
Semenjak kepergian Capella kehidupan Januar benar-benar berubah dan tak seperti dia yang dulu yang dikenal teman-temannya. Ia menjadi rajin bekerja dan juga menjauhi dunia malam.
Sebut saja dia sudah jera setelah apa yang terjadi pada Capella. Megan sangat bersyukur tapi ia juga sangat sedih melihat anaknya yang tidak bahagia.
Januar selalu pulang ke rumah saat tahun baru. Ia memang tinggal di rumah dirinya bersama Capella, namun sering juga Januar pulang ke rumah sesekali untuk menjenguk ibunya.
Megan menghela napas panjang saat menatap sang putra yang berkutat dengan laptop padahal sedang di atas meja. Ia ingin Januar berubah namun jika terus seperti ini juga tidak baik juga.
"Januar! Dari tadi kamu bekerja terus. Nanti dulu, sampingkan dulu laptopnya. Kita makan dulu," ucap Megan mengode Januar.
Januar mengambil air minum daj meneguknya. Oa hanya berdahem sebagai jawaban. Megan tang merasa jika printahnya diabaikan pun menatap sang suami.
Hengky tengah menikmati makanannya tanpa peduli dengan Januar. Malah jika Januar rajin bekerja menurutnya itu sangat bagus.
"Jangan kamu pikirkan, Januar sedang sibuk bekerja malah itu bagus."
Megan tak habis pikir dengan suaminya ini yang selalu memikirkan pekerjaan dan tak ada sama sekali keharmonisan di meja makan.
"Mau sampai kapan kalian berkutat dengan pekerjaan kalian tanpa memikirkan keadaan sosial?" kesal Mgena kepada sang suami dan juga anaknya.
"Tidak perlu dipikirkan. Kita semua sudah besar dan memiliki cara sendiri."
"Terserah kalian." Megan pun menyantap makanannya dengan perasaan dongkol. Sesekali ia melirik kedua pria itu.
Hatinya sangat sakit diperlakukan seperti itu. Du usia tua seperti ini yang Megan harapkan adalah kebersamaan. Tiada yang lebih indah dari kebersamaan dan suara riang anak-anak.
Ia berpikir bagaimana kabar Capella sekarang. Kenapa Januar sama sekali tidak ingin mencaritahu keberadaan Capella dan anaknya. Andai Januar tidak melakukan kesalahan itu, semuanya akan baik-baik saja.
Saat ia mengetahui bahwa Januar lah yang menyebabkan sang kakak, Mahen dipenjara Megan tak bisa membendung amarahnya.
Pada saat itu ia marah besar dan hampir ingin membunuh Januar. Saat ini hanyalah tinggal penyesalan dan ia juga tak tahu di mana keberadaan Mahen.
__ADS_1
Dan alasan itu pulalah yang membuat Megan tak bisa menahan Capella untuk pergi. Menurutnya wajar Capella merasa sakit hati karena ia dikhianati seperti itu.
Apalagi Januar menyembunyikannya dari wanita itu. Jika ia menjadi Capella mungkin Megan akan melakukan hal yang sama seperti dilakukan oleh Capella.
Tang!!
Suara bantingan sendok pada piring kaca membuat suasana hening menjadi ramai seketika. Januar menatap sang ibunda yang menahan sesak dan matanya yang memerah.
Januar menghela napas dan menyingkirkan laptopnya. Ia tahu jika ibunya itu sedang marah.
"Bunda, tenanglah. Kali ini Januar akan makan dengan tenang."
Megan tertawa lirih, "baru mengikuti keinginan Bunda? Dari tadi kalian tidak peduli dengan ku di sini."
Hengky pun berhenti menyuap makanannya. Ia mengusap tangan sang istri namun Megan langsung menepisnya. Wanita itu sudah terlanjur marah dan tak bisa dibujuk dengan mudah.
Megan pun pergi dari ruang makan. Januar menatap ayahnya yang masih tetap tenang menyuap makanannya.
"Papa? Tidak peduli dengan Bunda?"
"Mungkin ini yang membuat Bunda marah kepada Papa. Papa terlalu lamban memahami."
"Seperti apa yang kau lakukan benar saja," timpal Hengky pada putra bungsunya itu.
Januar menatap sang ayah dengan pandangan tak percaya. Kenapa rasanya sukar untuk dekat dengan sang ayah. Hanya Mahen yang sedikit membuat ayahnya luluh. Tapi tak sepenuhnya.
"Kau terlalu egois."
"Sudahlah! Kau jangan memancing amarah ku. Kau sudah membuat Mahen dipenjara dan kau ingin membuat ulah lagi?"
Januar terdiam. Di bawah sana tangannya terkepal. Selalu saja Mahen. Dari dulu Januar berusaha untuk terlibat baik di depan keluarganya tapi tak pernah bisa karena dipandangan mereka hanya ada Mahen.
__ADS_1
Ketika ia menyingkirkan Mahen yang ada malah makin membuatnya dibenci oleh keluarganya.
Januar pun meninggalkan ruangan itu dan membawa laptopnya pergi.
Namun setengah berjalan ia pun berhenti. Ia berbalik ke belakang dan menatap Hengky dengan tajam.
"Pa? Kau tahu siapa yang sudah membuat masalah dengan perusahaan kita?"
"Aku sudah tahu. Mahen? Itu salah mu yang membuat Mahen membenciku dan ingin menyerang kita balik. Maka kau yang akan bertanggung jawab."
Januar menarik napas panjang dan langsung pergi. Bahkan ayahnya malah membela Mahen. Kenapa perbedaan itu sangat kentara.
_____________
Capella mengusap matanya yang sangat mengantuk. Wanita itu tetap berusaha untuk menyelesaikan bekerja meskipun malam sudah larut.
Capella melepaskan kacamatanya dan menarik napas beberapakali. Setelah selesai menulis berita untuk dirilisnya kemudian wanita itu mengevaluasi kembali naskah tulisannya.
Lumayan memuaskan. Capella pun menyimpan di darf untuk diuploadnya besok. Kemudian ia pun menutup laptopnya dan menghampiri sang anak yang sudah terlelap.
Capella memperhatikan wajah Guan yang sangat mirip dengan Januar. Selain itu juga mirip dengannya. Hal itu malah mengingatkannya dengan pria itu.
Capella mengusap kepala Guan dengan penuh kasih sayang. Ia sangat merindukan pria itu namun Capella juga tak bisa menampik rasa sakit hatinya.
"Semoga ayah mu merasakan balasan dari semua perbuatannya agar dia tahu apa yang dia lakukan adalah salah."
Capella mendesah panjang. Ia pun ikut merebahkan tubuhnya di samping sang anak dan masuk ke dalam selimut. Kemudian Capella pun memeluk tubuh Guan dan mengecup keningnya sekilas.
"Selamat malam sayang semoga kau mimpi indah. Ketahuilah kalau Bunda sangat menyayangi mu."
___________
__ADS_1
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA