaca pesan yang perempuan itu kirimkan, Gyana sedikit lega karena setidaknya Lorix mendapatkan pengganti yang adalah wanita baik-baik.
Meski begitu, Gyana tetap akan mengambil sebuah keputusan bahwa ia hanya akan berpisah dengan Lorix bila mau yang memisahkan. Untuk itulah, Gyana hanya ingin tetap di sisi Lorix di sisa-sisa hidupnya.
Setelah bersusah membujuk Sang Mommy, akhinya Mommy Elena mengizinkan Gyana untuk pergi sendiri. Tapi, tetap diantar pergi dan pulang oleh seorang supir. Siang itu, Gyana pun menuju Restoran. Seperti dugaannya, Gyana terlambat sekitar lima belas menit karena selalu muntah selama di perjalanan.
"Maaf saya telat," sapa Gyana langsung duduk di depan seorang perempuan yang tengah memainkan ponselnya.
"Saya Eva, nama kakak siapa?" Gyana kaget dengan respon istri seorang Lorix. Imut, polos, baik, dan terlihat ceria. Gyana berharap gadis itu dapat membahagiakan Lorix ketika ia tiada nanti.
"Saya Gyana," Gyana tanpa ragu menyambut jabatan tangan gadis mungil di depannya.
"Bukan pasangan suami istri. Hanya saja, kita sudah berpacaran sangat lama," terang Gyana juga ikut santai.
"Oh begitu, kalian pasangan yang sangat serasi. Sekarang apa rencana kakak? Bukankah kakak hamil? Benarkah itu benih Kak Lorix?" tanya Leeva penasaran.
"Iya, benar. Ini adalah bayinya."
__ADS_1
Leeva menelan saliva bersusah payah, ia pun memutuskan untuk mengatakan kalimat, "Jadi, apa yang kakak mau."
"Apa kamu akan memberikannya?" tanya balik Gyana.
"Tergantung. Tapi, akan aku pertimbangan, mengingat kakak lebih dulu mengenalnya, artinya akulah orang ketiga diantara kalian berdua," terang Leeva membaut Gyana kaget.
"Apakah mereka belum saling mencinta?" tanya Gyana dalam hati.
Gyana yang sudah mantap dengan keputusannya, mulai melepaskan topi fedora dari kepalanya. Kemudian meraih tangan Leeva, meletakkan tangan mungil itu di kepalanya. Leeva bingung, tapi ia menurut karena penasaran apa yang Gyana lakukan.
Leeva membulatkan matanya sempurna ketika ada banyak rambut Gyana yang ada di telapak tangannya. "Kenapa? Ada apa ini? Apa yang terjadi dengan rambut kakak" tanya Leeva kaget.
Gyana memberikan ponselnya kepada Leeva, Leeva menerimanya antuasias. Beruntung Dokter mau mengirimkan dokumen digital tentang penyakitnya. Hingga Gyana dapat memperlihatkannya kepada gadis itu.
"Kakak ... Stadium empat ....
.
__ADS_1
.
.