Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku

Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku
Part 40


__ADS_3

Setelah mendapat telpon dari pembantu di rumahnya Januar yang sibuk bekerja di luar langsung bergegas pulang ke rumah. Laki-laki itu sangat terkejut ketika mendapatkan berita itu dan kekhawatiran Januar tak bisa dibendung. Wajahnya tampak sangat gelisah sepanjang jalan.


Januar tidak akan memaafkan siapapun yang sudah meneror keluarga kecilnya. Tangan pria itu terkepal namun tubuhnya juga menunjukkan ada Rekasi takut. Januar tidak takut kepada pembunuh itu tapi ia takut orang dicintainya akan mendapatkan kejadian yang mengenaskan.


Januar keluar dari dalam mobil sambil membanting pintu mobil tersebut. Langkah pria itu sangat terburu-buru menuju teras rumahnya.


Tanpa menyapa untuk orang rumah terlebih dahulu Januar langsung menerobos pintu utama dan berlari menuju kamarnya. Pikiran Januar sudah kosong ia tak memikirkan lagi bagaimana dirinya yang akan mendapatkan bahaya ketika menaiki tangga rumah yang sangat tinggi dengan cepat.


Pria itu membuka pintu dan menghela napas lega saat melihat sang istri tengah termenung di meja rias. Januar tersenyum lalu kemudian menghampiri istrinya tersebut.


Ia memeluk Capella dari belakang dan penuh dengan rasa kasih sayang. Sedikit hati Januar tenang melihat istrinya baik-baik saja. Sementara itu Capella terkejut saat tiba-tiba ada sebuah tangan yang melingkari perutnya.


Tapi ketika ia menyadari siapa pelakunya membuat Capella sedikit bernapas lega saat tahu jika itu adalah suaminya. Capella berbalik dan membalas pelukan Januar. Tak terasa air matanya jatuh. Capella sangat ketakutan dan saatnya untuk Januar melindungi Capella sebagai bukti cintanya.


"Sayang, kamu tenang saja. Selama ada aku tidak ada yang bisa menyakiti kamu." Januar menyakinkan Capella. Ia berjanji akan menjaga Capella dengan sungguh-sungguh.


"Hiks... Aku takut... Aku takut kamu juga kenapa-kenapa... Dan aku juga takut anak kita, hiks. Anak kita akan...." Januar langsung menutup bibir Capella yang mengeluh tersebut dengan sebuah ciuman.


Ia memperdalam ciuman tersebut dan merangkuh tubuh Capella dengan sangat erat. Seakan Januar mentransfer energi melalui ciuman tersebut.


Januar membuka matanya dan ia melihat mata Capella yang jauh terlihat tenang dari pada sebelumnya. Januar mengusap kening wanita itu dan mengecupnya.


"Jangan berpikiran jauh. Kamu pasti aman. Jangan khawatir, aku akan berusaha mencari tahu siapa yang sudah berani mengancam keluarga kita."


Capella mengangguk dan ia percaya dengan suaminya. Mendapatkan kepercayaan penuh dari Capella membuat Januar sangat bahagia. Laki-laki itu tersenyum lebar lalu memandang tepat ke arah perut Capella.


Januar menghela napas pelan dan kemudian menyentuh perut itu sembari mengusapnya dengan sangat lembut.

__ADS_1


Capella ikut tersenyum terbawa suasana. Ia memandang wajah Januar yang benar-benar terlihat serius tengah menatap takjub ke arah perutnya. Dan kini Capella pula yang terpana dengan ketampanan Januar.


Ia terus menatap wajah Januar yang memiliki tekstur yang sangat unik. Januar berhenti mengusap perut Capella saat ia merasa jika dirinya tengah diperhatikan. Januar mengangkat kepalanya hingga matanya dan mata Capella bertemu pandang.


Capella yang sadar jika dirinya tertangkap basah pun lantas menggelengkan kepala menyadarkan dirinya sendiri. Ia sangat malu saat ketahuan seperti ini.


"Kenapa berhenti? Kamu boleh sepuasnya natap aku."


Capella meneguk ludahnya dengan susah payah. Wanita itu menyengir dan melepaskan diri dari Januar. Ia berjalan pelan menuju toilet. Sementara itu perempuan tersebut terus merutuki dirinya sendiri yang lepas kendali.


Januar yang menatap itu hanya terkekeh gemas. Mimpi apa dia bisa seberuntung itu menikahi wanita cantik dan juga sangat menggemaskan seperti Capella.


Dulu ia terlalu naif sempat menolak Capella mentah-mentah. Padahal pada saat itu ia juga diam-diam mengagumi Capella, tapi sayangnya dahulu gengsinya yang lebih mendominasi hingga ia terus menolak kenyataan tersebut. 


__________


Dia sudah gila. Delisha haus dengan darah, darah Capella tentunya. Orang yang tersakiti pada akhirnya ingin membalas semua dendamnya. Penjahat rata-rata adalah orang yang pernah dikecewakan dan tidak dianggap.


Seperti dirinya saat ini. Delihsa sama seperti bukan dirinya. Penampilannya yang sangat berantakan dan juga penuh dengan aura hitam membuat ia bak seorang iblis.


Dleihsa tidak takut jika dirinya akan ditangkap atas kejahatannya. Yang terpenting ia tak pernah menyesali perbuatan yang ia lakukan dan merasa puas sudah mencelakai Capella.


"Kalian pikir aku akan membiarkan kalian setelah kalian menghina ku begitu kejam?" tanya Dleihsa kepada angin lalu yang ia anggap seolah-olah itu adalah musuhnya. "Ini semua salah mu Januar. Kau yang sudah membuat aku seperti ini. Jika suatu hari kau menyalahkan aku, maka salahkan dirimu terlebih dahulu. Kau kejam, kau membuatku merasakan sakit yang seharusnya tidak ku rasakan. Masa depan ku cerah tapi kau dengan teganya malah membuat hidup ku suram."


Delihsa menangis tersedu-sedu. Setelah itu ia akan tertawa. Persis orang yang terkena gangguan jiwa. Memang jiwanya sedikit terguncang, apalagi mentalnya. Ia tak memiliki tempat kembali karena di rumah pun ia memiliki masalah dengan keluarganya. Alhasil Dleihsa pun hidup sendiri dan juga bertahan sendiri.


Maka dari itu Delisha hidupnya tidak terarah. Dan ketika ia dalam kondisi seperti ini tak ada yang menyadarkannya. Wanita itu menghela napas panjang dan berjalan gontai menuju ruang utama. Ia terdiam dengan mata yang begitu jelas terlihat hitam akibat ia sering menangis dan juga begadang.

__ADS_1


"Semua yang terjadi di sini adalah karena keegoisan kalian." Delisha sama sekali tidak ingin mendengar cerita aslinya kenapa Januar bisa menikah dengan Delisha.


Sementara Capella jelas tidak ada niat untuk membuat Delisha menjadi seperti ini. Ia juga dipaksa oleh keadaan. Namun Delisha tidak mau tahu, yang pasti ia sudah terlanjur sakit hati. Memburukkan Januar di depan media hingga jutaan hujatan yang dilayangkan kepada Januar tak juga membuat Delisha puas.


Ia ingin nyawa Capella. Hal nekat ini tentunya menjadi sebuah tantangan yang sangat besar oleh Delisha. Dari segi taruhannya pun sudah sangat luar biasa. Jeruji besi juga akan mengintai dirinya.


Tok tok tok


Delihsa mengernyitkan keningnya saat terdengar ketukan pintu di luar. Wanita itu pun keluar dengan kondisi seperti itu. Kira-kira siapa yang sudah datang bertamu ke rumahnya sementara ia tak memiliki mood sama sekali untuk menyambut tamu.


Dleihsa membuka pintu dengan kasar.


"Siapa sih yang datang! Bikin ribet aja lo!"


Namun Delisha terdiam saat mendapati sosok misterius yang tengah bersandar di tembok. Sosok itu mengenakan jaket dan juga topi. Ia tak mengangkat wajahnya sama sekali hingga membuat singnyal tanda bahaya di tubuh Delisha pun aktif.


Ia cepat menutup pintu namun tangan Delisha ditahan oleh sosok itu saat ia belum sempat menutup pintu tersebut.


Delihsa terpekik dengan napas yang terengah-engah. Jantung Delihsa berdetak sangat cepat karena dipenuhi dengan ketakutan.


"SIAPA LO!! LEPASIN GUE! TOLONG!!"


"DIAM!" suara dingin yang dikeluarkan oleh sosok itu membuat Delihsa syok dan ingin pingsan di tempat. Apalagi saat sosok tersebut memperlihatkan wajahnya.


___________


Tbc

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.


__ADS_2