
Bak telah menemukan bumerang yang sangat besar, Capella benar-benar merasa sangat marah dan juga dipermainkan. Namun rasa kesal yang ada di hatinya hanya berlangsung sesaat. Wanita itu lantas memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan tersebut dan duduk di depan atasan barunya.
Capella tetap bersikap formal seperti karyawan yang baru masuk pada umumnya. Senyum manis yang ditampilkan di wajah Capella benar-benar membuat Januar hanya bisa tersenyum tipis dan mengamati wanita itu seolah-olah Capella hanya istrinya bukan orang yang tengah bekerja dan datang ke ruangannya.
"Pak, perkenalkan saya Capella Permata Adityawarman salah satu karyawan yang direkomendasikan oleh kantor cabang TransPermata untuk menjadi sekretaris di perusahaan ini."
"Sekretaris pribadi saya!" sangkal Januar dan mengambil semua berkas yang sudah dilengkapi oleh Capella sebelum ia pergi ke kantor.
Wanita itu memutar bola matanya kesal. Namun demi menjaga profesional Capella harus bersikap formal bak antara atasan dan bawahan.
"Ya seperti itu Bapak, eum Pak apa boleh tau kapan saya akan memulai bekerja dan di mana lebih tepatnya ruangan saya?"
"Bapak? Saya bahkan lebih muda dari pada kamu, jika saya bapak, kamu nenek-nenek? Tapi jika kamu nenek-nenek, saya tetap suka. Hanya kamu nenek-nenek paling cantik," ucap Januar yang sengaja membuat Capella tersipu.
Capella muak dengan formalitas yang menahan dirinya untuk membentak penuh amarah ke wajah Januar.
"Januar!!!" marah Capella dan menggerutu kesal.
Januar yang dari tadi menahan dirinya pun ikut tertawa melihat kekesalan Capella. Ia mengangguk dan menatap serius wajah Capella yang benar-benar imut saat ia marah.
"Kenapa sayang?"
"Kenapa? Kamu yang rencanakan ini semua?"
"Menurut you?"
"Ishhh... Januar aku tidak suka seperti ini. Aku lebih suka direkrut karena prestasi ku bukan jalur orang dalam, aku tidak sehina itu."
"Meksipun banyak di luar sana orang berprestasi dan berhak duduk di posisi kamu sekarang, aku tidak akan pernah menjadikan dia sekretaris ku. Hanya kamu yang berhak, tidak ada orang lain," ucap Januar dengan tekanan di setiap katanya untuk membuktikan betapa seriusnya ucapan Januar.
Capella hanya mampu meneguk ludah sembari menahan napas panjang. "Bukan seperti itu... Tapi aku.... Aku lebih bahagia jika posisi ini aku dapatkan dengan usaha ku."
"Hsyut!! Aku pengennya kamu yang di sini, cuman kamu."
"Januar!" Capella memandang mata Januar memastikan apa yang dilakukan Januar benar-benar tulus bukan hanya karena Capella dijadikan salah satu boneka pria itu. "Apakah kamu benar-benar melakukan ini untuk ku?"
Januar yang sadar dengan tatapan ragu di mata Capella membuatnya marah. Selama ini ia tak pernah bercanda dengan Capella, semua hinaannya untuk wanita itu bukanlah candaan dan semua ucapan cintanya juga bukankah kebohongan.
"Ella kenapa kamu masih meragukannya? Bukankah kamu sendiri tahu jika aku benar-benar mencintai mu."
"Mungkin kata ini juga yang kamu ucapkan ke Delisha."
"Kenapa selalu membahas wanita itu? Berhenti Ella. Jika Delisha hanya menjadi salah satu masalah kita maka aku akan menyingkirkan dia."
"Januar! Kamu gila?" tanya Capella dengan nada sangat tidak percaya.
"Kenapa Ella? Apa aku bercanda? Aku gila? Its okey jika itu yang ada di pikiran kamu. Demi bisa membuat mu percaya."
"Hanya saja begitu cepat."
"Sudahlah, kamu datang ke kantor ku untuk bekerja bukan membahas Delisha."
Capella menganggukkan kepala. Lantas ia pun pergi ke ruangan yang sudah ditunjuk oleh Januar sebagai ruangannya. Ruangan ini memang sangat bagus dengan fasilitas yang luar biasa.
__ADS_1
Capella akui ini adalah salah satu ruangan kerja yang sangat ia impikan. Sangat sepi tidak ada teman-temannya. Perpindahan Capella begitu cepat hingga ia tak sempat melakukan serangkaian perpisahan kepada teman-temannya kemarin. Alhasil belum sempat sehari ia sudah merindukan mereka.
"Kamu menyukainya?" Capella memandang Januar yang bertanya padanya itu. Capella tersenyum puas dengan ruangan ini.
"Lumayan, setelah dipikir-pikir mungkin lebih baik aku bekerja di sini bisa memantau kamu nyelesain tugas kamu dan juga bisa membantu mu bekerja."
Januar senang jika Capella sudah berpikir seperti itu. Itulah yang diharapkan oleh Januar, ia ingin Capella mengerti dengan dirinya dan kenapa ia melakukan ini semua.
"Akhirnya kamu mengerti. Aku tidak akan pernah bisa sanggup untuk bekerja yang mana pekerjaan itu aku tidak sukai. Jika kamu ada di sini bersamaku, setidaknya aku lebih semangat lagi bukan?" tanya Januar kepada Capella yang dibenarkan oleh Capella.
"Baiklah, bapak direktur yang terhormat. Apa pekerjaan pertama saya?"
"Pekerjaan pertama kamu? Temani saya mengurus semua berkas ini."
Januar meminta Capella duduk di pangkuannya sambil membantu dirinya mengatasi semua masalah dan melengkapi data yang akan dikirimkan sebelum melakukan meeting.
"Aku baru tau jika perusahaan ku bekerja salah satu bagian perusahaan mu."
"Bahkan kamu tidak mengetahuinya Ella. Kamu tahu sendiri orang yang memberi mu pekerjaan ini adalah Mahen. Perusahaan ini juga dulunya Mahen yang memimpinnya."
Capella pun baru sadar setelah bertahun-tahun lamanya. Benar apa yang dikatakan oleh Januar bahwa Mahen lah yang telah membuat dirinya berada di posisi hebat dan memberikan pekerjaan untuk Capella.
Jika diingat-ingat begitu banyak kenangan manis yang telah mereka ciptakan berdua. Dan sekarang Mahen tidak ada di sini dan mendekam di penjara. Capella benar-benar buruk telah meninggalkan Mahen di saat masa terendah pria itu.
Januar yang baru sadar dengan ucapan yang baru saja ia lontarkan langsung memasang wajah datar. Ia tahu Capella teringat dengan mantan kekasihnya.
"Aku mengatakannya bukan untuk kamu mengenangnya."
"Januar, aku langsung bekerja aja. Apa yang harus aku bantu."
_______________
Januar mengangkat tubuh Capella yang benar-benar terlihat sangat lelah. Wanita itu tertidur saat telah membantu dirinya bekerja hingga malam.
"Ella, bangunlah." Capella membuka matanya dan menggeliat sembari mengucek matanya yang masih sayu-sayu.
"Ada apa? Kenapa sepi? Apakah semuanya sudah pulang. Eh Januar? Kenapa kamu bisa ada di sini?"
"Ella, apa kamu lupa? Kamu telah bekerja di tempat ku. Tidak ada teman-teman mu lagi, yang hanya ada aku di sini yang akan menjadi atasan mu."
"Astaga, aku melupakannya." Seketika mata Capella langsung segar dan ia duduk di sofa itu sembari menatap jam yang melingkar di gelang tangannya. "Januar, katanya ada kelas malam? Kenapa belum siap-siap?"
"Sebentar. Aku akan mengantarkan mu pulang."
"Aku bisa pulang sendiri."
"Tapi aku yang pengen mengantar mu," keras Januar yang tidak ingin kalah dari Capella.
Agar terhindar dari perdebatan yang sangat panjang, Capella memutuskan untuk berhenti berdebat lebih dulu dari Januar.
Ia tak ingin terlibat adu mulut dengan Januar. Capella tahu Januar belum bisa berpikir matang dan nalurinya masih naluri remaja.
"Jika begitu aku akan menunggu mu di kampus hingga selesai."
__ADS_1
"Deal? Pulangnya kita jalan-jalan."
Capella lantas menjabat tangan Januar dan setuju dengan usulan Januar. Sudah lama ia tak melakukan healing setelah sekian lama.
Saat Capella bersiap-siap dan membenahi pakaiannya ia hanya bisa memandang kesal ke area lehernya yang terdapat bercak merah yang Capella ketahui itu adalah perbuatan manusia.
"Januar, apa yang sudah kamu lakukan? Pelecehan tau...."
"Ngelecehin istri sendiri yang lagi tidur tidak masalah. Asal jangan istri tetangga."
"Terserah mu saja."
Capella pun mengusap lehernya namun tanda merah itu tak bisa juga hilang. Capella sangat khawatir jika ada orang yang akan melihatnya nanti.
Capella pun mencari cara untuk menutupi becak merah tersebut. Segala daya upaya ia lakukan dan Januar pun mengambil sweater nya dan memasangkan ke tubuh Capella. Ia menatap Capella melalui kaca dan mencium rambut wanita itu dengan hikmat.
"Ishhhh apaan sih." Meksipun Capella terlihat sangat kesal tapi wanita itu sungguh juga tersipu dengan sikap Januar.
Januar juga tahu hal itu. Namun di tengah keasyikan kebersamaan mereka tiba-tiba ponsel milik Capella berbunyi. Capella mengerutkan keningnya dan mengambil ponsel miliknya yang terus berdering.
Wanita itu semakin heran saat melihat nomor tidak dikenal yang terlampir. "Bentar aku angkat telpon dulu."
Capella pun menggesek layar hijau ke atas dan mendekatkan telpon ke telinganya. Wanita itu terdiam saat ada seorang wanita menyapa di seberang sana.
Januar yang merasa aneh dengan tingkah Capella setelah mengangkat telpon pun mengambil ponsel milik Capella dan mendekatkan di telinganya.
"Bagaimana dengan kemarin? Apakah masih sanggup untuk terus bersama Januar? Atau tetap bersama Januar dan gue bakal buat lo terus gak aman."
Januar menatap Capella marah. Ia pun mematikan ponsel tersebut dan menggenggam ponsel itu sangat kuat penuh amarah.
"Katakan apa yang sudah terjadi kemarin? Capella!! Katakan!!!!" marah Januar dan memandang Capella dengan tatapan tajam.
Capella menciut. Ia tersenyum pasrah. Hal yang selama ini ia rahasiakan dan sekarang telah terbongkar.
"Januar, bukan seperti itu. Tidak ada satupun yang terjadi. Jangan percaya dengan Delisha!!"
"Capella sampai kapan kau akan berbohong Kepadaku." Mata Capella semakin merah. Bukan karena bentakan namun karema memori Capella yang memutar kembali pada saat kejadian ia dirundung oleh Delisha dengan sangat hina.
"Hiks..." Januar memeluk tubuh Capella yang benar-benar terlihat sangat rapuh. Wanita itu juga mencengkram baju Januar menguatkan hatinya yang sangat sakit dengan perlakuan hina Delisha.
"Maafkan aku.... Aku datang terlambat....ini kesalahan mu Ella."
"Januar....."
"Katakan apa yang terjadi?" tanya Januar berusaha membujuk Capella mengatakan yang sebenernya.
Namun Capella tetap bungkam. Januar yang merasa kondisi Capella semakin memburuk memutuskan untuk tak bertanya lagi.
"Tenanglah ada aku di sini. Aku akan menjagamu dan membalas semua hinaan itu...."
__________
Tbc
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.