
6 Tahun kemudian
6 tahun sudah berlalu dan kehidupan Capella di Turki juga sangat damai. Guan Maladeva itulah nama yang diberikan Capella untuk jagoan kecilnya.
Setelah bertahun-tahun tinggal di Turki membuat Capella fasih berbahasa Turki. Selian itu Guan juga bisa berbicara dengan empat bahasa sekaligus, Indonesia, Turki, Inggris dan Mandarin.
Anak itu sangat tampan. Matanya sedikit sipit dan itu diturunkan dari sang ayah. Di mana Januar yang memiliki darah Tionghoa dari sang ayah. Bisa disebut Januar adalah chindo.
Kulitnya putih dan hidungnya sangat mancung yang diturunkan dari sang ibunda yang memiliki darah Turki. Capella mendesah panjang. Sudah lama ia menetap di Turki tapi ia belum juga berhasil mencari tahu informasi sang ayah.
Berbekal sebuah foto yang ia peroleh dari kamar sang ibunda saat ia tak sengaja membereskan kamar wanita itu. Capella juga menyelidiki diam-diam dari mana asal sang ayah.
Ia mendapat kabar jika ayahnya adalah orang Turki yang datang ke Indonesia. Namun sebelum ibunya jatuh sakit dan sedang mengandung dirinya ayahnya pulang ke negaranya. Capella menduga sang ibu sakit karena itu.
Sebenarnya ia tahu informasi yang paling lengkap adalah informasi dari Megan. Tapi Capella ragu jika bertanya dengan Megan, sebab ia tak memiliki muka setelah menceraikan anaknya.
Pasti Megan akan sangat kecewa padanya. Pada saat persidangan hingga ia pergi ke Turki, Megan sama sekali tidak ingin bertemu dengannya. Ia berkata itu adalah sebuah bentuk kekecewaan dari Megan karena permintaannya untuk tidak bercerai tak dikabulkan.
Lagipula Capella tak memiliki jalan lain selain perceraian ini. Ia ingin Januar mengerti dengan kesalahannya. Megan tak mengetahui pasti apa penyebab perceraian mereka namun lambat laun Megan pasti akan mengetahuinya. Lagipula Capella juga tidak ingin memberitahukan apa yang sudah dilakukan oleh Januar kepada sang Kaka.
Ia tak ingin Megan sakit hati dan akan jatuh sakit mendengarnya. Pasti ia sangat kecewa kepada kedua anaknya nanti.
"Bunda, tempat Ayah di mana?" tanya Guan yang sudah berumur 5 tahun sambil membawa sebuah foto yang merupakan foto dari Januar.
Capella tidak akan menutupi siapa ayah dari Guan. Ia sangat menyayangi Guan dan Guan juga harus tahu siapa ayahnya.
"Ayah? Ayah tidak ada di sini. Kau tidak perlu mencari tahu di mana ayah."
Guan tampak protes dengan jawaban Capella. Ia merasa tidak puas karena emosi dan karakter anak itu belum terbentuk. Ia masih dalam pembentukan karakter.
"Bunda, kenapa aku tidak perlu mencari tahu? Dia adalah ayah ku dan teman-teman ku juga memiliki ayah. Katanya aku harus tau di mana ayah."
Capella menghela napas panjang. Ia memang mengenalkan Guan siapa sosok Januar namun ia tak akan mengenalkan di mana Januar berada.
__ADS_1
"Ayah mu ada di suatu tempat yang damai dan tentram, kau tidak perlu mengkhawatirkan dia karena ayah mu sangat bahagia di sana," jelas Capella dan berharap jika anaknya itu mengerti.
"Bunda, lantas kapan ayah akan ke sini menemui ku?"
"Selamanya Ayah tidak akan bisa menemui mu. Maka jika kamu sudah besar maka kamu yang akan menjadi punggung keluarga dan membantu Bunda."
Wajah Guan tampak sangat sedih. Ia menundukkan kepalanya dan bersandar di atas sofa dengan wajahnya yang muram.
Capella yang melihat itu merasa tidak tega. Ini semua salahnya dan ia juga sudah menutupi kebenaran dari Guan. Ia tak ingin Januar bertemu dengan anaknya, terbilang egois namun Capella tak punya cara lain. Ia tak ingin mengingat masa lalu yang susah payah ia lupakan.
"Kenapa harus tidak bisa," protes Guan yang tetap tak ingin permintaannya diabaikan.
"Sudahlah Guan. Tidak semua orang harus memiliki ayah Guan. Kamu lihat apakah semua teman mu memiliki ayah dan ibu?" Guan menggeleng. "Tidak, kan? Kenapa kamu tetap menginginkan seorang ayah jika kita berdua masih bisa?"
Gua menatap ibunya dengan mata yang berkaca-kaca. Ini adalah curahan hatinya selama ini yang Guan pendam diam-diam.
"Selama ini Guan sedih lihat Bunda yang harus bekerja keras. Andai ada ayah pasti ayah akan membantu Bunda dan Bunda tidak akan kesusahan seperti ini untuk menghidupi Guan. Guan ingin bekerja tapi kata Bunda dan orang-orang kalau Guan masih kecil. Lagipula Guan bingung ingin bekerja seperti apa untuk membantu Bunda."
"Kamu tidak perlu khawatir sayang. Bunda masih sanggup untuk bekerja dan membiayai kamu. Siapa bilang Bunda tidak sanggup? Apa yang tidak bisa Bunda lakukan?" tanya Capella menenangkan sang anak.
Guan menatap sang ibu yang berbicara sangat serius. Guan menghampiri sang ibu dan memeluk Capella dengan sangat erat.
"Guan bangga punya Bunda."
"Bunda juga bangga punya Guan." Capella menciumi seluruh permukaan wajah Guan hingga anak itu terkikik geli.
_____________
Plakk
Orang yang ada di depan yang baru saja menyerahkan berkas itu memejamkan mata saat sang atasan memukul meja. Ia melirik diam-diam dari sudut matanya menatap sang atasan yang tampak sangat marah dengannya.
"Kenapa sampai ada peretasan data di sini? Kenapa kalian bekerja sangat tidak becus? Apa kalian ingin dipecat, hah?" tanyanya satu-satu pada sang bawahan yang bekerja untuk melindungi cyber.
__ADS_1
Bagaimana ia tidak marah saat data keamanan dari perusahaannya dibobol dan diretas. Selain banyak menimbulkan kerugian tersebarnya data juga membuat khawatir sang atasan.
Ia menghela napas panjang dan mengeluarkan pistol dari sakunya. Anak buahnya itu terkejut dan membulatkan mata. Seketika tubuh mereka bergetar hebat saat moncong pistol itu diarahkan kepada mereka.
"Tuan tolong ampuni kami."
Dor
Mereka langsung menutup telinga saat tembakan itu terjadi. Namun mereka menatap ke belakang di mana peluru itu melesat dan hampir mengenai mereka. Sang atasan sengaja mengancam dengan senjata api.
"Sampai kebobolan lagi, tidak hanya dipecat tapi kalian juga bisa ku bunuh. Keluar!!" perintahnya kepada sang bawahan yang bekerja sangat tidak becus.
Pria itu menghela napas panjang dan membenarkan jasnya. Kemudian ia keluar dari ruangannya dan menuju ke arah ruangan IT.
Ruangan yang dipenuhinya dengan komputer yang bertugas untuk menjaga keamanan perusahaan. Januar memperhatikan pekerjanya yang berusaha melacak orang yang sudah berani-beraninya bermain dengannya.
Sebenarnya tanpa dilacak Januar juga tahu jika itu adalah ulah Mahen. Ia mengetahui itu karena Mahen sudah tertangkap basah beberapa kali menyabotase perusahannya.
Selain itu selama ini Januar menjadi sosok yang sangat dingin. Pria itu bahkan sangat kejam saat tak ada lagi Capella di sisinya. Ia menjalankan perusahaan dengan baik dan mengatasi masalah yang dibuat oleh saudaranya juga sangat baik.
Ia memutuskan untuk mengabdi kepada perusahaan setelah kepergian Capella. Hal itu sengaja ia lakukan untuk membalaskan semua perbuatannya yang menyakiti orang dengan perbuatan baik.
Ia harus menjadi lebih baik agar tidak ada lagi kedepannya orang yang akan ia sakiti.
Mengingat nama Capella membuat Januar kembali mengenang masa lalu. Penampilannya juga jauh lebih dewasa. Capella sering menyuruhnya agar menjadi dewasa dan kini Januar memenuhinya.
"Capella di mana kau sebenarnya? Aku merindukanmu. Aku bisa mencari mu, tapi janji terakhir kali yang kau buat membuatmu harus bertahan dan tidak mencarimu."
___________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA
__ADS_1