Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku

Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku
Part 17


__ADS_3

Saat setelah selesai melakukan wawancara dengan salah satu pembalap muda dan memilik paras tertampan Capella pun memutuskan untuk menemuinya. Ia berencana meminta maaf kepada Januar atas kesalahannya karena ia Januar tidak bisa masuk ke kampus.


Capella tersenyum dan menghampiri Januar yang tengah menatap dirinya. Pria itu pun menghela napas panjang dan menghampiri Capella. Ia menatap Capella dari atas hingga bawah seolah tengah menyelidiki wanita itu.


"Kenapa? Sudah selesai wawancara? Mau wawancara lagi? Maaf gue lagi sibuk." Capella menggelengkan kepalanya. Wanita itu meremas kedua tangannya dengan kuat.


Tampak kekhawatiran Capella terlihat jelas di wajahnya seolah wanita itu merasa sangat tidak nyaman untuk mengutarakan niatnya.


"Januar, aku... Aku minta maaf," lirih Capella yang akhirnya berani mengungkapkan kepercayaan dirinya kepada pria itu.


Ia meringis melihat wajah Januar yang tidak bersahabat dan hanya menatap dirinya dengan pandangan datar.


"Hm. For what?"


"Gara-gara aku... Kamu.. gak bisa masuk kuliah."


"Oh. Udah tau salah, kan? Lain kali jangan diulang. Nyusahin." Kemudian Januar pun pergi dan Capella tersenyum lebar karena mendapatkan jawaban dari Januar.


Setidaknya itu bisa membuat dirinya tenang dan tidak terus kepikiran meskipun belum sepenuhnya. Capella pun berbalik dan berniat pergi. Namun ia dihadapi dengan wajah datar Delisha yang tengah memandangnya dalam.


"Deli...sha," lirih Capella dan berusaha untuk tak mencari masalah dengan wanita itu. Tapi ia tetap tak bisa dan Delisha menghalangi dirinya.


Wanita itu terlihat marah dan seolah ingin meluapkan seluruh emosinya kepada Capella. Capella tak ingin mempermalukan Januar.


"Capella, apa sebenarnya hubungan kalian?"


"Tidak ada hubungan apapun," ucap Capella dengan nada yang tampak terlihat gugup.


"Bohong."


Plakk


Tamparan pun melayang di wajah Capella dan wanita itu terhuyung ke tanah sembari menyentuh wajahnya yang meninggalkan jejak merah akibat tamparan yang diberikan oleh Delisha.


"Delisha, aku tidak tahu apa salah ku."


"Salah mu banyak, kau tahu Januar itu siapa? Dia pacar gue, PACAR GUE, belum jelas juga?" tanya Delisha dengan marah.


Capella menatap kiri kanan dan seluruh penjuru untungnya tidak ada orang sama sekali yang melihat pertengkaran ini. Capella sangat bersyukur.


"Iya aku tau. Maaf sekiranya kalau buat kamu marah."


"Udah tau kan gue marah? Jauhin dia dan kalau perlu gak usah tinggal di rumah dia. Balik aja rumah Tante Megan."


Ucapan yang begitu menohok dan setelahnya Delisha pun pergi sementara Capella terdiam di tempatnya sembari mencengkam dadanya dengan kuat. Ia pun menangis kencang hingga tak mengeluarkan suara.

__ADS_1


"Kenapa... Kenapa selalu aku... Kenapa? Aku tidak tau apa-apa... Mama... Hiks... Mama, Ella kangen Mama."


Capella tak berhenti menangis hingga tiba-tiba ada uluran tangan di depan wajahnya. Capella mengusap air matanya dan mengangkat wajahnya. Wanita itu terdiam dengan wajah terbengong melihat siapa yang sudah berbaik hati memberikan uluran tangan untuknya yang sedang rapuh.


"Lambat," ucapnya dan kemudian menarik Capella hingga Capella pun berdiri dan langsung menyuruh Capella untuk naik ke atas punggungnya.


"Januar apa yang sedang kau lakukan? Delisha ada di sini, kau bisa membuatnya marah."


"Delisha sama temen gue."


"Tapi Januar...." Januar lantas langsung menggendong Capella di punggungnya hingga Capella langsung teridam dan tak melanjutkan perkataannya.


Wanita itu masih tak percaya dengan apa yang ia alami. Sikap Januar sangat tiba-tiba hingga membuatnya tak bisa berkata-kata.


"Lo naik mobil biar diantar sama supir gue. Kalau kerja ya kerja aja gak usah kemana-mana. Lo liat sendiri kan gimana lo akhirnya?"


Capella menganggukkan kepala. Ia lantas pergi dengan mobil itu tak mempedulikan Januar.


_____________


Sesampainya di rumah Capella tak bisa menyembunyikan senyumannya. Wanita itu terus tersenyum di sepanjang jalan hingga sampai sekarang.


Bukankah sikap Januar tadi sangat manis hingga membuat Capella sedikit terhipnotis dengan sikap pria itu.


"Terkadang aku tak mengerti dengan sikap mu Januar. Tapi aku bersyukur kau masih memiliki sifat seperti itu," ucap Capella dan berjalan ke arah dapur seraya mencepol rambutnya.


Ia pun berencana ingin pergi ke Indomaret membeli persediaan susuk kotak. Capella sangat tahu jika Januar menyukai susu tersebut dan bagaimana pun caranya harus terisi setiap saat tanpa boleh kekurangan sama sekali.


Saat membuka pintu Capella terkejut tatkala mendapatkan kedatangan ibu mertuanya, Megan.


"Bunda," ucap Capella mempersilakan Megan untuk masuk.


Megan menatap sekitar dan tersenyum sembari mengikuti Capella dari belakang. Ia pun duduk di kursi sofa sembari menghela napas panjang.


"Ella, mau ke mana? Malam-malam kaya gini rapi banget."


"Anu Bunda, rencana Ella mau ke Indomaret Belu persediaan susu kotak."


Megan tertawa sembari menganggukkan kepala. Ia tahu benar bagaimana sikap Januar yang sedikit menggemaskan menurutnya. Anak itu tak henti-hentinya mengonsumsi susu kotak dari ia kecil hingga sampai sekarang.


"Tidak usah pergi, bunda sudah belikan."


Capella tercengang. Sesaat Capella tersadar jika Megan adalah ibu dari Januar jadi sudah semestinya ia juga hapal bagaimana anaknya itu.


"Eumm Bunda di mana barangnya?" tanya Capella sembari melirik sana sini namun ia tak mendapatkan apapun.

__ADS_1


"Ada di bagasi. Tadi supir bunda permisi dulu nanti dia bawakan masuk."


Capella mengangguk dan tak lama memang benar ada seorang pria yang mengangkut persediaan susu kotak berdus-dus.


"Bagaimana hubungan mu dengan Januar? Baik-baik saja, bukan? Januar tidak lebih buruk dari Mahen, kan? Dia bisa menjaga mu. Bunda sudah menduganya jika semua itu akan cepat pulih. Memang bunda tidak salah pilih."


Capella terdiam dan wanita itu melamun. Selama ini ia menjalani hidup penuh dengan derita yang harus diterimanya. Capella tahu jika dirinya tidak akan pernah biak di mata Januar.


Capella menipiskan senyumnya dan mengangguk terpaksa kembali berbohong bahwa ia baik-baik saja dan tidak ada apapun kendala di pernikahannya.


"Bunda tenang saja."


Namun Megan menangkap ekspresi itu hingga ia pun melunturkan raut bahagianya.


"Katakan apa yang sudah Januar lakukan padamu? Dia sudah menyakiti mu.... Anak itu.... Memang kurang ajar..." Emosi Megan tak bisa dibendung bahkan saking marahnya hal itu membuat Megan langsung berdiri dari tempat duduknya.


Tak lama pintu terbuka membuat Megan mengalihkan fokusnya pada arah pintu tersebut yang masuk dua orang berbeda jenis. Menatap hal tersebut makin lagi membuat Megan marah besar.


Ia tahu selama ini sudah salah memanjakan Januar dan terlalu bersikap toleransi kepada laki-laki tersebut hingga Januar melakukan apapun semuanya.


"JANUAR!!" teriak marah Megan melihat Januar membawa Delisha ke rumah.


Tangan Megan terkepal dan wanita itu hendak menghampiri anaknya namun ditahan oleh Capella. Megan menarik napas panjang dan menyentak akan tangannya yang ditahan oleh Capella.


"Jangan halangi aku Ella. Anak ini memang kurang ajar....."


Januar lantas mendekati Januar dan memberikan tamparan keras kepada Januar hingga membuat Januar yang masih terkejut melihat wajah ibundanya pun tak melawan.


"Kau..."


"Tante Delisha."


"Dasar tidak tahu malu," ucap Megan terang-terangan di depan Delisha.


Delisha sok berat dan melirik kekasihnya.


"Januar... Kenapa dengan ibunda mu?"


"Diamlah."


"Aku tidak perlu lagi menutupinya. Aku tahu jika kalian menutupi hubungan kalian berdua, menjauhlah dari Januar, Januar sudah menikah dengan Ella. Kau jangan menjadi perusak rumah tangganya."


"Hah?" Delisha benar-benar terkejut hingga ia merasakan sesak yang amat dalam di dadanya.


_____________

__ADS_1


Tbc


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.


__ADS_2