Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku

Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku
Part 18


__ADS_3

Januar menghela napas panjang. Insiden tadi sedikit menganggu otaknya. Ia harus berpisah dengan Delisha saat wanita itu mengetahui kebenarannya.


Januar mengepalkan tangannya dengan kuat di gelas wine yang ia genggam. Pria itu benar-benar frustasi dengan apa yang ia hadapi saat ini.


Capella, kehadiran wanita itu malah membuat hidupnya semakin hancur dan tak terarah. Ia tak menyangka jika dirinya menikah muda dan menikahi wanita yang jauh di atasnya.


Januar sudah terlanjur tak bisa mengelak dan Capella sudah menjadi intinya saat ini. Bercerai pun tak akan membawakan solusi sama sekali.


"Tidak Mahen dan kekasihnya sama saja, pengganggu," ucap Januar sembari mencengkram tangannya dengan kuat.


Napas pria itu tersengal-sengal hingga ia tak mampu untuk membendung amarahnya. Januar berteriak di atas rooftop tersebut dengan kencang sembari menendang tembok.


Ia meremas rambutnya dengan marah. Kenapa alur hidupnya harus seperti itu.


"Capella. Kau benar-benar sudah membuatku marah...."


Januar pun berbalik ke belakang dan ia terdiam melihat objek amarahnya berdiri di depannya. Januar menarik napas panjang dan tersenyum miring.


Ia menghampiri Capella lalu menatap wanita itu dengan teliti. Kemudian Januar mencengkram rahang Capella hingga wanita itu terdongak paksa.


"Januar sakit," lirih Capella sembari berusaha melepaskan tangan Januar dari rahangnya.


"Sakit? GUE LEBIH SAKIT DARI INI!!! LO SADAR GAK KALAU LO UDAH BUAT HIDUP GUE HANCUR. DELISHA ORANG YANG GUE KEJAR BERTAHUN-TAHUN MUTUSIN GUE... LO GAK TAU GIMANA SAKIT HATINYA GUE, KAN? KARENA LO GAK PUNYA HATI...."


Ucapan Januar benar-benar menohok ulu hati Capella. Ia terdiam sembari tertawa pelan dan mengepalkan tangannya. Januar menyalahkan dirinya dan mengira ia adalah orang jahat dan tak memiliki hati, padahal Capella juga tersakiti di sini dan sangat sakit tidak seperti pria itu.


"Maafkan aku. Jika kamu ingin aku pergi, maka hari ini aku pergi dari rumah ini."


"KALAU MAU PERGI ITU PERGI!! SANA PERGI LO!!" marah Januar mengusir Capella di depan wajah wanita itu.


Capella menganggukkan kepalanya. Lagipula ia tak bisa selamanya ditindas oleh Januar yang seakan& di dirinya benar.


"OKE AKU BAKAL KELUAR DARI RUMAH INI! AKU JUGA SUDAH MUAK SAMA KAMU!!" ucap Capella dan menitikkan air matanya. Setelah menatap Januar sinis ia pun pergi dari sana sembari berlari kecil dan mengusap air matanya.


Napas Januar memburu dan tangannya mengepal. Pria itu pun lantas menatap ke arah rumah para penduduk dan berteriak.


"AKHHH!! SIALAN!!!" teriak Januar dan kemudian ia menatap k arah perginya Capella tadi.

__ADS_1


Januar menyentuh keningnya dan memijatnya. Semuanya sudah pergi dari hidupnya dan itu semua karena dirinya. Januar tahu di sini ia salah namun laki-laki tersebut tidak mau mengakuinya dan menganggap apa yang ia lakukan adalah tindakan yang benar.


"Siapa sandaran gue? Ke mana gue akan mengadu?" Januar bertanya-tanya, sementara Megan ibu kandungnya juga marah besar dan meninggalkan dirinya, Delisha pacarnya, juga meninggalkan dirinya, sementara Capella yang biasa ia jadikan tempat mengadu juga sudah pergi.


Januar harus menerima kenyataan itu dan tersenyum lirih sembari mengepalkan tangan menahan amarah. Pria itu menarik napas panjang dan kemudian meminum minuman alkohol tersebut hingga tandas.


"GUE BENCI DENGAN KEPALSUAN INI!!" teriak nyaring Januar dan mencengkram dadanya.


______________


Capella terisak saat mengemasi semua barangnya yang ada di rumah Januar. Ia pun memasukkan semua barang-barangnya tanpa tersisa satupun jadi ia tak harus kembali ke tempat ini.


Capella sudah membuat keputusan sendiri. Wanita itu lantas membawa tasnya keluar. Ia melihat Januar di depan pintu kamarnya dengan tatapan yang tak bisa Capella artikan.


Capella menarik napas panjang dan melintasi pria itu tanpa memperdulikan laki-laki tersebut.


Kemudian Capella keluar dari rumah. Tiba-tiba petir menyambar membuat Capella terkejut dan mundur beberapa langkah.


Ia tak tahu pulang dengan apa. Tak mungkin ia membawa motor pemberian Januar. Sementara motornya masih di bengkel. Terpaksa Capella harus memesan taksi dan menunggu di tengah jalan raya.


Sementara hujan sebentar lagi turun membuat Capella mau tidak mau harus tetap turun ke jalan. Sementara dari jendela Januar memerhatikan Capella yang hendak pergi.


Capella pun memejamkan mata dan melangkah turun. Ia memberanikan diri melawan petir ketimbang ia harus tetap berada di tempat ini yang benar-benar lebih menyakitkan ketimbang disambar petir.


Capella berlari dan menembus hujan yang bersamaan turun. Air mata Capella dan air hujan menyatu.


"Mama, Ella kangen. Ella pengen ketemu dan sama Mama." Tangis Capella pecah dan hanya sang ibunda yang ia cari saat ia merindukan sosok ibunya.


Capella pun berjalan di tengah hujan sambil menunggu taksi. Namun sudah lebih dari setengah jam namun taksi itu belum datang juga.


Capella makin terisak di bawah derasnya hujan. Ia terduduk dan pakaiannya basah kuyup.


"Hiks, Ella mau pulang.... Ella udah capek."


Namun tetap saja taksi itu tak datang membuat Capella putus asa dan tersungkur di tanah. Ia mengusap air matanya, saat ini Capella merasa jika dirinya tak lebih dari seorang gelandangan yang tak punya tujuan.


Tiba-tiba ada payung yang diberikan seseorang padanya. Capella mendongak dan seketika ia hendak pergi saat melihat siapa yang sudah memberikan payung itu untuknya.

__ADS_1


Namun tangan Capella ditahan dan tubuhnya dipeluk dengan kencang. Capella memberontak ingin lepas dari pria itu.


"Lepasin aku.... Aku benci sama kamu... Hiks, aku benci...."


Januar menahan tangan Capella yang terus memukuli dadanya. Pria itu menahan napas dan berusaha menahan ego.


"Jangan pergi," ucapnya pelan yang membuat Capella semula penuh dengan berontakan seketika ia pun terdiam.


Ia menatap Januar dengan wajah tak percaya. Apa yang sudah dilakukan Januar membuatnya terhipnotis.


"Maksud mu?"


"Pulanglah...."


Januar membawa Capella dan mengambil tas wanita itu. Ia mendekap tubuh Capella dan memberikan kain tebal dan memayungi wanita itu. Sementara tubuhnya ia biarkan tetap terguyur oleh hujan.


Capella berusaha untuk menyadarkan diri. Ini adalah godaan agar ia tetap berada di sana dan tetap merasakan sakit.


"Tapi Januar.... Aku sakit kalau di sana... Aku tidak mau lagi merasakannya... Aku lelah."


"Aku tahu," ucapan Januar yang sangat formal membuat Capella termenung. "Tapi aku membutuhkanmu."


Hidup berdua bersama Capella dan sudah hampir satu bulan membuat Januar sudah tergantung dengan wanita itu. Mulai dari makanan dan pelayanan yang diberikan oleh Capella benar-benar membuat dirinya tak bisa melepaskan Capella.


Januar meletakkan tas yang ia bawa ke tanah. Kemudian ia menyerahkan payung itu pada Capella. Capella terkejut dan menatap Januar penuh tanya.


Januar menaruh kedua tangannya di pundak Capella. Sementara itu ia memperhatikan Capella dengan seksama. Capella benar-benar bingung dengan situasi ini.


Ia menatap Januar yang terus mendekatkan wajahnya. Capella tak bisa mengelak dan membiarkan Januar menciumnya. Semula pria itu melakukannya dengan sangat lembut hingga membuat Capella tak berdaya dan terbuai. Payung yang ia pegang pun terjatuh dan hujan menimpa keduanya.


Tangan Capella mencengkram baju Januar dan mulai membalas ciuman tersebut hingga ciuman itu menjadi liar.


Januar melepaskannya dan menyatukan kening keduanya. Januar lantas menyentuh pipi Capella dan mengusapnya. Senyumnya terukir dan memperhatikan wajah Capella yang sangat cantik dari dekat.


"Maafkan aku, aku akan berusaha untuk memperbaiki semuanya dan mengulang dari awal."


____________

__ADS_1


Tbc


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.


__ADS_2