
"Bunda! Bangun Bunda!" Guan terus menggoyangkan tubuh Capella yang tertidur lelap.
Capella pun mengerjapkan matanya beberapa kali saat mendapatkan guncangan yang membuatnya terbangun. Wanita itu membuka perlahan matanya dan berusaha beradaptasi dengan sinar matahari.
Capella pun menyentuh kepalanya dan menatap jam di dinding. Seketika matanya membulat dan langsung turun dari ranjang dengan wajah yang panik.
"Bunda! Kenapa kau terlambat bangun? Aku juga jadi ikut terlambat!" Capella menggaruk kepalanya menjawab pertanyaan dari sang anak.
"Maaf! Bunda malam tadi tidurnya telat," ucap Capella seraya menampilkan wajah meringis.
Guan hanya menghela napas panjang dan menekuk wajahnya.
"Bunda! Aku jadi telat!"
"Sayang maafkan Bunda. Baiklah, kita harus bergegas secepatnya. Masih ada waktu kamu ingin terlambat?" Guan menggelengkan kepala dan ia langsung berlari ke kamar mandi.
Tak lama Guan selesai kini giliran Capella. Dan semua perlengkapan Guan kebetulan sudah disiapkan smsuanya olehnya.
Guan pun memakai pakaian sekolahnya dan menunggu sang bunda di luar!
"Bunda cepatlah! Aku bisa telat menunggu mu."
"Sayang sabar sayang!" teriak Capella dan keluar dari dalam kamar mandi terburu-buru.
Melihat wajah panik sang ibunda membuat Guan terkikik. Jarang-jarang melihat ibunya yang garang panik seperti ini.
Capella menarik napas panjang setelah selesai bersiap-siap. Ia menatap sang anak dengan mata yang memicing dan tengah tertawa seolah menertawakan dirinya.
"Apa yang kamu tertawakan?" tanya Capella kepada anaknya seakan ia sedang mengintrogasi anak itu.
Guan yang tidak ingin mendapatkan hukuman dan amukan dari Capella pun menggelengkan kepalanya. Ia berusaha untuk berbohong semaksimal mungkin agar ibunya percaya.
"Tidak. Tadi Guan hanya mengingat hal yang lucu makanya ketawa."
"Kamu pikir Bunda percaya?"
Capella pun mengejar Guan yang lebih dulu berlari sambil tertawa kencang. Pemandangan pagi pun disambut dengan suara riang Guan dan Capella yang marah-marah.
Para tetangga yang memperhatikan pertengkaran itu hanya menggelengkan kepala pasalnya setiap hari pasti ada pemandangan seperti itu.
__ADS_1
Guan lebih dulu masuk ke dalam mobil yang dipesan oleh Capella tadi. Capella pun masuk dan menatap anaknya dengan tajam. Guan terpojok dan ia tak mendapatkan tempat pelarian lagi.
"Hayo kamu mau lari ke mana?" tanya Capella menakut-nakuti Guan.
"Bunda! Guan hanya bercanda. Maafkan Guan."
"Kmu pikir Bunda mu ini baik hati?" Melihat wajah masam Guan pun Capella lantas tertawa. Ia menghela napas panjang dan memeluk anaknya dengan erat. Mana mungkin ia bisa menyakiti sang anak. "Baiklah. Bunda kali ini akan berbaik hati lagi."
"Yey!! Bunda memang paling baik."
"Seru yah punya anak yang sefrekuensi dengan orangtunya. Bisa dijadikan teman main," ucap sang supir taksi yang dari tadi memperhatikan betapa harmonisnya keluarga Capella.
Capella pun tertawa pelan dan memandang sang supir itu. Kebetulan sang supir adalah langganannya dan ia juga sudah sangat akrab dengan mereka.
"Seperti itulah. Dan saya sangat bersyukur punya mereka."
"Semoga selalu bahagia."
"Aamiin." Capella memandang sang anak dengan sendu.
Guan tampak sedang membaca buku pelajarannya. Katanya ada ulangan tapi malah baru membaca buku.
"Ya tau. Tapi Guan malas."
"Guan! Siapa yang mengajarimu seperti itu? Bunda selalu bilang kalau malam belajar!"
"Iya Bunda iya!" kesal Guan yang selalu mendapatkan peringatan semacam itu tiap harinya.
"Kamu ini diingetin tidak boleh seperti itu mukanya. Tidak hormat dengan orang tua."
Guan yang serba salah pun menutup bukunya. Wajhanya tampak terlihat judes. Capella pun menarik napas panjang menatap kelakuan Guan yang mirip dengan seseorang.
___________
Mahen menghirup udara Turki dengan rakus. Ia pun membuka kacamatanya saat keluar dari bandara tersebut dan masuk ke dalam mobil yang sudah menjemput mereka.
Mahen memiliki koneksi yang sangat banyak dibeberapa negara. Sebut saja pria itu semacam mafia.
Senyum di wajahnya tak pudar karena mengingat sebentar lagi ia akan bertemu dengan Capella. Mahen sangat merindukan kekasih kecilnya itu.
__ADS_1
"Di mana alamat pastinya?" tanya Mahen kepada anak buahnya yang kemarin bertemu dengan Capella.
"Belum bisa mendapatkan alamat rumahnya. Tapi saya mendapatkan alamat tempat kerjanya, apa kita akan langsung ke sana?"
Mahen pikir jika langsung ke sana rasanya sangat terburu-buru. Bagaimana juka Capella akan syok melihatnya. Ia harus memikirkan rencana agar bisa bertemu dengan Capella secara baik-baik.
"Tidak! Kita ke penginapan dulu."
"Baik Tuan."
Mobil pun diarahkan ke tempat penginapan. Sementara di mobil lain ada Ming Tian yang mengawal mereka di belakang. Ming Tian menjadi bawahan Mahen yang sangat setia.
Mahen pun menatap ke arah jalanan. Begitu ramai penduduk di sini. Tak lama sampailah mereka di tempat penginapan.
Mahen keluar dari dalam mobil. Banyak pasang mata mengarah padanya karena memang Mahen sangat menarik perhatian dengan penampilannya yang sangat memukau dan selain itu pria itu juga mengenakan setelan jas berwarna hitam yang membuatnya sangat berwibawa.
Banyak wanita yang tercengang dan Mahen hanya tersenyum miring. Jika banyak orang yang terpana dengannya dan ia harap Capella juga sama seperti mereka ketika menatapnya.
Ia pun masuk ke dalam kamarnya. Ming Tian pun turut serta di dalam sana. Ia pun menyerahkan beberapa berkas mengenai data diri Capella yang didapatkan setelah meretas keamanan data di Turki.
Mahen melirik sekilas Ming Tian lalu membaca semua data itu. Yang belum didapatkan secara pasti adalah nomor ponsel dan juga alamat. Data yang ditemukan hanyalah data dasar dan tidak terlalu penting.
"Kenapa hanya ini?"
Ming Tian pun maju selangkah untuk menjelaskan. "Entah kenapa keamanan pada data Capella sangat tinggi."
Mahen pun berpikir sejenak. Apa ada orang yang melindungi Capella dari belakang.
"Apakah menurutmu ini perbuatan Januar?"
"Saya rasa tidak. Tampaknya ini adalah kemanan yang ditingkatkan oleh Capella sendiri. Tampaknya hidupnya sangat tersembunyi dan keamanan datanya tidak mudah disentuh."
"Bagaimana mungkin? Capella adalah orang yang tidak mengerti dengan komputer. Aku rasa memang ada orang yang melindungi keberadaannya."
___________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.
__ADS_1