
Beberapa Bulan kemudian
Keadaan tampak normal kembali. Capella juga sudah pulang ke Indonesia dan menjadi istri yang baik untuk Januar. Ia tak menyangka jika Januar sama sekali tak pernah setuju untuk bercerai dengan Capella.
Bahkan surat perceraian yang ia tanda tangani dulu hanyalah rekayasa Januar. Saat tahu jika itu palsu Capella langsung menelitinya dan ia sangat terkejut jika memang surat tersebut terdapat kejanggalan.
Sementara itu Mahen telah berada di penjara. Salah pria itu mengambil jalan yang sangat dibenci oleh manusia. Ia menjadi buronan dan tahanan yang sangat dijaga ketat. Sudah banyak kejahatan yang dilakukan oleh Mahen.
Pria itu terakhir kali Capella temui beberapa bulan yang lalu. Tampak di wajah Mahen terdapat penyesalan tapi dia masih enggan untuk mengakui jika ia telah menyesal di depan Capella.
Guan juga mulai beradaptasi dengan kehidupan baru di Indonesia. Bahasa Indonesianya yang dulu tidak terlalu lancar kini semakin fasih.
Saat mengetahui jika sang ayah masih ada membuat Guan sangat senang dan ia sama sekali tak ingin berpisah dengan Januar barang hanya sebentar. Anak laki-laki itu terus menempel pada Januar dan tak menginjakkan makan jika tidak bersama pria itu.
Januar menghela napas melihat anaknya yang tengah bermain game di pangkuannya. Sudah ia katakan jika Guan tidak boleh bermain game dan anak itu terus membantah ucapannya.
"Guan! Sudah seharian penuh kamu terus bermain game. Nak, tidak boleh. Kamu sudah belajar dan mengerjakan pr mu?" tanya Januar seraya mengusap puncak kepala anaknya.
Guan pun langsung mematikan vs miliknya. Ia menatap sang ayah dengan mata patuh. Jika Capella yang meminta bahkan sampai puluhan ribu kali pasti tidak akan dituruti. Dan jika Januar yang meminta ia melakukan sesuatu pasti Guan langsung siap siaga menurutinya.
Januar menghela napas panjang. Guan semakin besar dan kelakuannya sedikit mirip dengannya. Kini Januar sendiri yang pusing, ia tahu jika sifatnya sangat tidak menyenangkan dan kini ia harus merasakan sifat itu dari Januar junior.
"Papa, aku ingin makan."
"Pergi ke dapur Mama sudah memasak."
"Tidak mau. Maunya Papa yang menyuapi."
"Sekali saja tidak manja?" Guan malah makin merengek membuat Januar pasrah dan berhenti mengerjakan tugas kantor.
__ADS_1
Ia pun pergi ke dapur membawa Guan. Di dapur ia melihat sang istri yang sedang sibuk bekerja.
"Sayang! Ini Guan mau makan."
Capella pun berhenti memotong bawang dan menoleh ke belakang. Ia menatap Guan yang sedang menunggunya.
"Sebentar Guan! Mama siapkan untuk mu."
Capella pun membuka kulkas dan mengeluarkan makanan yang sudah ia buatkan untuk Guan. Kemudian ia menyerahkan makanan tersebut pada Januar.
"Dia masih kepengen kamu yang nyuapin?"
"Suatu kehebatan jika anak mu itu tidak ingin ditemani makan," ucap Januar seraya menghampiri anaknya.
"Kamu tidak lihat? Semuanya adalah diri mu, dari wajahnya dan sifatnya persis seperti mu, kenapa kamu malah menganggap seolah-olah dia adalah anak ku saja."
"Bunda! Papa! Apakah kalian bertengkar?" tanya Guan dengan nada sedih dan wjahanya terlihat sendu.
Capella terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia pun menghampiri Guan dan mengajak Guan untuk berbicara baik-baik dan mengatakan jika mereka tidak sedang bertengkar.
"Guan! Itu namanya tidak bertengkar. Kamu tidak perlu khawatir kami baik-baik saja."
"Benar apa yang dikatakan Bunda mu."
Guan pun tersenyum lebar dan memeluk kedua orangtuanya. Capella terkekeh dan membalas pelukan anaknya tersebut. Satu keluarga itu pun menikmati masa bahagia mereka.
_____________
Megan menghela napas beberapakali menatap wanita yang di depannya tengah bertanya kepadanya mengenai perihal orangtunya.
__ADS_1
"Ella! Kamu benar-benar yakin ingin mengetahui tentang orangtua mu?" tanya Megan sekali lagi untuk memastikan jika Capella benar-benar siap mendengar cerita tentang kedua orangtuanya.
"Ella siap Bunda. Ella sudah dari lama ingin mencari tahu tentang Ayah. Kemarin di Turki Ella menyelidiki tentang Ayah, tapi Ella menemukan jika nama ayah hanyalah nama samaran."
Megan tak terkejut mendengarnya. Ia bersama sang suami akan menjelaskan sejujur-jujurnya karena Capella sudah dewasa dan sudah sepatutnya dia mengetahui tentang orangtuanya.
"Ibu mu adalah wanita yang sangat cantik di kampus. Aku dan ibu mu adalah sahabat, sementara Hengky dan ayah mu juga saling bersahabat. Hengky memang terkenal dingin dan ayah mu terkenal sangat nakal dan juga play boy. Namun ibu mu tetap menyukainya. Padahal aku sudah melarangnya dan memberikannya peringatan. Ibu mu melakukan apapun untuk bisa mendapatkan ayah mu, bahkan merelakan dirinya untuk ayah mu. Aku sangat marah saat itu, aku bahkan tidak ingin mendengarkannya. Alih-alih mendapatkan kasih sayang dari ayah mu, ayah mu malah mengkhianati ibu mu dan kabur ke Turki saat tahu jika ibu mu hamil. Aku tidak tahu pasti sebenarnya dia kabur atau suatu masalah. Pada saat itu aku berbohong kepada ibu mu bahwa ayah mu hanya pergi ke Turki sebentar. Hingga dia melahirkan mu dan dia tetap menunggu ayah mu. Ibu mu pun akhirnya tahu jika ayah mu tidak akan kembali ke Indonesia dan dia marah kepadaku karena aku menyembunyikannya. Saat itu ia jatuh sakit dan sakit-sakitan. Aku merasa sangat bersalah, tapi kita sempat berjanji ingin menjodohkan anak kami. Aku melakukan semua ini untuk menebus semua kesalahanku dan melakukan permintaan yang pernah ibu mu buat. Ibu mu sakit terserang penyakit jantung setelah mendapatkan kabar tentang ayah mu. Hingga kamu besar dan ayah mu tidka kembali. Tapi sayang Tuhan berkehendak lain pada ibu mu. Untuk ayah mu sekarang aku tidak tahu pasti dia di mana mungkin Papa tau."
Capella melirik Hengky yang hanya menyimak penjelasan dari sang istri. Mungkin dia merasa seakan tengah bernostalgia dengan masa lalu.
"Dia masih ada di Turki dan hidup berpindah-pindah. Kebiasaan buruk ayah mu yang suka mabuk-mabukan dan berjudi membuatnya harus sering menipu seseorang. Maka dari itu aku tidak ingin memberitahu keberadaan mu agar dia tidak memanfaatkan mu. Ayah mu pulang ke Turki karena dia ingin dijodohkan dan sekaligus syok mendengar ibu mu hamil. Tapi dia sangat mencintai ibu mu. Kamu tak perlu meragukannya."
"Pa katakan di mana Papa kandung ku. Aku mohon Pa!" ucap Capella dengan nada lirih.
"Ella!"
"Tidak apa-apa yang penting aku bisa meminta penjelasan dari Papa."
Hengky menarik napas panjang dan mengatakan di mana sekarang keberadaan.
"Dia memang bernama Kemal. Kyiev adalah namanya juga tapi nama dari kepanjangannya. Dia berada di Turki dan tak jauh dari tempat judi yang ada di daerah mu. Sebenarnya kamu sangat dekat dengan ayah mu dari dulu."
Capella yang mendengarnya langsung syok dan berteriak kepada Januar agar membawanya ke Turki.
_________________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.
__ADS_1