
Setelah pertengkaran yang sempat terjadi beberapa waktu lalu membuat Capella terdiam dan hanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Baru kali ini ia mendengar bentakan Januar setelah ia dan pria itu memutuskan untuk saling membuka hati. Ia tahu Januar pasti sangat kecewa padanya. Hal itu terlihat dari wajah Januar yang merasa sedih dan juga menunjukkan kekecewaan yang sangat besar.
Mengingat perundungan yang juga didapatkan Capella dari Delisha cukup mengguncang batin wanita itu. Ia selalu merasakan ketakutan setiap mengingat peristiwa itu. Capella belum cukup berani untuk menceritakannya pada siapapun.
Januar sebenarnya belum tidur. Capella tak mengetahui hal itu dari tadi ia kalut dengan pikirannya sendiri.
Januar pun mulai berpikir apa yang telah menyebabkan Capella seperti ini. Ia tahu sesuatu telah terjadi, tapi Januar masih bertanya-tanya peristiwa apa yang telah dialami oleh Capella hingga membuatnya tampak ketakutan dan juga kelelahan.
Januar memandang Capella dengan sudut matanya. Namun wanita itu yang juga berpindah posisi menghadapnya sangat terkejut ketika tahu bahwa Januar belum tidur.
"Januar, aku pikir...."
"Bocah ini belum tidur. Kenapa? Orang yang lebih tua harus menidurkan bocah, kan?" tanya Januar seolah tengah menyindir Capella.
"Januar. Berhentilah. Kamu sudah mengerjakan tugas? Kenapa belum tidur?"
"Gue gak bisa dan gak ngerti sama tugasnya." Dengan entengnya Januar menjawab pertanyaan Capella.
Capella menghela napas dan tersenyum lebar. Ia mengusap kepala Januar seolah-olah pria itu adalah adiknya.
"Januar, kamu sudah besar. Sudah seharusnya kamu memimpin perusahaan. Manajemen membantu kamu untuk menjadi pemimpin yang baik. Nasib perusahaan Papa ada di tangan kamu."
"Kamu udah mulai kaya papa," sindir Januar dan menghela napas panjang. "Hentikan percakapan ini. Aku muak mendengar semua orang mengatakan itu."
Capella merutuki dirinya yang lagi-lagi berkata salah hingga membuat Januar marah padanya. Capella merasa jika dirinya ini tidak berguna di sisi Januar.
"Maafkan aku. Untuk kesekian kalinya aku buat salah ke kamu."
"Sekarang udah tau kan salahnya di mana? Jadi harap pengertiannya," ucap Januar dan berbalik. Capella mengangguk tanpa diketahui oleh Januar.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi. Mahen? Bagaimana mungkin aku berhenti untuk memikirkan Mahen. Dia adalah cinta pertama ku, setelah mendengar ceita Mahen, aku merasa ada sebuah konspirasi di belakang masalah ini. Tidak mungkin Mahen melakukan perbuatan itu tanpa sebab, tapi siapa yang sudah menjebak Mahen? Kenapa dia menjebak Mahen? Apa motifnya? Dan kenapa setalah itu semua terjadi pada Mahen aku ikut terseret dalam banyak masalah hingga bertemu dengan Delisha," batin Capella yang sedang mencoba memecahkan semua masalah itu.
Wanita itu mendesah panjang dan mencoba untuk memejamkan mata. Ia seakan tutup telinga dan berusaha mengabaikan suara hatinya yang terus mendesak Capella.
Ketika Capella telah berhasil hanyut dalam mimpi tiba-tiba ia terbangun saat merasakan pelukan erat dari Januar yang sangat posesif.
Januar mendekatkan mulutnya di telinga Capella dan membisikkan sesuatu yang membuat Capella meremang.
"Berhentilah memikirkan sesuatu yang tak harus kau pikirkan Ella, jika kau tidak ingin sesuatu terjadi. Kebenaran itu menyakitkan jadi terima dengan lapang dada. Yang perlu kau patuhi kau harus jujur pada ku. Aku memang seorang bocah di mata mu, tapi nyatanya bocah ini berhasil membuat mu tak berdaya di atas ranjang," ucap Januar dengan nada yang sensual dan menjilat telinga Capella.
Capella membuka matanya. Jarak ia dan Januar sangat dekat dan hampir tak ada jaraknya. Januar menatap mata Capella yang memerah.
"Januar. Kamu tahu jika kamu sudah hampir dewasa, berhenti mengucapkan kata-kata itu."
"Ella, katakan siapa yang sudah membuat mu menangis?"
"Tidak ada."
"Aku tahu kau berbohong pada ku."
__ADS_1
Nyatanya kebenaran yang ia simpan tak bisa terelakkan lagi. Januar terus memaksanya untuk mengakui semuanya.
"Delisha?" Nyatanya setelah mendengar nama Delisha disebut Capella langsung mengeluarkan air mata yang hingga membuat Januar dengan mudah menyimpulkan. "Ella, aku tahu kamu sedih, aku akan membalaskan dendam mu."
"Januar jangan. Aku tidak dendam."
"Kau terus seperti ini dan rela diolok-olok mereka di depan mata mu sendiri. Kamu tidak tahu harga diri?"
"Januar, jika kamu benar-benar mencintai ku berhenti untuk membalas dendam. Justru apa yang kamu lakukan malah menambah masalah."
Januar tak peduli dan memejamkan matanya. Ia memeluk Capella dengan erat seakan wanita itu bantal guling. Capella menghela napas dan terpaksa menyusul Januar.
"Aku harap kamu tidak sungguh-sungguh dengan ucapan mu."
__________
Januar secara resmi sudah dilantik sebagai CEO dari perusahaan SN Group yang bergerak di bidang pertambangan.
Pria itu menjadi pemimpin perusahaan selanjutnya. Banyak yang menentang Januar dengan reputasi laki-laki itu yang buruk. Di mana Januar juga sedang mendapatkan skandal bahwa ia berselingkuh dari model cantik Delisha.
Namun berkat Hengky yang berusaha untuk meyakinkan para investor dan juga karyawan lain Januar pun resmi dilantik sebagai CEO baru.
Capella bertepuk tangan saat Januar menanda tangani surat resmi perpindahan kepemimpinan. Sedangkan Capella juga sudah bekerja di pusat sebagai seorang sekretaris.
Karena ia memiliki bakat cakap berbicara dan juga menulis membuatnya diangkat menjadi sekretaris pusat. Capella mendapatkan kabar itu juga sangat syok. Yang ia belum ketahui siapa bos yang akan ia dampingi nanti.
"Selamat," ucap para undangan memberikan salam selamat kepada Januar.
Capella merasa bangga dengan hasil kerja keras Januar. Ia bertepuk tangan saling bahagianya melihat pria itu berhasil menaklukkan para undangan.
"Januar, kamu benar-benar keren."
"I know."
Tidka ada yang tahu sama sekali jika Capella adalah istri Januar. Hanya orang-orang tertentu. Mereka menganggap Capella hanyalah salah satu karyawan.
"Ella, ke belakang?" tanya Januar meminta pendapat.
"Ada apa? Kenapa di belakang?"
"Ikut dengan ku jika ingin mengetahuinya."
Capella mengangguk dan meraih tangan Januar. Perayaan ini dirayakan dengan sangat meriah. Januar juga sudah menyiapkan sesuatu untuk Capella.
Ketika melihat ada apa yang terjadi di taman belakang membuat Capella tak bisa mengungkapkan perasaannya secara langsung.
"Januar kamu yang membuat semua ini?"
"Yeah."
__ADS_1
Pemandangan yang sangat indah dengan lampu hias yang memenuhi serta juga dengan dekorasi yang sangat indah. Tiba-tiba Januar berlutut di depan Capella. Ia menyodorkan sebuah kotak yang berisi cincin. Capella menutup mulutnya.
"Januar apa maksud semua ini?"
"Ella. Mungkin ini terlambat. Aku baru menyadari perasaan ku, dan aku juga sudah terlambat untuk benar-benar melamar mu." Capella ingat saat Januar melamarnya semuanya penuh dengan perasaan sakit dan juga hinaan dari pria itu. "Will you marry me?" tanya Januar kepadanya.
Capella tak perlu ditanya lagi. Apalagi mereka sudah menikah, pastilah ia akan menerima tawaran Januar.
"Yes, i will."
Januar tersenyum lebar dan langsung memakaikan cincin pernikahan itu kepada jari manis Capella. Capella juga menyematkan cincin di jari manis Januar.
Januar memeluk tubuh Capella dan mencium bibir wanita itu. Ciuman tersebut sangat dalam hingga membuat Capella merasa sangat terbuai. Namun suara teman-teman Januar yang baru saja datang pun menghentikan ciuman mereka.
"Owalah nikah dengan pembantu?" tanya Bonge sebab setahu cowok itu jika Capella adalah pembantu Januar. "Pantas putusin Delisha."
"Bonge," peringat Satria pada pria tersebut.
"Kan emang bener."
Januar menghela napas dan memeluk tubuh Capella yang sangat malu.
"Kenapa kalian bisa ada di sini?"
"Rencana cariin lo dan gak sengaja liat adegan romantis antara majikan dan pembantu."
Januar memutar bola matanya.
Ia menatap Pangeran yang tengah memperhatikannya. "Pangeran kenapa lo natap gue kaya gitu?' tanya Januar.
"Di luar sana Delisha depresi."
"Oh." Kemudian Pangeran mendekatkan bibirnya di telinga Januar seolah tengah membisikkan sesuatu yang sangat penting.
"Gue tau dia mantan Mahen. Gue tau apa maksud lo dengan semua ini. Gak semua cewek bisa lo mainin. Dan Januar, dia terlalu polos untuk masuk ke dalam lingkaran lo."
Januar mendesis dan membalas bisikkan Pangeran.
"Berhenti ikut campur jika kau tidak ingin kenapa-kenapa. Dan lo jangan sok tau dengan perasaan gue. Gue emang mulai membuka hati untuk Ella."
"Tidak ada yang lucu. Gue tau rencana lo. Semuanya tidak harus pake otak tapi juga pake hati. Lo terlalu kejam."
Januar menatap tajam Pangeran seolah memberi tanda peringatan besar.
"Wih ada apa nih? Kok bisik-bisik," sindir Bonge. Capella juga mengkhawatirkan hal yang sama. Setelah mereka berbisik tampak ada yang janggal di antara keduanya.
______
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.